Syamsari Kitta dan Jerami yang Dibakar

Pada sambutan Bupati Takalar, H. Burhanuddin Baharuddin, pada panen raya di Galesong pertengahan Maret lalu, beliau menyampaikan beberapa laporan penting. Salah satu yang saya catat adalah total lahan pertanian di Takalar seluas 20.100 Ha. Setiap hektar sawah menghasilkan 6,5 ton gabah. Saya tak tahu bagaimana menanggapinya, apakah hal itu sesuatu yang luar biasa?

Tapi lupakan pertanyaan itu, lupakan juga soal gabah. Saya ingin kita memikirkan bagaimana perlakuan petani terhadap jerami, salah satu limbah pertanian yang saat ini hanya dibakar. Di musim panen, lahan pertanian tidak lebih dari medan peperangan atau sebuah perkampungan yang dibumi hanguskan. Asap membatasi jarak pandang, wajah kita tak mampu menunjukkan ekspresi cerah akibat gangguan asap.

Syamsari Kitta dan Ide Pengolahan Limbah Jerami
Petani mulai membakar jerami yang menumpuk (Dok. Pribadi)


Misalnya Mario, kampung saya, setelah panen, para petani membakar jerami yang menumpuk. Di sore hari, saat langit mendung, angin berhembus segar, dan asap berseliweran menyembunyikan apa saja di hadapan, begitulah gambaran kampungku. Kampung Mario tampak seperti sebuah padang savana yang diselimuti kabut tebal yang sejuk dan indah. Pemandangan ini selalu mengingatkan saya akan lembah Ramma dan Ranu Kumbolo. Sungguh indah dan damai.

Sedikit cerita, pernah di satu waktu saya disuruh oleh bapak untuk menebarkan jerami yang menumpuk di sawah, kali itu jerami tidak dibakar saat menggunung, tapi perlu ditebar hingga menutupi permukaan sepetak sawah, barulah dibakar. Jujur, ini pekerjaan yang melelahkan bagi apalagi membuat kulit jadi gatal, apalagi sayang sekali jika tumpukan jerami yang empuk harus dibakar. Padahal tumpukan jerami sangat asik menjadi pijakan atau alas saat latihan salto, hahahaha

Hingga akhirnya pada babakan lain dari kisah hidupku, saya mulai mengerti bahwa limbah bisa didaur ulang, bukan diputus siklusnya dengan pemusnahan atau pembakaran. Kala itu, saya melihat beberapa teman mempraktekkan pembuatan pupuk kompos dan pembuatan silase untuk pakan ternak yakni sapi. Kesadaran bahwa limbah sangat berharga saat didaur ulang sebagai mata rantai pertanian alami berawal saat saya mengikuti Kuliah Kerja Nyata Pembeajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) di Ngantang, Kabupaten Malang.

Memang tak ada bahan jerami pada praktek pembuatan kompos dan silase kala itu. Tetapi saya bisa menangkap bahwa banyak limbah pertanian, limbah perkebunan, limbah pasar, limbah rumah tangga yang masuk dalam kategori limbah organik, bisa dimanfaatkan dan sangat besar peranannya.

KKN PPM yang saya ikuti, fokus pada bidang peternakan. Kami membicarakan ketersediaan pakan ternak di musim kemarau, membicarakan pemanfaatkan kotoran sapi sebagai kompos, membicarakan susu yang ditolak koperasi agar diolah menjadi sabun atau permen agar kembali bernilai ekonomi, serta membicarakan biogas.

Syamsari Kitta dan Ide Pengolahan Limbah Jerami
Buruh tani menyela kerjanya dengan berburu burung roya-roya (Dok. Pribadi)

Saya yang hanya mahasiswa ilmu sosial dalam kerumuhan mahasiswa pertanian & peternakan, tentu tak paham akan semua yang dilakukan pada KKN PPM tersebut. Tapi saya memperhatikan dan mendapatkan ilmu yang banyak. Bayangkan kawan, tahi sapi cukup membantu manusia sehingga untuk menanak nasi, menggoreng pisang, dan mendidihkan air untuk segelas kopi, cukup dengan api dari biogas.

Bukan hanya itu, tahi sapi bahkan menerangi malam dengan cahaya lampu petromaks, Sungguh luar biasa.

Saya bilang ke teman: “Sialan, tahi sapi ini lebih berharga dari susu dan dagingnya!”. Teman-temanku hanya cekikikan menanggapi keherananku.

Pelan-pelan semangat bertani terpatri dalam diriku. Sekeren-kerennya jurnalis menenteng kamera, merekam wawancara dan menyiarkan berita, jauh lebih keren petani yang menenteng cangkul, membajak sawah, menanam, memanen dan menikmati pisang goreng bersama kopi hitam di pematang sawah.

Pada momen KKN PPM itulah, saya mulai berfikir bahwa pengolahan limbah inilah yang akan menjadi oleh-olehku dari rantau pulang ke kampung. Eureka !!!

Mungkin begitulah anak rantau, ada satu nilai yang perlu ditemukan lalu dibaktikan di kampung halaman. Akhirnya saya tak sabar ingin pulang kampung, jadi petani. Hahahhay

Di tahun 2012 (sebelum dilaksanakan KKN PPM pada bulan September), saya sempat kembali ke kampung untuk menikmati liburan. Disitulah saya melihat wajah Syamsari Kitta untuk pertama kalinya. Wajahnya tercetak pada selembar banner kecil dan tertempel pada batang pohon lontar di sisi jalan, sebagai media sosialisasi alias kampanye.

Syamsari Kitta
Syamsari Kitta dan Hamzah Barlian. Sepaket pada Pilkada Takalar 2012 (Foto pksmakassar.or.id)

Saya senang melihat senyumnya. Sangat khas dan tak bosan untuk menatapnya berlama-lama, bahkan mudah untuk dikenang. Sehingga jika seseorang menyebut nama Syamsari Kitta, maka senyum anak muda Galesong inilah yang pertamakali terkenang, senyum yang sangat membekas di benakku.

Senyum itu mungkin bisa menjadi nilai jualnya dengan membuat slogan pemenangannya kelak untuk 2017: SENYUM PERUBAHAN. Menyongsong Takalar baru dengan Penuh Senyuman.

Jika diperhatikan dengan seksama, wajah Syamsari Kitta tidak lebih ganteng dari wajahku, hanya saja ia beruntung punya senyum perubahan (Jangan pedulikan dua kata ini, hanya untuk menggulai saja agar lebih manis dibaca), sementara wajahku yang lebih ganteng dirusak oleh senyum yang menyedihkan, ahhh ada gigi gingsul yang menonjol secara brutal diantara bibirku. Aduhhh

Baik, Pilkada Takalar 2012 adalah masa pertamakali saya tahu nama dan wajah Syamsari Kitta, sekalipun hingga sekarang tidak pernah berjumpa. Oia, momentum Pilkada tahun itu tidak ada hubungannya dengan KKN PPM yang kuikuti pada tahun 2013. Bahkan tak ada hubungannya dengan Syamsari Kitta, sama sekali tidak ada.

Akan tetapi, menjelang Pilkada 2017, dimana Syamsari Kitta akan kembali bertarung, saya ingin menghubung-hubungkan semangat pengolahan limbah yang terpatri dalam diriku dengan momentum Pilkada, terkhusus pada Syamsari Kitta. Sebenarnya kontestan lain juga perlu saya hubung-hubungkan karena jangan sampai Syamsari Kitta hanyalah kontestan, bukan pemenang, maka gagasan ini akan memental pada akhirnya.

Perlu juga saya jelaskan, sekalipun tulisan ini fokus pada sosok Syamsari Kitta, bukan berarti saya adalah pendukungnya, bukan! Atau lebih tepatnya belum menobatkan diri sebagai pendukung atau pemilihnya. Saya hanya senang saja dengan senyumnya. Dalam hal dukung-mendukung, saya sendiri masih bingung, apakah saya perlu memanfaatkan potensi keilmuan saya di bidang ilmu komunikasi (Khususnya manajemen komunikasi massa atau komunikasi politik) dengan menjadi tim pemenangan salah satu calon, atau memilih untuk menghindari pertarungan dan fokus pada pembentukan bargaining position saya saja secara personal maupun kelembagaan.

Lalu mengapa Syamsari Kitta?


Kawan-kawan para pembaca catatan yang panjang lebar ini. Entah apakah anda punya hak pilih atau tidak di Pilkada Takalar. Catatan ini perlu dilepaskan dari sensitifitas pilihan politik anda.

Syamsari Kitta dan Ide Pengolahan Limbah Jerami
Seorang petani dalam perjalanan pulang, melewati asap yang membatasi jarak pandang. (Dok. Pribadi)


Begini alur fikir di kepala saya: Beberapa saat sebelum panen musim ini, saya bergembira hati. Memang, jatah gabah yang akan saya dapatkan pada panen kali ini tidak seberapa, status saya hanya buruh tani biasa saja, sekalipun orang tua dan kakek saya punya beberapa petak sawah. Namun, karena perolehan gabah yang sedikit itu, saya membakar kembali semangat mengolah limbah pertanian saja. Saya bisa memanfaatkan sekam hasil penggilingan padi, mengolahnya menjadi arang sekam, dan pelan-pelan membuat briket arang sekam saat perlengakapannya tersedia.

Setelah beberapa kali saya membakar sekam, alhamdulillah ada yang membeli. Kedepannya, saya ingin memperluas penawaran, memperpanjang jalur promosi, kemana-mana, bahkan saya berencana mengampanyekan urban farming Makassar agar saya bisa mendistribusikan produk arang sekam. Alhamdulillah saat saya cek, urban farming di makassar diwujudkan dengan pertanian sistem hidroponik, ada beberapa komunitas di Makasssar yang sudah saya ceklis.

Pengolahan limbah sekam padi berjalan pelan tapi pasti. Insya Allah !

Lalu bagaimana dengan jerami? Limbah pertanian yang lebih banyak dibandingkan arang sekam. Saya mempelajari potensinya dan sepertinya luar biasa jika kita memanfaatkannya. Jika bisa diolah, mengapa harus dimusnahkan?

Syamsari Kitta dan Ide Pengolahan Limbah Jerami
Petani mengais jerami untuk ditumpuk dan dibakar. (Dok. Pribadi)


Di beberapa daerah di Jawa, sebagaimana berita yang saya baca, jerami banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi atau diolah menjadi kompos, sebagai media tanam, bahkan menjadi produk kerajinan. Sementara di Jepang, tak heran lagi, jerami banyak digunakan sebagai tikar alas duduk (tatami), matras, sandal jerami, dll.

Sayangnya, kita malah membakar jerami yang berhamburan di lahan pertanian yang luasny mencapai 20.100 Ha. Padahal dengan mengolah limbah jerami, akan hadir lahan pekerjaan baru.

Nah mari mencocok-cocokkan pengolahan limbah jerami dengan Syamsari Kitta. Hal yang menarik dari Syamsari Kitta adalah salah satu programnya membagikan seekor sapi untuk satu keluarga. Saya membaca berita di tribun yang terbit pada tahun 2012, Syamsari Kitta membagikan 200 ekor sapi. Sekarang, dari beberapa informasi di media sosial, program bagi-bagi sapi akan dilakukan lagi pada tahun ini (Atau saat menang Pilkada?).

Dalam artian, pengembangan peternakan sapi di Takalar sangat potensial. Hal krusial di dunia peternakan adalah ketersediaan pangan, dan jerami di takalar saya kira mampu mencukupi kebutuhan pangan sapi hingga ribuan ekor. Saya tidak tahu bagaimana cara menghitung rasionya, namun intinya adalah olahlah limbah jerami menjadi pakan ternak lalu datangkan sapi sesuai kesiapan atau ketersediaan pakan sapi.

Syamsari Kitta tentu lebih tau mengenai hal ini, alasannya karena ia merupakan lulusan IPB (sempat menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB 1995-1996). Sementara dibandingkan dengan pengetahuan saya akan pengolahan limbah pertanian untuk menunjang kelangsungan ternak tidak ada apa-apanya, saya tak tahu apa-apa.

Syamsari Kitta dan Ide Pengolahan Limbah Jerami
Kompak menyelesaikan pekerjaan! (Dok. Pribadi)

Belum lagi, Syamsari Kitta merupakan Magister Managemen lulusan Unhas, sehingga tak ada salahnya saya berasumsi bahwa tentu ia tahu cara membagun formasi/managemen pengolahan limbah ini berlangsung, bagaimana penataan dan segala macam hal yang perlu dilakukan untuk mensukseskan penggemukan ribuan ekor sapi dengan memanfaatkan jerami.

Ahhh tentu tak ada salahnya jika sedikit berlebih-lebihan. Mari...

Bayangkan jika Takalar punya pengolahan pakan sapi berbahan jerami, mungkin bisa dieksport ke Australia, benua yang dikenal dengan hewa kanguru, namun populasi sapinya lebih banyak. Saya kira ini bukan hal imposibel. Apalagi Syamsyari Kitta punya CV. Irma Pratama (Eksportir), entah usaha ini mengekspor barang apa (mohon maaf saya tidak kenal anda dengan baik, hanya dari media saja). Saya yakin Syamsari Kitta adalah orang yang luar biasa.

Kalaupun jerami kurang ampuh sebagai produk eksport, toh kita bisa memperlakukannya sedemikian rupa agar kaya protein dan nutrisi, mungkin bisa dibumbui dengan daun gamal atau azola yang kaya protein (sebagaimana beberapa artikel yang saya baca).

Untuk kondisi peternakan di Takalar sendiri, saya rasa akan asik membayangkan ribuan sapi berhamburan di padang-padang rumput di kecamatan Marbo. Daripada lahan tidur disana ditanami sawit, mungkin akan lebih keren jika disulap menjadi area penggembalaan sapi. Untuk ide ini, mungkin bisa diteliti potensi pengembangan lokasi penggembalaan sapi disana.

Syamsari Kitta dan Ide Pengolahan Limbah Jerami
Tak peduli polusi.. Anak-anak tetap menikmati sore dengan bermain layang-layang. (Dok. Pribadi)


Sementara itu, kesuburan tanah di area penggembalaan perlu diperhatikan juga. Nah, kebetulan jerami padi selain dimanfaatkan sebagai pakan sapi, pun bisa diolah menjadi kompos sebagai pupuk alami lahan penggembalaan nantinya.

Di masa depan, saat kita (Takalar) punya ribuan ekor sapi, entah berapa besar potensi Takalar menghasilkan biogas, berapa banyak keluarga yang bisa menikmati nasi yang ditanak dengan api yang bersumber dari tahi sapi. Lalu ampas biogas mungkin bisa dimanfaatkan kembali menjadi pupuk. Tak terlewatkan, minimnya distribusi pasokan listrik ke Laikang mungkin bisa teratasi dengan menggunakan lampu biogas (lampu petromaks).

Akhirnya, dari rangkaian pengolahan jerami padi ini, Takalar bisa punya ribuan ekor sapi, lahan tidur bisa dimanfaatkan sebagai area penggembalaan, Takalar bisa menikmati biogas, memproduksi kompos, dan tentu saja daging sapi.

Rangkaian pengolahan limbah jerami tersebut mungkin bisa dirangkum dalam satu slogan: Dari jerami padi menjadi semangkuk coto yang nikmat. Inilah berkah yang perlu dikejar, mungkin menjadi satu hal dari semangat Baldatun tayyibatun Warabbun Ghafur.

Bisakah Syamsari Kitta mewujudkan Takalar yang begitu?


Syamsari Kitta dan Ide Pengolahan Limbah Jerami
Lubna Adawiyah dengan latar belakang asap pembakaran jerami. (Dok. Pribadi)

Ahhh Sebagai sarjana pertanian dan master managemen dari kampus bergengsi, Syamsyari Kitta mungkin hanya tersenyum-senyum saja dengan ide “bodoh” saya ini. Disiplin ilmu saya memang bukan pertanian/peternakan, melainkan ilmu komunikasi, namun di kampus saya dulu, saya belajar tentang Komunikasi pembangunan (sekalipun orientasi pembangunannya adalah perkotaan, tapi apa salahnya saya merancang pembangunan pedesaan saja, hahaha), saya belajar mengenai proses inovasi, sehingga saya sering terdorong untuk merancang dan berinovasi.

Lalu apakah ide pengolahan jerami ini adalah inovasi? WOW, Syamsari Kitta mungkin akan tertawa saat menganggap catatan ini sebuah inovasi, musababnya karena membangun rangkaian pengolahan jerami hingga menjadi semangkuk coto bukanlah inovasi, ilmu peternakan sudah menjelaskan itu, sarjana pertanian/peternakan tentu saja mafhum soal pengolahan limbah pertanian dan segala tetek bengeknya.

Tapi saya suka melihat Syamsari Kitta tertawa (termasuk menertawakan catatan jelek ini).

Di akhir, saya haturkan salam damai dari kampung Mario. Kusampaikan permohonan maaf penuh ampun yang besar jika catatan panjang ini membuat kawan-kawan pembaca penat dan kaku persendiannya. Terima kasih untuk kesempatan anda membacanya.

Terkhusus pada tokoh dalam tulisan ini, saya pun memohon maaf jika catatan ini tidak ada gunanya, tak berarti apa-apa, malah merugikan. Sekali lagi, saya hanyalah orang biasa yang mencoba berinovasi, berbagi ide konyol. Ilmu pengetahuan saya tentu sangatlah terbatas, apalagi dalam hal pertanian/peternakan.

Tak ada tendensi apa-apa dari saya, kecuali niat untuk membangun Takalar menjadi lebih keren dan lebih asik.

Mari gantikan asap pembakaran jerami, menjadi api biogas.

Mari menikmati jerami dalam semangkuk coto.



Hormat penuh maaf

Ahmad Husain Daeng Nguseng
(Penggagas Komunitas Tanimuda Takalar)

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.