"Suryadharma Ali itu Senior Kita!"

Menyenangkan sekali suasana diskusi malam ini, walaupun kopi hitam panas terlambat disajikan, sebungkus rokok Marlboro yang tidak lengkap isinya telah tandas, dan gurauan-gurauan kecil yang jadi selingan, argumentasi tidak mandeg! Walaupun sesekali wacana bergulir keluar dari jalur. Bersama sahabat-sahabat PMII UMM, saya melepaskan rindu saling berbagi pikiran tentang persoalan fenomena haji di Indonesia, diantara kami hadir pula seorang pengurus cabang PMII Malang yang begitu murah senyum.

Beberapa sahabat memasang telinga dan membebaskan pandangan sembari melepas tawa, mengiring seorang moderator memandu acara, menjembatani saya dan seorang Pengurus Cabang sebagai penyaji, dalam diskusi seperti ini, sahabat-sahabat lebih senang menggunakan istilah fasilitator dibandingkan penyaji atau pemateri.

Sahabat dari pengurus cabang PMII Malang dipersilahkan lebih dahulu untuk "memanas-manasi" forum. Dengan mahir, walaupun dia diundang menjadi fasilitator secara mendadak, menyampaikan historiografi haji, hingga menyinggung soal rukun Islam. Saya sendiri, menyampaikan pandangan yang kurang menarik, tentu saja persoalan waiting list CJH (Calon Jamaah Haji) dan pengelolaan keuangan yang tidak transparan oleh Kementrian Agama (Baca: Menag).

Dengan terbata-bata (saya semakin sulit menyusun struktur kalimat untuk berargumen) kusampaikan bagaimana sistem waiting list CJH berdampak pada membludaknya pendaftar yang ingin menyempurnakan rukun Islam, walaupun seorang sahabat peserta diskusi menilai bahwa sistem ini merupakan keniscayaan demi mengatur kuota pemberangkatan haji, seiring dengan semakin tingginya tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia yang memang berpengaruh atau menjadi ancaman berupa tidak terorganisirnya pemberangkatan jamaah haji tiap tahunnya.

Saya cukup sepaham dengan pendapat tersebut, awalnya saya menilai sistem waiting list cukup efektif, sayangnya jika sistem ini dianalisa efek komunikasinya, maka yang terjadi malah pembludakan sebagaimana yang terjadi sekarang ini.

Dengan sistem antrian, orang-orang yang ingin menunaikan ibadah haji akan berbondong-bondong (dan berlomba-lomba) untuk mendaftar agar mendapatkan posisi atau nomor antrian yang tidak terlalu jauh (menunggu terlalu lama), menunda/kelamaan/terlambat mendaftar CJH berarti harus rela menunggu antrian dibelakang ribuan orang, mungkin dalam hitungan 10-15 tahun. Ledakan Pendaftar (Terhitung sejak 2009) yang berstatus waiting, sejumlah 800 ribu, 2010 berjumlah 1,2 juta CJH, 2011 berjumlah 1,4 juta CJH dan untuk 2012 terhitung 1,9 juta CJH dengan total setoran awal Lebih 40 Triliun sedangkan kuota pertahun hanya 211 ribu Jemaah.

Tertampungnya CJH yang kian tahun kian bertambah jumlahnya ini, menjadi sumber "emas" yang menarik hati untuk memilikinya. Logika sederhananya, dimana ada kerumunan orang-orang, disana ada banyak kemungkinan untuk meraup untung, entah bagaimana “untung” berlaku bagi Menag yang dinilai oleh beberapa pihak tidak transparan dalam mengelola dana haji yang bunganya selangit. Bunga (sesuai BI rate) setoran Dana Haji terhitung 2009 = 1,12 triliun tahun 2010 = 2,10 triliun Tahun 2011 = 2,45 Triliun dan 2012 = 3,225 Triliun.

Mari rehat sejenak. Bayangkan anda mendapatkan uang dalam jumlah besar, 8 triliun misalnya, apa yang akan terjadi dalam hidup anda, akan diapakan uang itu?. Kalau boleh saya menjawab sendiri pertanyaanku ini, maka saya (yang political minded) akan menggunakannya untuk mensukseskan kepentingan politik saya, baik itu membeli citra, hingga membungkam mulut orang-orang cerewet yang menebar wacana untuk menjatuhkan popularitas.

8 Triliun (tepatnya 8,895 triliun) itu adalah total bunga dari dana pendaftaran CJH sebesar 25 juta per orang (2009 s/d 2012).

Kuajak sahabat-sahabat sedikit reflektif menyikapi hal ini. Orang tua kita sudah banyak menghabiskan masa hidupnya untuk membesarkan, menyekolahkan, sampai akhirnya (mungkin) menikahkan kita hingga akhirnya bisa hidup mandiri, namun mengapa kita tidak (sedikit saja) memikirkan apakah orang tua kita bisa menunaikan rukun Islam terakhir sebelum akhirnya dia “pergi”? Berpisah dengan kita dengan penyempurnaan rukun Islam.

Semoga memang menjadi refleksi bagi kita, karena sepertinya wadah diskusi dan pengkajian wacana di organisasi kurang sensitif atas hal ini, atau dalam kondisi lain, perhatian kita kabur akan hal ini karena Suryadharma Ali yang menjadi ikon Menag, "sedarah" dengan kita? Atau lebih parah lagi, tidak adanya sumbangan dari “DIA” untuk membeli baterai baru untuk megaphone kita, sehingga aksi “patah” sebelum diniatkan.

Suasana diskusi kian mengalir, saling menyelingi, fasilitator lainnya juga cakap menyampaikan argumentasi & pengetahuannya tentang historiografi dan fenomena budaya haji di Indonesia. Saya sendiri lebih sibuk memperhatikan suasana forum sambil sesekali tersenyum lepas. Kenapa kita tidak pernah serius membincang wacana ini? Tentang bagaimana sistem waiting list berhasil membuat CJH membludak, bukan hanya itu karena pembludakan CJH (seharusnya) terkait dengan sinisme atau pisau analisa kritis kita yang berani bertanya “Kemana bunga dana pendaftara CJH itu?”.

Saya tentu saja akan bertanya, lalu kapan masanya akan ada simpul-simpul atau forum khusus yang mengkaji persoalan ini dan merencanakan follow up yang nyata?.

Pertanyaanku itu, diselingi oleh diam, lalu oleh moderator yang cepat-cepat memecah kebekuan, kemudian berlanjut pada begini, begitu, begini, begitu dan begini. Dan acara pun selesai, kami menutup diskusi dengan senyuman. Suasana berubah santai, entah bagaimana prosesnya sehingga telingaku mendengar, “Suryadharma Ali itu senior kita!, kalau kongres, dia menyumbang paling besar, sampai milyaran!”, entah dari mulut siapa, saya tak berusaha menoleh ke sumber suara. Salah seorang meresponnya "Wuih, milyaran?".

Saya tersenyum, teringat lagi satu segment dalam diskusi barusan, “Seandainya Suryadharma Ali itu ada disini, atau saya ketemu dengan dia, saya ketok kepalanya”, kata seorang peserta diskusi yang belum tahu (sadar) apa-apa. Duh, kasian!

transparansi dana haji Suryadharma Ali
Suryadharma Ali


Silahkan berkomentar!

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.