Blogging itu Revolusioner

Istilah revolusioner mungkin sangat "panas" untuk digunakan sebagai kosakata harian, seperti makan, kuliah, bekerja ataupun blogging misalnya. Revolusioner semacam bara api yang menunggu seorang pemberani yang berhati teguh untuk menggenggamnya, dia seperti sosok yang tak kenal lelah mempertahankan dan memperbaharui semangatnya untuk keluar dari kebekuan gaya hidup.

Entah sejatinya revolusioner itu seperti apa. Kita seakan bersepakat begitu saja menganggap bahwa orang-orang yang menjadi pemantik sebuah perubahan besar itu adalah seorang revolusioner. Seorang penemu, pemikir, motivator, pelukis, penulis, film-maker, pilot, pembalap, pemain sepak bola, artis (pemain sinetron tidak usah dimasukkan yah), bahkan seorang pemulung bisa saja menjadi seorang revolusioner. Persyaratannya apa? Perkenalkan saja bahwa nama anda adalah Lusi atau Sion, lengkapnya: Revolusioner.

Jangan sekedar menumpang nama saja, tetapi amanah nama itu perlu diemban pula. Kita harus tergerak untuk menantang laju aman yang memaginalkan "orang-orang pincang".

Sampul buku The Blogging Revolution by Antony Lowenstein
~> bloggingrevolution.com

Blogging itu Revolusioner, terserah anda memanfaatkan media blog sebagai wahana dengan tujuan apa saja, asalkan saja dia memiliki manfaat yang baik untuk orang banyak dan mampu memberikan suatu kontribusi, paling tidak memancing sebuah pertanyaan di dalam hati mereka: Apakah hidup saya hanya sebatas ini saja ???

Blogging itu Revolusioner, dia menjaga mood agar kita tetap patuh pada aturan penyusunan kata, kalimat, opini dan logika berfikir yang lebih luas. Di tengan demam bahasa 4lay, Blogging menjaga keteraturan bahasa dengan elegan. Toh bahasa 4lay belum bisa dikembangkan menjadi satu kalimat, dia terbatas pada celetukan-celetukan yang memompa semangat untuk mengetok kepala si 4lay.

Blogging itu Revolusioner, dia tetap menjadi media yang masih teguh menantang anak muda untuk menampilkan karya fotografi yang berkualitas ditengah badai narsis yang tak kalah ganasnya dengan cuaca ekstrem yang jadi headline di media beberapa hari ini.

"Menulislah, maka kau akan mengabadi". Blogging itu Revolusioner  selama blogmu aman-aman saja dari gangguan para penjahat dunia maya, atau terjaga dari kesalahan teknis websever dimana blogmu dibangun, atau kejadian buruk lain yang membuat blog mu hilang dari peredaran, maka yakinlah bahwa kau akan tetap punya pembaca yang menganggukkan kepala di hadapan kalimat yang telah kau toreh.

Blogging itu Revolusioner, maka mulailah memanfaatkan kesempatanmu untuk menuliskan hal-hal biasa saja. Jika pada masa ini, tulisanmu tidak dibaca siapa-siapa, jangan sedih kawan. Karena di generasi yang akan datang, tulisanmu mungkin akan berpengaruh besar sebagai artefak sejarah yang akan jadi sumber pengetahuan.

Blogging itu Revolusioner, dia akan menjaga tradisi membaca dan menulis tanpa harus ketinggalan jaman. Personal Komputer yang dulunya adalah barang mewah akan ditinggalkan, orang-orang akan keberatan membawa laptop kemana-mana, sehingga smartphones akan menjadi teman akrab yang siap sedia disaat kita kebingungan melakukan apa. Ungkapan "Sebaik-baik teman duduk adalah buku" telah usang, karena membaca melalui smartphones akan lebih menyenangkan.

Blogging itu Revolusioner, kita bebas menulis tanpa sensor penguasa dan konco-konconya. Melalui blog, kita bebas berserikat dan mengampanyekan wacana dengan lebih tenang (quiet campaign). Satu-satunya penyaring yang menentukan apakah kita harus mengatakan "sesuatu" adalah diri sendiri dan moralitas yang mendarah daging disana.

Blogging itu Revolusioner, bagaikan jendela dimana kita bisa berteriak keluar sehingga kita punya wadah untuk menyampaikan realitas, menarik perhatian pengguna internet untuk bergabung kepada sebuah gerakan kampanye keprihatinan untuk kejahatan kemanusiaan. Blogging bisa menjadi sebuah senjata, corong dimana kebenaran disampaikan disana dan perlahan-lahan menjangkiti manusia lalu menyadarkannya dari lupa.

Blogging itu revolusioner dan menyenangkan. Setidaknya ini yang bisa kusampaikan.

Blogging itu Revolusioner, barang ini bisa digunakan untuk menggaet cewek/cowok bagi yang sulit memanfaatkan mulut untuk mengungkapkan isi hati (Biasanya ada orang yang sulit ngomong tapi mahir dalam bidang menulis, painting, musik, dll). Bisa juga digunakan untuk menggombal istri (Hahahaha pengalaman pribadi nih :p)


#Notes:
Seandainya saja catatan ini menggugah semangat teman-teman untuk membuat sebuah blog dan mempublikasikan karya atau beragam cerita inspiratif lainnya, tentu akan membuat blog ini menjadi cikal-bakal revolusi. Kita beranjak dari kegiatan penerbitan konvensional menuju dinamika sistem informasi digital. Mari menyongsong era gila, ketika kita memainkan smartphones lebih menyenangkan dibandingkan sebuah buku dan secangkir kopi.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.