Hary Tanoe vs Surya Paloh, Konflik Internal Parpol Kian Marak Jelang Pemilu 2014

Berita kemunduan Hary Tanoesoedibjo (HT) dari partai yang masih berumur jagung, Nasional Demokrat (Nasdem), ikut meramaikan "kontestasi" konflik internal partai politik, setelah sebelumnya didominasi oleh Partainya Pak Presiden, Partai Demokrat.

Hary Tanoe dan Surya Paloh | Foto : republika.co.id

Banyak orang yang menyesalkan, termasuk saya, pengunduran diri Hary Tanoe dari partai yang awalnya menjadikan Ormas Nasional Demokrat sebagai pijakan mengumpulkan banyak orang. Bagaimana tidak, Hary telah melakukan banyak hal dalam mengembangkan Partai Nasdem, salah satunya yakni lolosnya Partai Nasdem dari penyaringan (verifikasi) peserta pemilu 2014, walaupun memang bukan semata usaha Hari Tanoe, melainkan usaha banyak orang, namun kita tentu saja dapat mengingat bagaimana peningkatan popularitas Nasdem dimudahkan oleh berbagai media di bawah naungan MNC Group.

Berita kemunduran Hary Tanoe dari Nasdem, sebagaimana diberitakan di berbagai media, disebabkan oleh ketidak sepahaman antara Surya Paloh dan Hary Tanoe. Ketidak sepahaman ini dianggap adanya dua kubu yang saling bersaing dan merepesentasi dua personalia yang sama-sama bos media di Indonesia.

Nasdem yang awalnya banyak memperkenalkan dirinya sebagai sebuah gerakan baru dengan orang-orang yang bersih dari kasus korupsi, dan dihuni oleh mayoritas pemuda dengan persentase 70%, diharapkan memberikan warna yang baru untuk Pemilu 2014. Hanya saja, konflik internal yang berbuah pengunduran diri Hary Tanoe dan beberapa pengunrus Nasdem perlu dipertanyakan.

Dalam hal ini, ungkapan Ruhut Sitompul cukup untuk menjadi sindiran bahwa, Partai Nasdem layu sebelum berkembang, karena walaupun telah berhasil lolos sebagai peserta pemilu 2014. Nasdem yang sama sekali belum punya pengalaman pemilu dan kontak langsung dengan sistem politik pemerintahan, keburu dirudung masalah internal.

Sebagaimana diberitakan oleh beberapa media massa, Surya Paloh yang ingin menjadi Ketua Umum Nasdem bertolah belakang dengan keinginan Hary Tanoe yang malah menginginkan Ketua Umum berasal dai kalangan muda. Tarik ulur kepentingan pun terjadi, Surya Paloh ingin agar Nasdem tetap pada kendalinya, sementara Hary Tanoe yang belakangan mulai dengat dengan kaum muda potensial di Nasdem tentu saja menyarankan anak muda saja.

Konflik perebutan pengaruh seperti ini bukan lagi hal asing di partai politik, mungkin sama dengan kasus-kasus perceraian artis yang banyak menghiasi infotaimen tanah air. Maka tak perlu heran, hanya saja yang perlu diperhatikan bagaimana memoen ini "dipermainkan" oleh media massa.

Publikasi media yang jelas saja "mempermainkan" isu ini ke publik, sehingga kita pun dijejali berbagai isu provokatif. Apalagi ketika penulis mencoba memperhatikan bobot (jumlah berita) berita antara Hary Tanoe dan Surya Paloh di media online sangat tidak imbang.

Saat kita mencari berita Surya paloh, maka hasil pencarian di google hanya akan didominasi oleh berita tentang kemunduran Hary Tanoe, padahal kita butuh berita yang memuat komentar Surya Paloh (atau membutuhkan konfirmasi Surya Paloh) atas berita tersebut. Sehingga media tidak mendramatisasi isu tersebut.

Adanya berita-berita tentang kemunduran Hary Tanoe ini, pada lain sisi, membuat kita dengan partai Nasdem, awalnya kiat mengenal Nasdem melalui iklan sehingga kita semua seakan dijejali oleh isu perubahan yang diusung (tagline) oleh partai muda ini. Dengan berita-berita bebeapa hari ini, kita pun pelan-pelan mengetahui bagaimana internal Nasdem bekerja.


Terseok-seok Menuju Pemilu 2014


Pemilu 2014 adalah pemilu penuh harapan, saya sendiri seperti tidak sabar dengan datangnya tahun 2014 itu, seakan-akan bahwa tahun 2013 ini dihilangkan saja, seperti hotel-hotel yang mempercayai mitologi angka 13 yang pada praktiknya tidak menyediakan no kamar dengan urutan ke 13.

Pemilu 2014 bagiku seakan pemilu TAUBAT, dimana momentum demokrasi tersebut seharusnya membuat kita lebih reflektif atas kebusukan politisi dalam mengelola rakyat dan negara yang besar ini. Kita perlu dewasa dalam merespon gombal iklan yang mempemaikna stuktur kata. Kita pelu dewasa atas beita-berita tidak imbang yang nantinya mengarahkan kita pada pilihan yang salah.

Jika tidak demikian, tahun 2014 akan penuh dengan kepalsuan, ketika para politisi nantinya akan bersikap seperti sinterklas, nyaris setahun penuh.

Sayangnya, beberapa parti dirudung banyak masalah internal yang sangat tidak mendidik. Pembentukan opini publik menjadi medan perang, mereka berlomba-lomba menarik perhatian media untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat, memohon simpati, sementara media massa mengolah semuanya itu menjadi sebuah drama, memprovokasi dan mengaburkan pesan-pesan yang seharusnya menyadarkan para audiens mereka.

Konflik intenal partai memang menarik untuk dibincangkan, tentu karena kita bisa mencela partai politik dan orang-orangnya. Sayangnya kita mungkin tidak belajar bagaimana berita-berita itu akan membuat kita akan ikut-ikutan terkotak oleh "strategic planning" media massa. Ketika kita bersedih atas keputusan hakim yang menetapkan seeoang koruptor hanya dipenjara selama 4 tahun saja, sementara pencuri kelas bawang harus berpuluh tahun.

2014 merupakan tahun dimana kita akan melakukan ujian, apakah kita telah dewasa secara politik atau tidak, hakimnya adalah tahun-tahun selanjutnya yang menunjukkan konseksuensi atas kecerdasan atau ketololan kita dalam berpartisipasi pada pesta demokrasi tersebut.

Lalu, jika partai politik bejalan terseok-seok menuju 2014 dengan berbagai konflik internal parta, apakah rakyat akan ikut terseok-seok pula menuju 2014 dengan berbagai berita yang tak sempat disaring oleh dii kita ????

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.