Memilih Nama Anak

Sebelum berangkat ke kampus bersama, istriku menyempatkan diri untuk browsing. Dia mencari daftar nama-nama untuk anak. Entah apakah dia sudah mendapatkan nama-nama itu atau dia akhirnya terinspirasi sendiri untuk memilih nama dari benaknya.

"Kak, nama anak kita yang bagus apa?", Tanyanya, saat saya mondar-mandir karena bingung memutuskan apakah siang ini harus mandi atau tidak.

Saya tidak langsung menjawabnya, bukan karena tidak kepikiran, namun rasanya kusah untuk kukatakan langsung. "Kepanjangan yah kalau namanya 4 kata?", kataku.

"Iyalah, emang apa, kak?"

"Gimana kalau, Khairun Naas ???"

"Lanjutannya?"

"Khairun Naas Anfauhum Linnas". Kataku sambil tersenyum, saya menyadari betapa pilihan nama untuk anakku nanti sangat tidak pas. Biasanya orang-orang hanya menggunakan kata Khairun Naas saja.

"Mirip namanya k Uki". Kata istriku mengingat seorang senior di Malang yang berasal dari Bulukumba.

"Nama anak kita lebih lengkap!", kataku.

Lama kami terdiam, saya lalu kepikiran tentang suatu perencanaan hidup dalam membangun keturunan. Kami sudah membangun rencana untuk merawat anak-anak yang hebat. Misalnya anak pertama akan menjadi pemimpin/pengayom, kemudian yang kedua adalah seorang dokter atau mungkin pekerja sosial, ketiga adalah seorang bisnismen, trus yang keempat adalah seorang penulis atau ilmuan, kemudian kelima adalah alim ulama (saya sebenarnya lebih suka kata cendekiawan).

Untuk mereka semua, sebenarnya sudah kusiapkan nama masing-masing. Anak pertama, olehku bernama Al-Ikhlas Nusantara, nama ini ditertawai oleh bundanya karena kata Al-Ikhlas lebih cocok menjadi nama sebuah masjid, saya berdebat kecil atas kata-katanya itu. Akhirnya, anak pertama kami bernama Muhammad Firdaus Nusantara, nama ini pun melewati banyak cerita, salah satunya permohonan neneknya agar dia diberi kesempatan untuk menamai cucu pertamanya, dan sang nenek memilih nama Muhammad Firdaus, Saya dan sang istri tidak puas dengan nama itu, akhirnya kuusulkan untuk menambahkan Al-Ikhlas sebagai nama belakangnya, sementara istriku memilih Nusantara untuk nama belakangnya. Lama kami menimbang-nimbang, akhirnya saya mengalah dan memantapkan hati untuk nama yang berlaku saat ini.

Nah, sebagaimana rencananya. Adik Nusantara merupakan calon dokter atau pekerja sosial yang akan kuberi nama Khairun Nas Anfauhum Linnas, atau lebih spesifik pada pribadi seorang dokter yakni Syifa'un Lin Naas.

Anak ketiga, kami berharap bisa kembar, sehingga nama yang kami pilih adalah Alif Lam Mim dan Alif Lam Ra. Sementara adiknya, yang semoga saja kami masih mampu mengemban amanah sebagai orang tua, yang kami harap akan jadi seorang penulis atau seorang ilmuan akan bernama Iqra Bismi Rabbika.

Lalu yang terakhir, akan kami beri nama Khatamal Anbiya. Nama yang terakhir ini, jujur saja, adalah pilihan nama karena keceplosan.

Istriku sepertinya tidak puas dengan-nama-nama itu karena tidak satupun nama itu karena dari sarannya, ketika ia mencoba menyarankan beberapa nama untukku, saya katakan kepadanya dengan cara yang halus, bahwa memilih nama itu tidak hanya memperhatikan arti kata, tetapi harus paham makna. Misalnya salah satu nama yang dia ajukan adalah Amira yang berarti putri, sebenarnya arti kata itu bagus, tapi bagaimanakan kita akan memaknai putri itu?.

Bagiku, nama adalah sebuah simbol atau konsepsi yang unik dari kehidupan manusia, ada banyak cara dalam menentukan nama, misalnya melihat bulan kelahiran, melihat peristiwa apa yang terjadi saat ia lahir, memilih nama-nama orang hebat, memilih nama dari asma'ul khusnah, mencari kata-kata dalam al-qur'an yang memiliki arti yang baik-baik, dll.

Saya sendiri ingin memberikan nama kepada anak-anakku yang bukan berupa sebuah kata dengan arti tertentu, bukan hanya "retweet" dari nama-nama orang hebat sebelumnya, melainkan sebuah nama yang mengandung pesan, semacam slogan dalam kampanye program tertentu.

Misalnya anakku nanti yang bernama Iqra Bismi Rabbika, bukan hanya kuharap untuk menjadi seorang penulis atau ilmuan, tetapi nama yang terpasang padanya memiliki efek atau manfaat kepada orang lain, yakni mengingatkan orang untuk membaca atas nama tuhan, atau menuntut ilmu tanpa melupakan kehadiran sang maha pencipta.

Biasanya, orang hanya akan memotong kalimat itu, dan hanya mengambil kata Iqra yang nantinya disampirkan pada kata atau nama awalan/akhiran, misalnya saja Muhammad Iqra. Bagiku (mohon maaf jika ada yang tersinggung, apalagi yang bernama Iqra) nama itu hanya bermanfaat bagi dirinya sebagai sebuat simbolisasi akan kehidupannya dan sebagai sebuah doa baginya, itu saja! Nama tersebut tidak memiliki muatan pesan yang dapat disampaikan kepada orang lain.

Obrolan kami usai saat kuputuskan dengan sangat berat untuk mandi sebelum masuk kampus. Dalam hati, kupanjatkan 'semoga' kepada pemilik kuasa, agar saya dan sang istri diberikan kekuatan membangun generasi-generasi hebat yang tidak hanya bermanfaat bagi keluarga, tetapi ummat manusia. Bismillah!

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.