Tradisi Uang Panai, Masalah atau Maslahat?

Uang panai atau uang naik merupakan term yang mengerikan bagi sebagian lelaki Bugis-Makassar (Sulsel secara umum), uang panai adalah uang yang diberikan oleh pihak mempelai pria kepada pihak mempelai wanita dengan nominal yang telah disepakati dua pihak keluarga, uang panai bukanlah mahar yang nantinya diberikan pada akad nikah. Uang panai dibicarakan dua pihak keluarga sebelum menentukan tanggal pernikahan.

Saya tergerak menulis catatan ini setelah mendengarkan curahan hati adikku yang pertama, beberapa hari sebelum ia dilamar oleh pihak keluarga pacarnya, acara lamaran itu sekaligus membicarakan berapa nominal uang panai yang disepakati dua keluarga.

Kondisinya cukup dramatis, karena untuk pertama kalinya keluarga utamaku berurusan dengan uang panai, pernikahanku yang lalu tidak berurusan dengan uang panai sama sekali, karena saya menikahi seorang wanita Melayu.

Kekhawatiran adikku, juga ibuku, adalah tingginya nominal uang panai yang ditetapkan oleh pemimpin rumah tangga, Bapakku. Ibuku sampai memaksaku untuk berbicara kepada bapak agar beliau tidak berkeras hati untuk mempertahankan angka yang disebutkannya, seperti biasanya, saya menanggapi kekhawatiran Adik dan sang ibu dengan santai saja. Kukatakan padanya bahwa bapak pasti tahu apa yang harus dilakukannya. Kata-kataku itu dilandasi pengalaman bahwa keluarga kami tidak pernah mempersoalkan nominal, saya yakin bahwa kebutuhan akan uang belum mampu membutakan mata.

Ibuku terus memaksa dengan dalih bahwa saya anak pertama dan laki-laki (budaya Makassar itu patriarkis), sehingga punya suara yang harus didengarkan, tapi apalah, saya masih sangat sungkan berbicara pada Bapak. Walaupun saya anak pertama, di sisi lain saya belum bisa hidup mandiri sepenuhnya (mapan), sehingga rasa sungkan untuk mendiskusikan persoalan seperti ini masih sangat kuat membungkam mulutku.

Ibuku bercerita bagaimana ia merayu Bapak agar tidak terlalu keras, bahkan ia menyinggung pernikahanku yang tidak memberikan beban kepada Bapak dan begitupula padaku untuk menyiapkan sejumlah uang sebagai uang panai, lagipula pernikahanku berlangsung dengan sederhana saja. Kukatakan pada ibuku, bahwa bapak bukanlah pedagang, dia hanya petani yang lebih pintar mengolah sawahnya dibandingkan menjual hasilnya.

Pembicaraanku dengan ibu, banyak memberikanku pencerahan baru. Kusampaikan padanya bahwa nominal uang yang disebutkannya adalah ideal dan memang subjektif. Secara materialistik, bapak telah berjuang keras membesarkan anaknya hingga kini berumur 22 tahun, bukan hanya uang yang dihabiskannya, namun perhatian dan segala bentuk perasaan orang tua terhadap anaknya.

Di kepalaku, nominal yang disebutkan sang Bapak sebenarnya tidak seberapa dibandingkan bagaimana usahanya membesarkan anak-anaknya, sebagai anak pertama, saya tahu betul bagaimana adik-adikku dibesarkan, bukan karena keharusan tetapi dengan tujuan, yang walaupun sederhana, tetap bernilai luar biasa bagi keluarga kami. Hidup bahagia!

Sebelumnya, uang panai yang kupahami adalah bentuk penghormatan pihak laki-laki kepada pihak perempuannya, sekaligus menjadi simbol bagaimana (bahasa halus dari seberapa) ia menghormati wanita. Di pihak lain, orang tua si perempuan menetapkan harga yang juga menjadi simbol kehormatan keluarganya.

Simbolisasi kehormatan keluarga sebenarnya tidak berdasar pada hal di atas, dan bukan juga nilai yang utama, kecuali pada lingkungan yang memang meterialis. Keutamaan penghormatan terletak pada bagaimana kedua belah pihak berusahan untuk saling menghargai, saling menutupi kekurangan dan menghindari keretakan/perpecahan.

Pada hari pertemuan kedua pihak keluarga, keluarga kami akhirnya sepakat dengan nominal uang panai yang  disanggupi oleh keluarga lelaki. Betapa leganya adikku.


Dinamika Uang Panai


Seorang teman, berdiskusi (mungkin curhat) dengan saya persoalan uang panai, diskusi ini berawal ketika kami saling berbalas komentar pada status facebookku yang mengatakan bahwa: Perempuan Makassar itu cantik yah? sampai Adipati Anom memesan wanita Makassar dari pihak belanda.

Fenomena distribusi "wanita bayaran" itu menjadi awal mula pembicaraan, lebih parah mana; jaman dulu perempuan diperjual-belikan secara terbukan, dengan sekarang yang mengatas namakan uang panai?.

Pertanyaannya tersebut mungkin berdasar pada pijakan pengamalan budaya feodalistik yang kemudian semakin diperhalus dalam simbolisasi kehormatan dalam uang panai. Saya kesulitan mengomentari, entah bagaimana budaya ini berawal, hanya saja argumentasiku menunjukkan bahwa kemurnian suatu nilai budaya, sangat cair untuk ditafsirkan oleh kepala-kepala yang kritis.

Tentu saja saya tidak sepakat jika akhirnya uang panai adalah sebuah transaksi tanpa nilai, mengendap pada seberapa besar nominal uang panai. Keluhuran pernikahan, tentu saja tak boleh dicederai oleh uang. Saya sebenarnya membutuhkan suatu hasil penelitian, ada berapa banyak pasangan yang saling mencintai, gagal beranjak ke jenjang pernikahan karena tidak adanya kesepakatan dua pihak keluarga pada penentuang nominal uang panai.

Tradisi uang panai yang mau tidak mau memang transaksional, terjaga oleh pinsip-prinsip kasih dan sayang yang tertanam dalam diri manusia. Pihak laki-laki menyampaikan puncak usahanya untuk menunjukkan seberapa besar perjuangannya (keseriusan) dalam membangun sebuah mahligai keluarga, sementara pihak perempuan menyampaikan simbol ideal yang merangkum keseluruhan usaha pihak keluarga dalam menjaga anaknya, beserta kualitas-kualitasnya.


Uang Panai, Masalah atau Maslahat?


Tidak dipungkiri keterbukaan akses media membuat orang-orang mudah mendapatkan rangsangan seksual, sehingga dorongan manusiawi untuk membangun hubungan percintaan (kasih dan sayang) semakin sensitif/mudah untuk terwujud. Lelaki Bugis-Makassar, sebahagia apapun saat pacaran (jika memang serius) pasti akan memusingkan uang panai (lelaki/keluarga dengan kondisi ekonomi pas-pasan).

Uang panai akhirnya menjadi masalah yang (untuk sementara) bisa dianggap menghalangi kemudahan proses menikah, Islam sendiri pun memudahkan pernikahan karena prinsip menjaga, baik menjaga keturunan (regenerasi) maupun menjaga kesucian. Sekali lagi, saya membutuhkan hasil penelitian yang menyebutkan rata-rata umur mempelai pria saat menikah. Pengalamanku yang miskin, menyaksikan bahwa kebanyakan mempelai pria menikah pada umur akhir 20an tahun, apakah ini ideal? dan apakah ada pengaruh uang panai yang menyulitkan, sehingga pihak laki-laki harus mapan terlebih dahulu untuk meminang sang kekasih?.

Disisi lain, uang panai menjadi maslahat, biaya pernikahan (uang panai dan termasuk pesta pernikahan) yang tinggi setidaknya membuat orang berpikir panjang untuk merusak pernikahan (keluarga) dengan perceraian, walaupun memang uang panai tidak mempengaruhi angka perselingkuhan. Sekali lagi, mungkin kita butuh suatu kajian lintas budaya (perbandingan), untuk melihat pengaruh biaya pernikahan yang tinggi dengan tingkat kasus perceraian.

Selain itu, uang panai menunjukkan kesiapan seseorang membangun keluarga dengan berlandaskan pada prinsip ekonomi mandiri. Cinta mungkin saja membutakan kita tentang masa depan yang diancam oleh biaya hidup, namun dengan adanya uang panai, kita akan terjaga dari kemelaratan ( tergantung besarnya jumlah uang panai).


Akhirnya.... Saya hanya bisa berbagi opini sebagaimana telah tertuang dalam catatan sederhana ini. Jangan ada yang menuntut referensi, karena semuanya ini hanya berlandaskan pada pengalaman saya yang memang miskin dan opini saya terhadap pengalaman-pengalaman tersebut.

Semoga catatan ini cukup bermanfaat sebagai sharing partner kita dalam mendiskusikan uang panai. Saya membutuhkan banyak masukan melalui komentar atas tulisan ini, sebagai pembelajaran yang baik buat saya dan tentu saja bagi mereka yang berkesempatan membaca catatan ini serta komentar-komentar teman-teman.

Selamat mengumpulkan uang panai bagi yang masih bujang. Kurangi jadwal pacaran, walaupun memang menyenangkan !!!

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.