Bukan Catatan Akhir Tahun | Lagi-lagi hanya catatan biasa saja !

Akhir tahun ?
Mungkin di luar sana banyak orang sudah merencanakan liburan akhir tahun, entah mengunjungi berbagai tempat wisata, traveling kemana-mana, pulang ke kampung atau ke rumah kakek-nenek di desa, atau malah bekerja.

Saya sendiri biasa-biasa saja seakan tidak pernah tahu akhir tahun itu datang dan pergi sejak kapan. Pengaruhnya mungkin karena beberapa bulan belakangan saya lebih banyak mengurung diri di dalam rumah, sehingga perubahan-perubahan suasana di sekitarku tidak kusadari.

Oia, bicara soal liburan akhir tahun, adikku menyampaikan perasaannya sangat ingin menghabiskan liburan sekolahnya di Malang, dia mengaku sangat bosan di Makassar, apalagi disana dia lebih banyak menghabiskan waktu seharian di rumah saja, jangan heran karena keluargaku tergolong protektif terhadap anak perempuan.

Sayangnya, dia belum mahir bepergian sendirian, apalagi dari Makassar ke Malang bukan perjalanan biasa jika dilakukan oleh seorang remaja putri 15 tahun. Entah apakah secara umum, remaja putri seumurannya belum punya keberanian untuk bepergian sendiri, atau karena sistem yang membuat mereka kesulitan untuk bepergian, misalnya budaya keluarga yang terlalu protektif hingga wacana bahwa umur 15 tahun masih tegolong anak-anak.

Saya berfikir bahwa mungkin keinginan adikku untuk menghabiskan liburan datang terlalu dini melampaui umurnya yang berjalan stagnan mengikuti perjalanan waktu. Keinginan itulah (yang terpendam) yang dikatakan banyak orang sebagai obsesi, dimana keinginan dalam diri telah matang dan siap untuk menyembul saat ia memiliki kesempatan.

Keinginan dan Umur, seperti kontras antara cita-cita dan masa sukses. Keinginan dan Umur serupa liukan sungai dan air yang mengalir di atasnya. Sebebas apapun air mengalir, ia tetap mengikuti liukan sungai. Demikian pula dengan keinginan, yang dipendam dan dirawat begitu lama harus patuh pada perjalanan waktu.

Di luar sana, mungkin ada banyak orang yang bebas dengan keinginannya, tanpa ambil pusing dengan waktu. Saat ia membayangkan sebuah hidangan lezat, sesaat itupula ia tiba di sebuah restoran ternama yang mempekerjakan chef-chef handal yang memahami bumbu melebihi pemahamannya tentang masa depannya.

Mungkin ada banyak orang yang ingin menikmati liburan di berbagai lokasi wisata yang eksotik di eropa utara, dan seketika itu mereka hadir disana merayakan sebuah pesta dan mengantar perjalanan waktu pada rutinitas yang nantinya itu-itu saja.

Ada banyak orang yang mungkin telah kebingungan membedakan antaua keinginan dan kebutuhan, sehingga tanpa pemahaman mereka terang akan perbedaan tersebut, keinginan atau kebutuhan itu telah terpenuhi.

Sayangnya bagi sebagian orang, "keinginan adalah sumber penderitaan", kata Iwan Fals. Tentu saja ketika keinginan berdiri diatas ketidak-mampuan kita secara struktutal untuk menggapainya.

Entah bagaimana, rasanya keinginan akhirnya menjadi sumber masalah, bukan hanya pada orang yang tidak mampu mewujudkan keinginannya, tetapi begitu pula ketia ia bebas mendapatkan keinginannya. Disatu sudut, orang terbatas mengenali siapa dirinya (bahkan mungkin menyesali kehidupannya), pada sisi yang satunya lagi, seseorang tidak mengenali dirinya karena sibuk membangun keinginan baru.

Lalu masalah kah jika adikku memiliki keinginan untuk datang ke malang guna menghabiskan liburan sekolahnya? jika pertanyaannya untukku, tergantung bagaimana seseorang merawat keinginan itu, lalu nanti pada masanya dia memenuhinya dengan letupan-letupan kebahagiaan, karena sebuah penantian (walaupun itu hanyalah keinginan) akan berbuah surga saat dia bertemu dengan "Dia".

Akhir tahun ???
Diluar sana ada banyak orang membangun rencana, disini saya menunggu sebuah rencana.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.