Membincang Persoalan-persoalan Seputar Ilmu Komunikasi

Belakangan ini saya sangat sulit mengatur jadwal tidur, akibatnya saya tetap saja terjaga di malam hari, dimana orang-orang sedang taklum oleh buaian mimpi. Sebaliknya, di siang hari saya harus mengikuti kehendak tubuh yang meminta beristirahat dengan tidur.

Beberapa hari yang lalu, ketika matahari sudah jauh meninggalkan peraduannya, saya berusaha untuk tidur lebih cepat dari biasanya, persoalannya karena siang nanti ada jadwal kuliah yang harus kuikuti, sehingga jika tidak tidur pagi-pagi, saya ragu bisa hadir di kelas.

Sungguh, betapa sulitnya kesadaranku kusuruh tertidur, bahkan ketika membaca buku teks yang menuntut perhatian otak pun tak memberikan pengaruh. Sebuah buku pengantar teori komunikasi oleh om Richard West dan tante Lynn H. Turner tergenggam olehku, tidak seperti biasanya, bagian pendahuluan kubaca entah karena motivasi apa, padahal biasanya jika membaca buku teks, saya memulai dengan melihat daftar isi dan menentukan halaman mana yang akan kujumpai.

Entah karena efek belum tidur dan konsentrasi kepalaku sedang baik, atau mungkin tidak baik, bagian pendahuluan itu sangat menarik untuk merefleksikan ulang pemahamanku tentang ilmu komunikasi sambil mempertanyakan ulang hal-hal dasar. Seperti apakah itu ilmu komunikasi? apa itu komunikasi?, jika tidak ada orang yang tidak bisa tidak berkomunikasi lalu apa urusannya dengan ilmu komunikasi? karena jika kita bisa berkomunikasi tanpa harus duduk berjam-jam dan melakukan rutinitas kuliah bertahun-tahun untuk mengikuti kuliah ilmu komunikasi, toh lebih penting kita beternak ayam saja, bukan?.

Sampai sekarang, pertanyaan itu masih menjadi masalah di kepalaku, apakah itu ilmu komunikasi?. Bukankah ini seharusnya pertanyaan seorang mahasiswa baru?, tidak masalah! pertanyaan itu tidak mengenal periode. Nah, sekarang kita coba sedikit serius untuk pertanyaan dasar tersebut. Kita tentu, seharusnya, akan sangat mudah menjawabnya karena sudah banyak buku acuan yang menghamburkan berbagai definisi dan pengertian dari pertanyaan dasar tersebut. Namun, mari sedikit kita memperhatian satu hal berikut ini (Rasanya saya begitu gila berurusan dengan masalah pertanyaan dasar ini, ribuan professor komunikasi terwujud tanpa tersandung oleh pertanyaan ini, bukan?);

Silahkan meninjau kembali beberapa definisi ilmu komunikasi yang cukup populer untuk membangun pemahaman kita tentang ilmu komunikasi. Apakah definisi tersebut sudah tepat, sudah konprehensif dan sudah menjelaskan aspek-aspek penting dalam komunikasi?

Nah, menurutku sudah, tentu saja!

Pokok persoalannya bagiku adalah apakah definisi komunikasi dan definisi ilmu komunikasi itu sama?

Pada satu sudut, komunikasi merupakan suatu "benda" atau merupakan suatu simbol yang menjelaskan adanya suatu hubungan atau interaksi, di sisi lain komunikasi merupakan suatu ilmu dengan seperangkat rasionalisasi, seperangkat penjelasan yang berdasar pada tiga pondasi utama yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi.


Memang betul, komunikasi itu praktis, sehingga ilmunya menjelaskan bagaimana praktek komunikasi berlangsung, persoalannya: kenapa dia masuk dalam gugusan ilmu sosial?. apakah karena subjeknya adalah manusia (berinteraksi dengan) manusia, berbeda dengan ilmu praktis yang lainnya seperti manusia dengan lahan pertanian (ilmu pertanian), manusia dengan mesin (teknik mesin), manusia dengan komputer (ilmu komputer), manusia dengan tubuh manusia (kedokteran), manusia dengan obat-obatan (farmasi), dll.

Disini, ilmu komunikasi menjadi sangat mekanis. Padahal, sebagai salah satu bidang ilmu dalam rumpun ilmu sosial, ilmu komunikasi patut memiliki penelaahan terhadap suatu realitas yang lebih dalam daripada membangun eksplanasi tentang berbagai proses komunikasi. Dengan keterbatasan wawasan dan pemahamanku tentang ilmu komunikasi, saya (jika bisa) bersepakat, walaupun tidak secara keseluruhan, dengan apa yang disampaikan oleh Bernard Berelson (1956) bahwa ilmu komunikasi telah "menua" dan bahwa "tidak ada ide hebat dan menantang yang muncul". Bagiku, ilmu komunikasi bukan menua, melainkan mandeg, hal ini bisa dilihat bagaimana ilmu komunikasi berkembang hanya mengikuti fenomena semata, misalnya: Perkembangan media komunikasi seperti internet dan berbagai situs jejaring sosial, membuat peneliti di bidang ilmu komunikasi punya projek baru dalam mengkaji bagaimana aspek komunikasi atas inovasi teknologi tersebut, pelan-pelan beralih dari kajian-kajian tentang media televisi, atau radio, atau surat-surat fisik yang mulai ketinggalan.

Mekanisasi ilmu komunikasi membawa dampak yang sangat besar, kita tentu sadar bahwa ilmu pengetahuan memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan sistem berfikir suatu masyarakat.

Salah satu misal dari mekanisasi ilmu komunikasi yakni kita akhirnya tahu bagaimana cara berbuat baik, lalu kita pun berbuat baik kepada setiap orang. Namun perbuatan baik itu belum tentu dilandasi oleh dasar atau niat yang baik, melainkan mungkin saja ada kepentingan di belakangnya, misalnya pembangunan citra atau menuntut respon tertentu dari audiens. Menghindari kondisi demikian, ilmu komunikasi mendapatkan bantuan dari hadirnya bebagai metode analisa untuk mengetahui motif, makna dan kepentingan (untung rugi) dalam pesan-pesan komunikasi. Ilmu komunikasi seperti sebuah panggung drama yang mempertunjukkan dua "titik" yang saling berlawanan.

Aduh, betapa tubuhku makin "kacau". Otakku diputar oleh pikiran-pikiran yang ujung pangkalnya hanya akan didapatkan dari buku-buku, sementara tubuhku berkata lain, dia menuntut untuk beristirahat dengan tidur, bukan sekedar berbaring.

Sisa lembaran buku yang kubaca membangkitkan keinginanku untuk mengikuti kuliah pengantar ilmu komunikasi bersama anak-anak (mahasiswa) baru. Belum selesai keinginan itu merayuku, hadir lagi keinginan yang lebih besar untuk bertemu dengan pelopor ilmu komunikasi (Willbur Schramm, Harold Lasswell, Paul Lazarfeld, Kurt Lewin, dll)  lalu memohon berbagai penjelasan atas kesimpulan dari pengamatannya terhadap proses komunikasi.

Mungkin saya hanya butuh kondisi tubuh yang fit, agar pelan-pelan bisa menyentuh tokoh-tokoh modern di bidang ilmu komunikasi. Segiat bagaimanapun nalarku bekerja untuk menyulam penjelasan-penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan bodoh dalam kepalaku, mungkin akan tetap mandeg hingga kuletakkan sementara waktu, lalu melaju pada langkah-langkah memahami "isi" dari "bungkusan" ilmu komunikasi.

Update!
Unsur utama dalam proses komunikasi adalah manusia (walaupun segala unsur dalam proses komunikasi saling terkait) sebagai sumber terjadinya proses komunikasi. Sebagai unsur utama, manusia harus dibedah lalu disaring untuk memisahkan beberapa "saripatinya", sehingga mana saripati fisik manusia, mana saripati sosial manusia, mana saripati spiritual manusia, dan tentu saja dimana saripati komunikasi manusia.

Mulut atau lidah, mata, telinga, hidung atau keseluruhan tubuh manusia merupakan alat untuk berkomunikasi, lalu apa yang menggerakkan seseorang untuk mengkomunikasikan sesuatu dengan alat komunikasi/tubuh kita tersebut?. Pertanyaan ini sebenarnya kugunakan untuk mendapatkan jawaban atas persoalan: dimanakan penggerak atau "sumber energi" komunikasi pada diri manusia?. Apakah pada alat komunikasi itu sendiri, ataukah pada pikiran yang mengelola informasi dan memutuskan untuk melakukan suatu tindakan (komunikasi) dengan mengirimkan perintah secara biologis kepada tubuh kita.

Tidak mungkin seseorang berkomunikasi dengan begitu saja tanpa adanya proses pengelolaan informasi atau pesan, baik merangkai pesan untuk disampaikan maupun menerjemahkan pesan untuk merespon. Berkomunikasi adalah tindakan rasional, terlepas dari persoalan apakah seseorang sadar atau tidak, sehingga rasio manusia semestinya mendapatkan perhatian yang lebih dibandingkan bagaimana proses berkomunikasi secara teknis terjadi.

Definisi-definisi yang kujumpai sepertinya lalai bagaimana pesan itu dibuat oleh seseorang. Definisi "mereka" meloncat dengan hanya menyampaikan bagaimana pesan disampaikan dan terwujudnya suatu interaksi. Adanya loncatan ini membuat kita sedikit alfa pada kenyataan bahwa seseorang memiliki iradah atau kesadaran eksistensial dimana mereka memiliki suatu dunia sendiri, semacam dunia kecil dimana terjadi interaksi kecil antar informasi-informasi, misalnya pilihan kata, susunan kata, dll.

Bagaimana kalau catatan ini saya selingi pertanyaan? (padahal sudah dari tadi saya melontarkan banyak pertanyaan yah)

Jika seorang juru bicara/tulis menulis sebuah teks pidato, apakah dia sedang berkomunikasi?
Atau apakah saat saya menulis catatan yang kacau balau ini, saya belum berkomunikasi hingga seseorang membaca dan merespon catatan ini?

Cara kita mendefinisikan komunikasi atau ilmu komunikasi akan menentukan bagaimana kita menjawab pertanyaan ini.



Semoga ada jalan yang cerah!

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.