Jadwal Kuliah Malam, Manusiawikah ???

Entah catatan kali ini harus kumulai darimana, saya bingung mencari sisi. Sebenarnya ide tulisan ini mengendap sejak seminggu yang lalu saat kampusku melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS). Setelah magris, saat saya meninggalkan rumah untuk mencari suasana menyenangkan bersama teman, kulihat masih banyak mahasiswa yang berkeliaran dengan pakaian hitam-putih (celana kain berwarna hitam dan baju kemeja berwarna putih).

Mereka berkeliaran bukan karena liar, melainkan disiplin karena telah patuh mengikuti jadwal UTS hingga matahari sendiri tak sanggup bertemu malam. Mahasiswa dan mahasiswi yang satu almamater denganku ini, bergegas pulang ke rumah, kos, atau kontrakan masing-masing, ada yang dengan langkah panjang dengan gerakan cepat-cepat, ada pula yang duduk saja di atas jok motor sambil menembus kerumunan jalan raya, Wuuuussszzz....

Intinya, tulisan ini mengajak kita berdialog bersama tentang tema: Apakah kuliah malam itu manusiawi?. Entah jawaban anda bagaimana, namun perbedaan jawaban kita akan semakin menghidupkan dialog.

Beberapa bulan yang lalu, saya diminta untuk menjadi narasumber dengan membawakan materi antropologi kampus pada kegiatan Mapaba PMII UMM di desa Tlekung, Batu. Dalam kegiatan tersebut kusampaikan bahwa betapa kampus kita yang tercinta sangat bernafsu untuk memperkaya dirinya tanpa memperhatikan kemampuannya. Seperti seorang mahasiswa yang bertubuh kurus kerempeng, berusaha melahap makanan semeja yang diluar kapasitas penampungan makanan di tubuhnya.

Demikianlah kampusku, dan kampus lain yang menerapkan jadwal kuliah malam. Menerima ribuan mahasiswa sementara kapasitas ruang yang tersedian hanya ratusan (misalnya).

Kuliah pada malam hari pada satu sisi memang tidak ada masalah, karena seorang mahasiswa tidak akan mengikuti kuliah dengan jadwal yang monoton sejak pagi hingga malam (kecuali ada mahasiswa yang kecelakaan memprogram mata kuliah yang kebetulan saling sambung-menyambung dalam sehari). Sehingga jika berbicara soal energi yang dibutuhkan, tidak seberapa. Pekerjaan atau tugas malam dapat diselesaikan pada waktu luang dalam hari itu.

Secara filosofis juga, belajar itu tidak mengenal waktu, sehingga jika seseorang memang ingin belajar, maka dia harus siap untuk mengikuti proses kapan saja.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah, apakah pandangan satu sisi di atas harus menafikan berbagai sisi lainnya ?. Seperti kegiatan ekstra kulikuler mahasiswa (waktu ideal: sore - malam) dan aktivitas hiburan atau beristirahat dari penatnya siang.

Bagi penggila organisasi ekstra akan melihat satu sisi di atas sebagai kutukan terhadap eksistensi organiasasi ekstra mahasiswa, karena mereka memanfaatkan waktu malam untuk berkumpul bersama, saling mengakrabkan diri, berbagi ide/gagasan melalui diskusi, dan berbagai dinamika organisasi yang tidak boleh dikesampingkan. Kuliah dan organisasi adalah satu hal yang menyatu padu, keduanya harus bersinergi.

Catatan ini butuh banyak pendapat dan ungkapan pengalaman tentang bagaimana perasaan dan pendapat mahasiswa yang mengikuti kuliah malam.

Pada pandangan filosofi yang disampaikan di atas memang benar, tetapi dimanfaatkan untuk mendukung satu sisi yang disebutkan pertama di atas. Belajar memang tak mengenal waktu, dan juga tidak mengenal tempat. Apakah jika seorang mahasiswa tidak masuk ke kampus atau tidak ikut kuliah, itu berarti dia tidak belajar??? Jika ada yang berani mengatakan YA, maka saya juga akan berani mengutuknya agar bisa lebih paham tentang prinsip-prinsip belajar.

Pembelajaran di organisasi merupakan suatu dinamika yang dibentuk secara natural, sehingga secara praktis pergaulan dalam kerangka organisasi adalah proses pembelajaran, bukan hanya pembelajaran praktis seperti ini, namun melalui forum diskusi dan kultur membaca dalam organiasasi, seorang mahasiswa dapat memahami suatu prinsip-prinsip teoritis atas berbagai fenomena, tergantung pada apa yang ia pelajari.

Pada sisi humanisnya, misalnya seorang mahasiswa harus bertemu dengan pacar karena rindu, namun karena ada jadwal kuliah yang tak boleh ditinggalkan (dimarahi pak rektor nanti), rindu itu harus ditumpuk, syukur jika di dalam ruang kuliah dia tidak mengambil atau mencuri kesempatan melampiaskan rindu dengan BBM-an.

Memang betul, mungkin ada waktu lowong di siang atau sore hari, namun apakah dua waktu ini adalah waktu yang baik untuk pacaran? berbeda dengan belajar, pacaran itu punya waktu-waktu yang khusus. Misalnya malam minggu, senin malam. kamis malam.

Lalu manusiawikah universitas yang menetapkan adanya jadwal malam? yang menyita waktu mahasiswa untuk menjadi manusia, padahal kampus hidup dari dompet orang tua mahasiswa.

Manusiawikah kuliah di malam hari? dimana jadwal kuliah malam menjadi alternatif kampus setelah jumlah ruangan tidak mencukupi untuk menampung kuota mahasiswanya. Bersalahkah kami yang kuliah terlalu lama? melewati batas masa studi normal sehingga kuota mahasiswa menjadi semakin banyak?

Mungkin tidak, karena perasaan manusia sudah tidak penting lagi, setelah tuan rumah meraup untung yang besar!

Seandainya kita bukan Islam, kita mungkin akan memelihara anjing, dan lebih bersikap manusiawi terhadap anjing tersebut dibandingkan mahasiswa.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.