Kisah Cinta Santi dan Raka | Bingung cerita ini harus dikasi judul apa...

Di sebuah dunia, sepasang manusia duduk berhadapan dengan perasaan yang bercampur, mereka saling bergantian mengucapkan kata, berbagi respon cerita atau sekedar tatapan mata, dan dengan semangat yang entah datang darimana, mereka lupa memperhatikan cuaca.

Di langit, cerah siang hari pergi, mungkin karena rasa iri tak mendapatkan perhatian dari pertemuan dua hati, yang pernah saling berjanji untuk sehidup semati. Raka dan Santi, berbagi senyum dan beragam ekspresi yang menjulurkan makna yang kaya, setiap maknanya ambigu. Entah apa sebab, kata-kata yang mereka ucapkan, beserta maknanya, sebenarnya tak berguna, karena pada dimensi lain, hati mereka saling berbicara dengan bahasa yang maha.

Dulu, baik Raka maupun Santi, adalah sepasang cinta dan kasih. Raka mencinta Santi setulus hati, dan Santi sangat menyayangi Raka dengan harapan mereka akan berdua sebagai sepasang kekasih, selamanya.

Namun kini, karena suatu peristiwa yang menuntut kerelaan hati, dimana kehidupan mengemis untuk ditaati, mereka berpisah.

*** 

Satu malam, bapak Santi menyuruh anak gadis satu-satunya itu untuk berdandan dengan baik, karena selepas shalat Isya, kerabat bapaknya akan datang dari kampung seberang untuk bersilaturahmi. Silaturahmi ini, pelepas rindu dari dua kawan lama, pelepas kebekuan komunikasi antara dua keluarga. Silaturahmi seperti ini juga, dianggap oleh banyak orang sebagai pelepas tali kasih dari dua manusia yang saling mencintai.

Santi cukup merasa ragu saja dengan anjuran bapaknya yang disampaikan dengan halus, dengan cara-cara khas ala bapaknya. Dengan kejumawaan orang tua yang saat muda dulu, mengecap banyak pengalaman, menginjak banyak tempat, menyentuh banyak budaya, dan dirayu oleh kemilau perubahan.

Bapaknya, adalah orang yang sangat dicintainya.

Lanjut cerita, sang tamu yang dinanti datang lebih cepat. Entah karena mereka berangkat meninggalkan kampung seberang lebih awal dari rencana, atau kondisi lalu lintas yang memudahkan perjalanan mereka. Keluarga Pak Awal berpapasan dengan adzan Isya di pintu rumah Pak Kasim. Pak Awal mengetuk pintu rumah, sementara adzan mengetuk pintu hati, semuanya menuntut dibukakan jalan sekaligus diberikan perhatian. Kedua keluarga ini pun saling melepas rindu dengan ucapan alhamdulillah, melepas rindu dengan berjabak dan saling berpelukan, melepas rindu dengan saling bertukar tawa, dan di sudut yang lain seorang gadis remaja bersiap siap untuk masa depan yang penuh rindu.

Pak Awal dan keluarganya sangat baik dan sangat tahu bagaimana cara menghargai, baik kepada orang yang lebih tua, seumuran maupun kepada anak-anak. Selepas shalat isya berjamaah, dua keluarga ini berkumpul di ruang tengah sambil bercakap-cakap, Bu Kasim dan Bu Awal duduk tak lama karena mereka berdua beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

Usai makan malam, keluarga ini cukup serius ketika mereka saling menyinggung masa depan anak masing-masing, memberikan komentar atau pandangan dan sebagainya. "Mungkin si Santi ini sudah punya kenalan laki-laki dan sedang belajar serius, jadi kita tak perlu kaku menentukan masa depan, biar dia berjalan di jalurnya, mungkin begitu, Pak Kasim". Kata Pak Awal mencoba mencairkan suasanak karena melihat anaknya curiga, begitupula Santi.

"Betul, sebenarnya keluarga kita cukup dengan silaturahmi, Pak Awal. Hanya saja, Santi ini anakku satu-satunya, saya tidak mau dia salah pilih orang. Jaman sekarang ini, banyak sekali orang baik terhambur, tapi kebaikan mereka itu menakutkan saya, Pak Awal. Mereka baik karena Menginginkan sesuatu".

"Hahahaha, baik atau tidak baik itu bukan perkara penting, Pak Kasim. Tuhan punya kuasa memberikan petunjuk dan pertolongan bagi hambanya yang kuat!".

"Hahahaha, kau ini betul-betul masih seperti yang dulu. Inilah yang kusuka dari kau! Selalu bebas berkata dan menyarankan nasihat".

"Dan kau masih tetap keras kepala seperti yang dulu!".

Keduanya tertawa, bekerja sama membangun suasana akrab antara kedua karib lama yang kini sudah sama-sama telah membangun keluarga yang bahagia. Rahman, anak Pak Awal, tak banyak mengeluarkan kata karena bingung menaksir kata-kata dan maksud. Santi sudah sejak tadi tak disitu setelah betul-betul paham apa maksud silaturahmi itu, walaupun pemahamannya itu berdasar pada perkiraan-perkiraan saja, dia bergabung dengan ibunya dan Istri Pak Awal di dapur.

"Hahahahahaha.... hahahahaha", Ruang tamu semakin bingar.

Malam itu, kebahagiaan mengantar mereka memasuki mimpi-mimpi tak termaknai, kecuali Santi yang menghalai kebahagiaan dengan rasa penasaran, kesimpulan apa gerangan yang akan dihadapinya nanti, dan kenapa pula hari itu tak ada satu pesan pun dari Raka menyapanya. Gulana hati Santi malam itu, dengan sabar dan penuh sikap keshalehan seorang wanita muslim, dia menyerahkan hidup dan matinya kepada sang kuasa. Bismika Allammua Ahya, wa Bismuka Amutu!

Santi kini milik tuhannya!

***
Santi : Maafkan aku, Raka. Aku tak tahu kenapa bisa jadi begini.

Raka : Tak apa, aku senang kau tak bertengkar dengan ayahmu hanya karenaku.

Santi : Raka, kau bisa menuntutku untuk memilih.

Raka : Tak perlu sayang, mungkin beginilah cara kita ditaktirkan menjadi jodoh.

Santi : Santi ingin hidup bersamamu!

Raka : Hidup ini bukan milik kita, aku juga ini hidup bersamamu sayang, tapi apalah. Bukankah saat akan tidur tadi kau sudah menyerahkan hidup matimu kepada tuhan?

Santi : Raka ?

Raka : Kau juga harus merelakan hidup orang-orang yang kau cintai kepada tuhan.

Santi : Aku tak sanggup jika harus begitu Raka, biar saja hidupku yang kupertaruhkan!

Raka : Andai saja memang bisa sayang...

Santi : Raka, aku sayang padamu. Sungguh tuhan mungkin sudah bosan mendengar doaku yang itu-itu saja.

Raka : Bersyukurlah Santi, Tuhan sudah berbaik hati mempertemukan kita, aku yakin dia menjawab doamu, tapi dengan cara yang lain, yang tentu saja lebih baik. Bukankah Tuhan itu maha Tahu?, dia penuh dengan kasih sayang dan cinta, dia tak pernah memberikan kesulitan yang memenjara!

Santi : Raka, berusahalah! Tolong aku, bicaralah pada bapakku, kalau bisa sekarang juga. Sebelum telingaku mendengar kesimpulan silaturahmi malam ini.

Raka : Santi sayangku, kupertaruhkan leherku untuk dapat memelukmu sebagai istriku. Mataku akan lebih galak di hadapan badik bapakmu yang telanjang karena mengusirku setelah kupaksa walaupun ia tetap saja menolakku ribuan kali.

Santi : Raka ?

Raka : Atas nama Tuhan, Aku sudah kepalang cinta padamu, Santi. Tapi tuhan berkehendak lain!

Santi : Raka ? kuterima cintamu atas hidayah tuhan yang maha pengasih.

***

Pagi datang dan berlalu tanpa banyak merubah suasana semalam. Bu Kasim dan Bu Awal membersihkan peralatan makan selepas sarapan, ada Santi yang membantu mereka dengan suasana hati yang nyaris sama dengan suasana semalam. Demikian tiga pria dalam rumah itu, tetap saja sibuk berbagi cerita, kini Rahman berusaha terlibat.

Sebenarnya, mudah saja bagi Rahman untuk terlibat pembicaraan yang dikuasai oleh dua orang tua ini, Rahman cukup supel dan mudah akrab dengan banyak orang dari berbagai golongan, beragam umur dan macam-macam karakter. Rahman adalah pria yang cerdas, paham etika dan pintar mengenali siapa lawan bicara. Teman-temannya di kampus suka padanya, itu karena Rahman pintar memilih bahan pembicaraan dan membangun suasana yang menyenangkan. Semalam, dia hanya ragu untuk berkata, karena kepalanya penuh dengan sangka-sangka.

Sikap Rahman yang begitu ramah membuat dirinya lebih nyaman membangun hubungan teman atau persahabatan dengan kenalan wanitanya di kampus atau di tempat lain. Dia sadar bahwa pacaran, seperti anak muda lain, cukup menyusahkan baginya. Itulah sebabnya mengapa ia tak pernah meminta pendapat kepada hatinya tentang sosok wanita yang tampak di matanya.

"Jadi begini saja, Pak Kasim. Anakku ini, Rahman, sudah besar dan dewasa, sebentar lagi dia sarjana. Kau tau sendiri kan, calon sarjana itu lebih pintar memilih keputusan dibandingkan kita yang tak pernah sekolah tinggi ini? Sementara Anakamu itu cantik, tentu saja banyak laki-laki yang tertarik padanya. Dengar baik-baik kau Kasim, lebih baik kau panggil Santi dan suruh dia menemani Rahman keliling kampung, mereka bisa akrab tanpa harus jadi pasangan hidup!", Pak Awal merubah suasana menjadi lebih santai sekarang.

"Betul, Pak! Saya juga mau senang-senang!".

"Hahahahahahaha. . . . Baiklah kalau begitu, saya ikuti permainanmu Awal. Padahal saya hanya berfikir kita berdua bisa membangun keluarga yang kuat, kita saling mengenal, dan anak-anak kita adalah anak-anak yang hebat! Dan kau Rahman, Bapak harap kau jangan terlalu menuruti kata-kata bapakmu, dia ini gila!".

"Saya takut durhaka, Pak Kasim!", Rahman tersenyum, spontan ketiganya tertawa!

_____

Sore pun tiba, dari pekarangan rumah, Rahman dan Santi terlihat jalan berbarengan dengan saling membagi senyum, hingga mereka menyadari bahwa rumah sudah dekat dan mereka diperhatikan oleh keluarga masing-masing, senyum itu kini tenggelam di muara malu.

"Kau lihat sendiri, Kasim. Anak kita tak perlu dipaksa!".

Pak Kasim hanya diam, menatap istrinya, lalu memalingkan pandangannya kepada Pak Awal, Kopi hitam dan pisang goreng yang tersaji di atas meja menjadi pelampiasan perasaannya.

Saat Rahman dan Santi semakin mendekat, dua pasang suami-istri ini beralih dari pekarangan, meninggalkan hawa hangat di permukaan kursi yang kini kosong, dan sajian kampung ala kadarnya. Rahman dan Santi menggantikan mereka dengan spontan karena mereka sama-sama tahu apa yang harus mereka tunjukkan kepada orang tua masing-masing yang bersembunyi di balik kain jendela sambil memasang mata, mengintai.

Santi, sejak kebekuan komunikasi dileburkan oleh Rahman, mulai ringan berbagi cerita, bahkan tentang perasaannya semalam bahwa dia takut kalau sampai silaturahmi itu berujung perjodohan. Rahman meresponnya dengan canda-canda yang renyah, ia merayu dan santi tau kalau itu pura-pura. Rahman mencoba mengadu dan Santi tahu bagaimana harus malu. Pelan-pelan mereka mulai saling memberi dan menerima, setelah ekting "rayu dan malu" berakhir sebagai pemecah kebekuan.

Santi bercerita tentang Raka, ia sebenarnya cemas karena sejak kemarin ia belum dapat kabar tentang Raka, tak ada telfon dan sms, bahkan tak ada satu pun pesannya yang terkirim. Dengan sangat dewasa, Rahman memberikan perhatian, ia berlaku seperti kakak yang hendak membela adiknya yang diganggu resah.

Sore yang segar, rimbun pohon mangga memayungi Rahman dan Santi dari terpaan matahari sore, walaupun ada saja beberapa bias cahaya yang lolos dari cela daun. Rahman senang dengan suasana sore itu. Ketika diliriknya berbagai jenis bunga yang tersusun indah di sisi lain dari tempat mereka bersantai, dia melihat suatu tanda, semisal di hatinya akan mekar bermacam-macam bunga dengan warna cerah yang saban sore disiram oleh gadis desa yang menghalau perkembangan zaman.

Perasaan itu disampaikannya pada Santi. Dengan senyum indah, Santi menyampaikan doa, semoga Rahman diberikan jodoh yang baik, membuat hatinya seperti bunga yang harus diperhatikan dengan penuh cinta kasih. "Aamiiin", kata Rahman.

"Dan semoga, Kak Rahman, menjadi laki-laki yang bertanggung jawab!". Kata Santi sembari tersenyum.

"Kau ragu?".

"Mana kutau!"

"Hahahaha" Rahman dan Santi tertawa, tak pernah menyangka bahwa tawa takkan abadi.

Demikian mereka mulai akrab satu sama lain, dua pasang suami istri yang kompak mengintip anak-anak mereka bahagia menyaksikan pesan bahwa kekerabatan mereka akan dilanjutkan oleh generasi selanjutnya. Sebenarnya, pesan itu memiliki makna yang lebih dalam!

Tawa lainnya ikut terhambur, sajian yang terhidang di atas meja cemburu karena tak diperhatikan. Percuma rasanya hidangan itu tersaji tanpa perhatian. Belum reda kecemburuan sajian itu, Rahman bergerak mengambil gelas kecil berisi kopi, sementara Santi mengambil sepotong pisang goreng yang sudah dirasuki suasana sore, tak hangat lagi.

Baru saja hidangan itu akan merasa bahagia karena dinikmati, Rahman dan Santi tertahan. Dari ujung pekarangan, Laras berteriak, "Santiii.....!" tanpa peduli bahwa dia merusak suasana sore yang damai itu.

Santi berdiri, menaruh sepotong pisang goreng di tempatnya semula, mendatangi Laras, "Kau kenapa, Ras?".

"Santi???", Ucap Laras penuh kebingungan sambil menatap wajah Santi dalam-dalam, seperti ingin menyampaiakan berita yang dibawanya dengan tatapan mata saja, lidahnya tak tega.

"Tenang! Kau duduk dulu, ada apa?".

Laras duduk, berusaha menenangkan diri, ia melirik Rahman lalu memalingkan wajah kepada Santi dengan penuh tanda tanya. Santi paham maksudnya, "Kenalkan, ini.....".

"Santi!", Laras cepat memotong!

Santi menatapnya dalam-dalam, sadar jika ia akan mendengarkan kata-kata yang penting.

"Kuatkan hatimu, San! Raka sudah tiada, kemarin siang dia kecelakaan di perjalanan pulang ke rumahnya", Laras berkata seperti menikam lawan. "Maafkan aku, San!", lanjut Laras, sadar bahwa caranya menyampaikan berita itu sangat tidak tepat. Tapi bagaimanakah cara yang tepat menyampaikan berita duka?

Percuma Maaf itu terlontar, Santi sudah tidak memperhatikannya. Dia kehabisan kata-kata! Santi mematung tak bisa berbuat apa-apa, dia tak berteriak, dia tak menangis, bahkan air matanya terlambat hadir hingga Santi mulai menyadari maksud mimpinya semalam.

Padahal betapa tubuhnya ingin berontak, mulutnya sepeti ingin berteriak, hatinya memaksa untuk menangis. Betapa ia ingin menuntut sesuatu kepada sesuatu, betapa ia ingin meledak! Tapi karena kebesaran cintanya kepada sang kekasih, ia mampu menguasai berbagai betapa itu. Pahamlah ia kini, bahwa ia harus ikhlas merelakan orang yang dicintainya untuk Tuhan.

Lamat-lamat, sosok Raka hadir di benaknya seperti semalam, mengenakan kaos kasual warna putih. Ia mengangguk dan menjatuhkan air mata pertamanya saat ia mengenang kata-kata Raka tadi malam.

"Ikhlaslah Santi, Kisah cinta kita telah tercatat di Lauhul Mahfudz, dan kita akan mengenangnya di Padang Mahsyar nanti".

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.