Ketika Ibukota Pindah Ke Yogyakarta ...

Pagi ini, seorang teman memberikan komentar pada sebuah foto klipping media yang membahas persoalan wacana pemindahan Ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta. Komentar temanku cukup singkat, namun mewakili (setidaknya sama dengan yang lain-lainnya) beberapa komentar yang kontra akan ide pemindahan Ibukota tersebut. "jangaannn,, nanti pada rusak itu,, pindah k t4 lain lahh", Tulis Nurul pada kolom komentar akun/fanspage YOGYAKARTA yang mengupload foto kliping berita tersebut.

Jogja siap ??? | Foto: fanspage Yogyakarta

Ya, belakangan isu pemindahan Ibukota kembali marak, bermula ketika hujan memancing manjir yang kemudian ramain disiarkan oleh media dan personalia melalui facebook dan berbagai media lainnya. Sebelumnya, ide pemindahan Ibukota mencuat dikarenakan bencana rob dan kondisi beberapa daerah di Jakarta yang lebih rendah dai permukaan laut. Jebolnya bendungan Situgintung menjadi awal wacana Pemindahan Ibukota santer jadi topik pembicaraan di media kala itu. Ibukota kita rawan bencana.

Jusuf Kalla memberikan komentar atas wacana pemindahan Ibukota pada beberapa hari yang lalu, Ia tidak setuju jika Ibukota dipindahkan, menurutnya hanya akan merepotkan (merugikan?) saja. Ibu kota secara administratif memang mudah dipindahkan, namun bagaimana dengan orang-orangnya?, demikian komentar JK yang masih kuingat pada sebuh media online.

Bagiku sendiri, pemindahan Ibukota cukup penting adanya, bukan hanya urusan pindah untuk menghindari banjir saja, namun Ibukota sebaiknya di pindah lebih ke tengah. Selain itu, Ibukota perlu satu lingkungan yang bersahaja, tidak macet dan lebih indah. Dalam hal ini, Ibukota dipisahkan dengan Pusat perekonomian yang saat ini masih menyatu sehingga seluruh tulang punggung pemerintahan dan perekonomian menjadi satu. Ketika Jakarta kalap, daerah lainnya akan pincang.

Vietnam misalnya yang kini menjadika Hanoi sebagai Ibukota negara mereka, walaupun kota paling ramai di Vietnam adalah Kota Ho Chi Minh. Memang sistem pemeintahan agak tertutup karena terpisah dari keramaian, naum di Indonesia, keterbukaan informasi bisa menjaga transparansi pemerintahan.

Memang membutuhkan dana yang besar untuk memindahkan Ibukota, dan ada banyak hal yang perlu diperhatikan ketika pusat pemerintahan Indonesia dipindahkan ke tempat lainnya. Misalnya kesiapan masyarakat di suatu tempat menerima status sebagai Ibukota, dan tentu saja kesiapan Jakarta melepaskan statusnya sebagai Ibukota.

Sayangnya saya tidak tinggal di Jakarta sehingga kurang mengerti bagaimana seluk-beluk kehidupan disana, bagaimana Jakarta akan terus bertahan sebagai Ibukota dengan kondisi alam yang rawan, jumlah penduduk yang besar, tuntutan ekonomi yang tinggi, pemukiman kumuh yang solusinya saja menemukan jalan buntu, tindak kejahatan yang susah diminimalisir, dsb.

Lalu bagaimana dengan pemindahan Ibukota (pusat pemerintahan) ke Jogja ??? Bagiku ini ide yang menakutkan pada awalnya, saya sendiri merasa apakah sistem yang telah terbentuk disana bisa bertahan ??? Sepintah ketakutanku sama dengan ketakutan Nurul, teman yang komentarnya saya kutip di atas. Namun, setelah mengingat perbincangan santai dengan seorang teman saat berada di Jogja beberapa waktu yang lalu membuatku berfikir terbuka, bahwa Jogja secara fisik cocok menjadi Ibukota, walaupun secara psikologi (masyarakatnya) belum pasti.

Hal yang penting bagi saya yakni pemindahan Ibukota jangan didasarkan atas banjir atau menjauhi bencana saja, pemindahan Ibukota perlu rancangan yang matang dengan penataan ulang tata kota dan mualai disiapkan sejak sekarang, sehingga perlahan masyarakat dapat dipersiapkan. Memang memindahkan pusat administrasi negara itu gampang, namun orang-orangnya akan terancam, baik orang-orang yang ditinggalkan Ibokota maupun mereka yang menyambutnya. Saya teringat ungkapan lama bahwa sekejam-kejam ibu tiri, lebih kejam lagi Ibukota. Makanya, masyarakat perlu kesiapan.

Jika berkaca pada sejarah bahwa Yogyakarta pernah menjadi ibukota atau pusat pemerintahan NKRI, tepatnya pada tanggal 4 Januari 1946. Yogyakarta dianggap lebih tepat untuk menjadi Ibukota atau pusat pemerintahan negara pada waktu itu. Namun, saat itu Yogyakarta menjadi tempat berkonsentrasinya kegiatan partai politik, disamping kesibukan pemerintah dalam menghadapi agresi militer kedua dai pihak Belanda dan NICA.

Bagaimana menurut teman-teman ????

Baca juga : Yogyakarta sebagai ibukita semasa perang mempertahankan kemerdekaan.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.