Curahan Hati Terkait Surat Permohonan Maaf Saya kepada Pemerintah Desa




Saya tidak mengira akan jadi seperti ini. Proyek patungan membangun jembatan yang saya mulai awal september kemarin, tepatnya 5 September 2015 tidak berjalan lancar sebagaimana mestinya.

Sebelum lebih lanjut saya ungkapkan curahan hati saya, saya memang melakukan penggalangan dana secara pribadi, tanpa melakukan pelaporan apapun kepada pihak pemerintah ataupun pihak keamanan. Hal ini akan saya jelaskan selanjutnya.

Baiklah, agar lebih terang dan tidak membingungkan, saya ingin curhat secara sistematis dengan gaya saya sendiri.

Mengapa membangun jembatan?


Saya tidak bisa menyebutkan tahun pasti, tapi sudah sejak lama masyarakat butuh akan sebuah jembatan di lokasi yang saya maksudkan. Saya masih ingat, kala itu saya masih sangat kecil, masih imut dan tentu saja lucu. Saya adalah anak pertama dari enam bersaudara, seorang putra. Saban hari ketika Bapak saya pergi ke sawah, ia biasa membawa saya turut serta, saya sendiri senang ke sawah.

Saat itu, untuk menyeberangi sungai kecil, tidak ada jembatan apapun, saya harus digendong oleh bapak saya saat melewati sungai tersebut untuk sampai di sebelah. Saya masih ingat momen dimana saya digendong di atas pundak. Saya masih sangat kecil kala itu.

Jembatan yang digunakan untuk melintasi sungai silih berganti, ada kalanya balok (entah kayu jenis apa), beberapa batang bambu yang disatukan, batang pohon lontar, atau batang pohon kelapa.

Jembatan yang saya bicarakan ini sangat penting peranannya, jika jembatan yang diharapkan terealisasi, para petani dapat bekerja lebih efisien. Tidak perlu lagi jauh memutar untuk mengangkut hasil panen.

Mengapa saya menggalang dana secara online

Dalam postingan blog terkait penggalangan dana, saya menjelaskan kondisi secara umum masyarakat di dusun Mario, mereka merupakan warga miskin dan sulit berpartisipasi dalam patugan dana. Sehingga hanya sedikit warga yang diperkirakan dapat ikut berpartisipasi dan tentu saja hanya sedikit dana yang bisa terkumpul.

Selain itu, pemilik lahan sawah di area tersebut bukan hanya warga dusun Mario, tetapi warga dari dusun lain bahkan dari desa lain di luar Parangmata.

Di atas itu semua, saya tergerak untuk ikut campur persoalan pembagunan jembatan. Saya sendiri kadang melas jika harus membawa traktor ke sawah dengan mengitari jalan memutar. Sangat berat. Namun warga telah terbiasa, proses yang berat dalam mengolah sawah bukan halangan. Sawah harus diolah untuk bisa bertahan hidup.

Saya sadar potensi internet untuk penyebaran informasi, saya menjalankan ide penggalangan dana secara online, melalui kampanye ini, saya ingin menginformasikan kepada khalayak luas mengenai kondisi kami terkait jembatan ini, dan melalui internet kami berharap banyak netizen yang tergerak untuk membantu, terlepas apakah saya melakukan penggalangan dana secara sendirian tanpa ada tim.

Mengapa saya sendirian?

Sebelumnya saya memohon maaf jika ada perorangan atau pihak yang tersinggung!

Persoalan kesendirian saya, tanpa melibatkan warga yang lebih banyak (apalagi harus berurusan dengan pemerintah), saya berfikir terang, begini:

Mengajak warga untuk menjalankan ide saya, tentu akan sulit. Mereka butuh semacam ‘bukti’ dimana ide saya bisa berjalan. Saya berfikir bahwa warga pesimis akan ide saya yang mungkin bagi mereka terdengar sangat muluk-muluk. Oleh karena ini, sebagaimana yang saya rencanakan, saya akan melakukan penggalangan dana sendiri, dan setelah ada dana yang telah terkumpul dan cukup untuk membangun pondasi jembatan, disitulah saya akan melibatkan warga dan membenahi tim penggalangan dana yang sedang berlangsung ini.

Jadi, mohon tidak menerjemahkan kesendirian saya dalam proses penggalangan dana ini sebagai sebuah kepentingan pribadi, penggalangan dana pribadi, bahkan menuduh bahwa dana yang terkumpul akan saya kelola sesuai dengan kepentingan saya pribadi. Saya nyatakan TIDAK!

Sekalipun saya menjalankan proyek ini sendirian, saya memposisikan diri sebagai warga, seorang petani yang akan mendapatkan manfaat efisiensi dengan adanya jembatan tani. Saya bekerja untuk membantu warga, membantu petani, bahkan membantu pemerintah dalam membangun desa.

Mengapa saya memohon maaf kepada pemerintah desa?

Permohonan maaf ini saya nyatakan karena desakan pihak pemerintah desa untuk membuat surat pernyataan permohonan maaf atas singgungan saya di media massa, bahwa pembangunan desa kurang efektif sehingga saya melakukan proyek penggalangan dana dan membangun jembatan tani dengan menggunakan dana swadaya masyarakat.

Dalam proses ini saya perlu menjelaskan, penggalangan dana secara online ini berdasarkan iktikad baik dari saya sendiri untuk membantu warga dan secara langsung pembangunan desa.

Permohonan maaf yang saya tandatangani bukan berarti saya berada dalam posisi seorang kriminal yang berusaha melakukan tindakan penipuan (sebagaimana disangkakan pihak pemerintah desa kepada saya). Kendati tidak mengurus perizinan penggalangan dana, segala laporan penggalangan dana saya sampaikan secara terbuka (Lihat: Laporan dana masuk Patungan Bangun Jembatan). Saya melakukan rilis untuk publikasi ke media massa untuk menjelaskan proyek saya. Saya tidak tahu apakah tindakan saya ini bertentangan dengan hukum yang berlaku dan dapat dijerat tindak kriminal.

Tetapi, berbagai rilis saya ke media terkait proyek ini, menunjukkan bahwa saya bertanggung jawab ke publik, mengingat penggalangan dana secara online ini mengharapkan partisipasi masarakat luas.

Banyak kawan di media sosial yang kecewa terkait permohonan maaf saya ke pemerintah desa, dan menyampaikan kepada saya secara langsung. Saya menerima banyak saran dan kritik, termasuk pelajaran mengenai hukum, hak seorang warga negara. Saya ucapkan terima kasih yang sangat besar untuk hal ini. Selain itu, mereka juga tetap mendrong saya dengan penuh harap, agar ide yang telah disampaikan ini, bisa terus berjalan hingga target tercapai. Mengacuhkan segala gangguan dari pihak-pihak yang mungkin merasa dirugikan dalam segala proses penggalangan dana ini, sekalipun saya tidak tahu pihak mana yang di rugikan, ikhtiar proyek pembangunan jembatan ini, adalah ikhtiar untuk membantu membangun desa.

Penggalangan dana secara online akankah terus dilanjutkan?

Tentu saja! namun selanjutnya, penggalangan dana secara online bukan lagi dilaksanakan oleh saya sendiri, tetapi saat ini bergerak bersama warga, bekerja sama. Saya bersyukur atas respon teman-teman wartawan untuk ide ini (saya ucapkan terima kasih yang banak untuk bantual publikasi/sosialisasi).

Dengan kehadiran wartawan di dusun Mario pada tanggal 10 September 2015 untuk memotret dan melakukan liputan lokasi jembatan, warga mulai memiliki ketertarikan, mereka mulai memberikan perhatian, dalam benak saya, mereka tentu mulai sadar bahwa apa yang diusahakan terkait pembangunan jembatan, akan berbuah manis. Jembatan tani ini pasti bisa dibangun menggunakan dana swadaya masyarakat.

Informasi terkait penggalangan dana akan kami publikasikan melalui blog ini. Rencananya, penggalangan dana akan kembali dilakukan pada Selasa, 15 September 2015.


Semoga curahan hati ini dapat menjadi penjelasan yang terang bagi para pembaca yang senang menaksir keyakinan untuk ikut berpartisipasi, sekaligus menjadi penjelasan agar netizen tetap menjaga kepercayaannya kepada saya.

Yakinkan saudara-saudaraku! Niatkan tulus untuk membantu. Kami berdoa agar para dermawan yang terlibat, baik dengan sumbangan materil berupa dana, maupun moril dan jasa, mendapatkan limpahan rahmat dan dilapangkan rezekinya, serta diberkahi keluarganya sehingga menjadi keluarga yang berbahagia dan bermanfaat untuk masyarakat.

Mohon maaf atas proses yang terjadi.

Terima kasih telah memperhatikan keluh kesah dari seorang anak muda yang meneguhkan diri menjadi seorang petani.


Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.