Paradigma Ilmu Komunikasi

Paradigma Ilmu Komunikasi


Satu penjelasan mengapa teori-teori mungkin berubah dan mengapa para ilmuan mempunyai perspektif yang berbeda mengenai definisi teori adalah karena adanya fakta bahwa teori-teori individual didasarkan pada tradisi intelektual yang melibatkan asumsi-asumsi yang berbeda. Tradisi intelektual yang dimaksud yakni: cara pandang terhadap dunia, atau “Cara berfikir secara umum yang dimiliki bersama dalam komunitas ilmuan” (Klein & White, 1996, hal 10).


Tradisi intelektual ini yang lebih populer kita temukan dengan istilah paradigma (paradigm). Paradigma adalah landasan (dasar) yang menjadi pinjakan membangun teori yang saat ini mulai akrab dengan kita yang bergaul dalam lingkungan akademia.

Paradigma memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan arah pengembangan suatu ilmu pengetahuan, termasuk ilmu komunikasi. Paradigma, atau bagaimana seseorang memandang dunia, mempengaruhi nilai, tujuan, dan gaya penelitian ilmuan.

Menurut Thomas Kuhn (1970), paradigma cenderung menjadi semakin melekat seiring berjalannya waktu, hingga paradigma tersebut digantikan oleh cara pandang yang baru terhadap dunia yang dilihat masuk akal oleh peneliti. Kuhn menyebut perubahan paradigma ini sebagai revolusi ilmiah. Dalam tradisi ilmu komunikasi sendiri, belum ada suatu revolusi ilmiah yang hadir menjawab permasalahan zaman yang selalu terbarui oleh pembangunan dan perkembangan teknologi. Realitas-realitas komunikasi masih dilihat menggunakan kacamata atau paradigma yang sudah lapuk.

Perkembangan ilmu komunikasi pada masa awal mungkin menjawab bagaimana kondisi tersebut. Walaupun akhirnya tumbuh di bawah asuhan ilmu sosial, Ilmu Komunikasi dibagun oleh para ilmuan dari berbagai cabang ilmu. Sementara pada perkembangannya, memasuki era teori komunikasi modern, ilmu komunikasi ditopang oleh tradisi informasi dan sibernetika (Wiener, 1984) yang sering juga disebut pendekakatan mekanistik, hal ini terjadi pada kurun waktu antara 1950 – 1980-an.

Pasca tradisi informasi dan sibernetika itu, penelitian ilmu komunikasi lebih condong pada proses bagaimana struktur sosial terbangun yang mempopulerkan pandangan fenomenologi. Selain itu, sepertinya minat atau kacamata para peneliti ilmu komunikasi semakin luas, sehingga berbagai penelitian dilakukan oleh pandangan feminis, konstruktivisme, atau marxisme (Rakow & Wackwitz, 2004).

Menurut Dedy N. Hidayat paradigma dalam ilmu komunikasi mengikuti paradigma yang banyak dilakukan dalam ilmu sosial, paradigma-paradigma tersebut diantaranya:

1. Paradigma Klasik
Paradigma ini menempatkan ilmu-ilmu sosial seprti halnya ilmu-ilmu alam fisika. Menempatkan ilmu sosial sebagai metode yang terorganisir untuk mengkombinasikan deductive logic dengan pengamatan empiris. Bertujuan menemukan hubungan sebab akibat yang dapat digunakan memprediksi pola-pola umum dari gejala sosial tertentu.

2. Paradigma Konstruktivisme
Paradigma ini memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action. Ilmu diperoleh melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap prilaku sosial dalam suasana keseharian yang alamiah, agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan atau mengelola dunia sosial mereka.

3. Paradigma Kritis
Paradigma ini mendefinisikan ilmu sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha mengungkap “the real structures” dibalik ilusi atau kesadaran palsu yang ditampakkan dipermukaan. Bertujuan membantu membentuk suatu kesadaran sosial agar seseorang atau masyarakat dapat memperbaiki dan merubah kondisi kehidupannya.
Ada juga pengelompokan paradigma ilmu komunikasi yang dilakukan oleh pakar lain, antara lain Guba dan Lincoln (1994) yang membagi ilmu-ilmu sosial menjadi empat paradigma, yaitu: Positivism, Postpositivism, Constrictivism, Critical.

Paradigma, sebagai sebuah landasang dalam membangun teori, tidak dapat terlepas pada tiga pertanyaan filosofis, yakni: Ontologi, pertanyaan mengenai sifat dari realitas; Epistemologi, pertanyaan mengenai bagaimana kita mengetahui sesuatu, dan Aksiologi, pertanyaan tentang apa yang layak untuk diketahui.


Ontologi Ilmu Komunikasi

Ontologi adalah studi mengenai sesuatu yang ada atau tidak ada, atau dengan kata lain ontologi membicarakan/mempelajari realitas. Ketika menyinggung keberadaan sesuatu, makan kita juga akan membicarakan tentang ciri-ciri esensial dari yang ada dalam dirinya sendiri, menurut bentuknya yang paling abstrak (Suparlan: 2005). Ontolgi sendiri berarti memahami hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri yang dalam hal ini adalah Ilmu Komunikasi.

Ilmu komunikasi dipahami melalui objek materi dan objek formal. Secara ontologis, Ilmu komunikasi sebagai objek materi dipahami sebagai sesuatu yang monoteistik pada tingkat yang paling abstrak atau yang paling tinggi sebagai sebuah kesatuan dan kesamaan sebagai makhluk atau benda. Sementara objek forma melihat Ilmu Komunikasi sebagai suatu sudut pandang (point of view), yang selanjutnya menentukan ruang lingkup studi itu sendiri. Contoh relevan aspek ontologis Ilmu Komunikasi adalah sejarah ilmu Komunikasi, Founding Father, Teori Komunikasi, Tradisi Ilmu Komunikasi, Komunikasi Manusia, dll.


Epistemologi Ilmu Komunikasi

Epistemologi adalah tuntunan-tuntunan (berupa pertanyaan) yang mengantar kita untuk mendapatkan suatu pengetahuan. Dalam contoh yang umim, epistemologi melipoti metode penelitian apa yang digunakan dalam usaha mengetahui suatu realitas (suatu yang telah ditentukan ada). Epistemologi sangat erat kaitannya dengan ontologi sebagai suatu hubungan antara “ADA” dan bagai mana mengetahui/menjelaskan yang “ADA” itu.

Dalam usaha memperoleh pengetahuan, kita mengenal dua proses besar yang menyatu dalam tradisi penelitian ilmiah, yakni objektivis dan subjektivis.

Epistemologi objektivis mempercayai bahwa sangat mungkin untuk menjelaskan dunia, peneliti melakukan usaha mengakumulasi potongan kecil informasi-informasi mengenai kebenaran, hal ini yang sering kita istilahkan dengan fakta. Pada panjangan objektivis, kebenaran dianggap sesuatu yang objektif. Sementara epistemologi kaum subjektivis menolak pandangan bahwa kebenaran ada di luar orang yang mencari kebenaran. Para subjektivis percaya bahwa kebenaran dunia sosial bersifat relatif dan “hanya dapat dipahami melalui sudut pandang individu-individu yang secara langsung terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang akan diteliti” (Burrell & Morgan, 1979)


Aksiologi Ilmu Komunikasi

Posisi tradisional pada aksiologi adalah bahwa ilmu pengetahuan harus bebas dari nilai. Dalam aksiologi olmu pengetahuan, pertanyaan yang masih diperdebatkan adalah bukan mengenai apakah, nilai harus mempengaruhi teori dan penelitian, menailnkan bagaimana nilai harus mempengaruhi keduanya.

Dalam perdebatan tersebut, terdapat tiga posisi yakni; Pertama, proses penelitian terdiri dari banyak tahapan proses dan bahwa nilai seharusnya mempengaruhi beberapa tahapan ini. Contohnya, tahapan pemilihan teori dan pertimbangan mengenai paradigma harus dipengaruhi oleh nilai-nilai dari peneliti. Para ilmuan memilih untuk memandang sebuah masalah penelitian melalui kacamata yang mereka percayai dapat secara akurat menggambarkan dunia. Oleh karenanya, beberapa peneliti memilih kerangka teoritis yang konsisten dengan ontologi pilihan bebas, sementara yang lainnya memilih kerangka yang kaku dan deterministik. Tetapi ketika mereka melakukan uji teori (verifikasi), mereka harus mengeliminasi “nilai extrailmian dari aktivitas ilmiah” (Popper. 1976). Sudut pandang ini memberikan peranan yang sangat terbatas bagi nilai.

Posisi kedua berpendapat bahwa sangat tidak mungkin untuk mengeliminasi nilai dari setiap bagian teori dan penelitiah. Bahkan, beberapa nilai sangat terpatri dalam budaya peneliti, sehingga peneliti tidak sadar memegang suatu prinsip nilai tertentu. Sandra Bem (1993), contohnya, mengamati bahwa banyak penelitian mengenai perbedaan laki-laki dan wanita dipengaruhi oleh pandangan-pandangan yang bias yang dipengaruhi oleh pandangan hidup pada zaman atau lingkungan tertentu. Banyak peneliti feminis berpendapat bahwa, ilmu sosial itu sendiri berada di bawah pengaruh pria (Harding, 1987).

Pendapat yang terakhir adalah bahwa bukan hanya nilai yang tidak dapat dihindari, melainkan merupakan aspek yang diinginkan dari proses penelitian. Misalnya, salah satu tujuan dari teori adalah perubahan sosial. Siapapun yang memiliki tujuan ini disebut teoritikus kritis. Mereka memandang bahwa teori dan penelitian sebagai tindakan politis yang meminta para ilmuan untuk mengubah kondisi status quo. Jadi, para ilmuan harus memberikan kontribusi untuk perubahan kondisi daripada hanya sekedar melaporkan suatu kondisi.



Catatan ini merupakan resume dari buku : Pengantar Teori Komunikasi; Analisis dan Aplikasi. Edisi 3.2009. Richard West & Lynn H. Turner.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.