Gadis Twitter, Betapa Jentik Jemarimu !

Saya bukannya bias gender saat menghadirkan istilah gadis twitter ini, hanya saja menjadi sebuah istilah yang hadir begitu saja melihat beberapa teman di twitter yang sepertinya sangat menikmati waktu luangnya dengan mempermainkan tombol-tombol aksara di smartphones mereka.

GADIS                               | Foto:  Djembar Lembasono / Flickr

Saya teringat pada adikku, satu-satunya anak yang memiliki Blackberry dalam keluargaku (karena hanya dia yang berminat dengan barang itu, yang lain tetap enjoy dengan Hp poliphonik). Sesungguhnya dia adalah anak yang rajin dan cerdas, tempatnya hidup hanya ada dua, yakni sekolah dan rumah. Diantara kedua tempat itu, rumahlah tempatnya menghabiskan sisa waktu jika tidak ke sekolah.

Tapi rasanya keberadaannya di rumah sangat singkat sekali, hanya pada waktu tertentu saja, misalnya pulang sekolah, sore hari (kadang-kadang) dan malam hari saat makan malam atau mengerjakan tugas. Sisanya entah dia kemana.

Walaupun di rumah, ternyata dia bebas bekeliling kemana saja, mengunjungi puluhan, bahkan mungkin ratusan temannya dengan bercakap di twitter, sebuah dunia yang hingga kini masih asing bagiku. Jangan heran jika dia seperti seorang boneka yang kadang dianggap ada dan kadang tidak karena ulahnya sendiri lebih banyak berinteraksi dengan twitter dibandingkan anggota keluarga lainnya.

Di twitter, walaupun saya kurang mahir hidup di dunia itu, seperti sebuah dunia yang segala sesuatunya dilakukan dengan instan. Kita tak perlu susah-susah berjalan kaki atau kepanasan di jalan untuk betemu dan bercakap santai dengan seorang teman. Kita tak perlu bersusah-susah mencari teman yang ingin mendengar curahat hati kita, karena di twitter, sekali saja kita mengicaukan kekesalan hati, orang-orang akan peduli.

Jika tidak peduli, tidak ada gunanya bertwitter. Jika kamu cuek saja dengan kicauan orang-orang, itu sama dengan tidak punya teman. Maka orang-orang pun sok peduli, dan karena banyak yang peduli, orang-orang pun makin senang melampiaskan curahan hati. Toh, curahan hati hanya cocok diperdengarkan pada delinga yang peduli.

Kehidupan di twitter cukup instan, karena saat kita rindu, kita bisa menyampaikannya kepada orang lain, sehingga sensasi rindu bukan lagi pada menunggu seseorang datang untuk menyiram kegersangan hati, melainkan pesan singkat yang menjelaskan bahwa kita sedang memikirkan seseoang dan ingin bertemu dengannya, bukan menunggu.

Twitter sepertinya sangat simpel. Kita bisa menjamah dunia itu dalam berbagai suasana, saat makan (ada yang twit soal makanan), saat perjalanan (ada yang twit soal serunya atau kacaunya perjalanan merek`), saat gak ada kerjaan (ada yang twit soal jomblo), dll. Hal ini memungkinkan kita untuk terhubung dengan teman-teman di twiiter kapan saja selama baterai smartphone kita tidak habis.

Adikku, dan banyak gadis-gadis lainnya sepertinya menemukan kesebasan mereka menyampaikan perasaan dan pemikiran di twitland. Twitter seperti hati mereka, karena isi hati dan kepala mereka dengan cepat tecurah di twitter dengan begitu saja, perasaan geras, panas, sumpek, bosan menunggu, jengkel, bete, lapar, susah ngantuk, tugas banyak, malas cuci baju, lagi asik nonton, RvP, CR7, Ayoo Messi, dll. Sakin bebasnya, bagiku mereka telah menelanjangi diri sendiri, dari sana kita mendapatkan referensi tentang karakter seseoang, menimbang baik/buruk moralnya dan membuat strategi bagaimana mempermainkannya.

Media sosial memang membuat kita sangat mudah terhubung dan membangun jalinan komunikasi, sekaligus semakin mudah dan tidak hati-hati mengkomunikasikan isi hati dan kepala kita. Dan para Gadis Twitter yang begitu bahagia mendapatkan mention atau retwit, semakin tidak bisa lepas dari dunia yang dihidupkan oleh jentik jemari mereka.

Gadis Twitter bukan sosok hamba di hadapan Timeline twitter, melainkan seorang bidadari yang memberi warna pada dunia miniblog dengan isi hati dan kepala merena, karena di sisi lainnya, para pangeran twitter sedang meninggu seoang putri yang membutuhkan pertolongan.

Gadis Twitter, bagaimanapun kita memahaminya, adalah seorang dewi yang bebas berkata tanpa harus takut pada pengadilan moral ala umat manusia, malah moralitas manusia harus mengikuti kata-katanya, sehingga ketika para Gadis Twitter ini tidak lagi berpandu pada lokalitas perasaannya, dia akan dibinasakan oleh kegadisan yang sedang menunggu waktu untuk menjadi trending topic.

Gadis Twitter
TWITTER

Saya teringat satu masa ketika adikku yang hingga saat ini masih mengandalkan hidupnya pada twitter kuajak untuk blogging, menurutku lumayan bagi emaja seperti dia membuat blog untuk diary online, toh dia sangat mudah mencurahkan perasaan dalam tulisan (twit). Sayang sekali, ketika kupandu untuk membuat akun, dia malah merasa kesulitan sekali. Akhirnya sadalah saya, bahwa walaupun twitter merupakan satu kamar di dunia maya, internet, penggunanya belum tentu melek teknologi.

Seperti adikku, mungkin remaja lainnya sangat hafal dengan bebagai seluk-beluk twitter, namun untuk urusan lain akan kesulitan.

Sebagai seorang kakak, kupandu dia sekali lagi dengan cara sesimpel mungkin agar dia merasa santai dan mudah untuk memulainya, sayangnya tanggapannya kurang baik, prosesnya terasa panjang olehnya karena harus mendaftar, ini dan itu. Padahal, untuk sebuah akun blog, 5 menit adalah waktu terlama untuk membuatnya (tergantung kecepatan jaringan juga sih hehe).

Persoalannya, dia terbiasa pada hal-hal instan ala twitter. Coba perhatikan, saat kita telah login di akun twitter kita, yang akan kita lakukan hanya 8 tindakan cepat yang tidak butuh tenaga sama sekali :: scroll down, back to top, retwit, compose new twet, cek mention, cek dm, follow/folback, unfollow. Sisanya adalah aktifitas tidak rutin sepertu update foto dan bio.

Twitter pun mengajar kita untuk tidak bertele-tele, ungkapkan isi fikiran kita secara langsung, singkat, padat. Tak usah pusing dengan struktur kalimat, kesinambungan logika antar paragraf dan sebagainya. Akhirnya, seoang Gadis Twitter pun tidak akan bertele-tele, jika dia tak menyukaimu, siap-siap saja hati tersinggung.

Gadis twitter, jemari jentikmu itu, bisakah melakukan pekerjaan lain selain mengacak aksara di smartphone-mu ???

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.