Kesedihan Seorang Istri | Sebuah Drama Keluarga yang Populer

Samar-samar, kudengar isak tangis dari ruang tengah di rumah, suaranya sendu, kesannya sangat pilu. Saya yang mendengarnya dari dalam kamar segan untuk mendekati isak tangis itu, takut kehadiran dan perhatianku malah membuat sendu itu menjadi pilu, isak menjadi tangis dan tetesan air mata menjadi aliran air mata.

Malam minggu ini seperti biasanya, saya dan sang istri berdiam di rumah, sebenarnya tidak ada istilah malam minggu dalam hubungan kami, seperti tiada televisi di dalam rumah kami. Kupikir, istriku sedang merenungkan sesuatu dan terisak setelah memori kehidupannya menyinggung suatu peristiwa yang membuat perih di sudut hati.

Ibaku tak bisa bertahan dengan hanya berdiam diri di dalam kamar sambil berselancar di internet, kulirik ke ruang tengah, astaga wajah istriku sudah dihancurkan oleh luluran air matanya, isak tangisnya tak lagi membuat mulutnya mampu berkata apa-apa, sementara matanya, tidak memperdulikanku. Di kepalanya melingkar sebuah headset yang “menghubungkan” telinga kiri dan telinga kanannya. Matanya nanar menelusuri adegan demi adegan yang berjalan begitu gontai di layar kaca laptonya.

Tubuhnya bersandar ke dinding rumah, sementara kakkinya menjulur ke depan melalui kolong meja lipat, sesekali ia merubah posisi, melipat kaki dan akhirnya bertopang lutut sambil menunggui perubahan gambar yang naratif: sebuah sinema Korea.

Kusadari kondisinya, kepahami sudah makna isak tangis dan linang airmatanya. Saya berdiri dan melintas sambil memalingkan wajahku ke arahnya, mencoba meminta perhatian darinya, “Apa-apan sih? Film ditangisin!” kataku saat pandangannya menyatu di mataku. Entah dia mendengar kata-kataku barusan atau tidak.

Dan betapa menyenangkan malam ini bagi istriku, sebuah malam minggu penuh drama. Kini, hidungnya pun mulai berurai air mata. Kondisi itu membuatku tidak tega melerainya untuk berhenti dari menyaksikan adegan-adegan drama, memutuskan kontaminasi “budaya” yang secara gaib menanam pohon “sesuatu” yang menandaskan isi otaknya.

Sebagaimana pengalamanku, dia tak bisa dilerai di tengah cerita. Maka saya harus ikhlas membiarkannya, setelah itulah baru kubersihkan sisa kotoran drama yang melekat di kepalanya semampuku.

*

Saya bukan seorang phobia terhadap film, saya sendiri pun sangat senang dengan gambar bergerak. Saat saya menonton, seperti ada suatu interaksi antar budaya, dimana budaya dalam film bercengkrama dengan budaya hidupku, sehingga tak jarang saya berkomentar, “Keren”, sebagai penilaianku terhadap suatu adegan setelah kutimbang menggunakan referensi budayaku.

“Loh, kok mereka begitu yah?” atau “Wuih” atau tanggapan-tanggapan apa saja yang menunjukkan ada keterlibatan otak dalam menonton suatu film, bukan hanya tertawa, sedih, marah, takut, atau ekspresi perasaan lainnya.

Hanya saja, saya tidak senang pada film korea kontemporer atau populer atau termasuk dalam kategori apalah jenis-jenis film korea yang “Akhhhh” ini. Bukan hanya sekedar film korea saja, namun drama yang berasal darimana saja, cis saya membencinya diantara penghargaanku kepada sutradara atau produser yang bekerja keras membangun film yang berhasil menarik perhatian banyak orang-orang bodoh.

*

Sudah setahun lebih, saya hidup dengan sang istri tanpa ada televisi diantara kami. Kami pun merasa tidak membutuhkannya, atau mungkin jika mendengar pendapat istriku: “Kalau ada kita nonton, tapi kalau gak ada yaa gak dicari-cari”.

Inti dari tidak adanya usaha mengadakan televisi di rumah adalah menghindari kontaminasi drama dalam hubungan kami. Pernah suatu saat istriku mendekati saya saat sedang serius menelusuri kalimat demi kalimat dalam sebuah buku, dan dengan spontan istriku mulai menggoda dan berkomentar, “Aihh, kakak ni ndak romantis sekali, bah!”, katanya dalam logat melayu (ini salah satu saja dari berbagai komentarnya). Kata-kata seperti ini selalu berhasil membuyarkaan konsentrasiku dan berhasil memompa emosiku dalam hitungan waktu yang sangat cepat (menggunakan perhitungan kecepatan cahaya).

“Tau apa kau tentang romantis? Darimana kau belajar? Dari film drama? Kau mau jadi orang kampung yang, bahkan untuk jadi wanita romantis, harus menonton ratusan episode film drama serial?”

Itulah kontaminasi drama, melebih-lebihkan kadar perasaan, membuat cium tangan tenggelam di tengah arus cium dahi yang mulai semakin populer menyampaikan perasaan cinta terhadap pasangan. Membuat cium tangan hanya persoalan menghormati, oleh istri kepada suami, dibandingkan cium dari yang “diarti-artikan” sebagai tanda kasih sayang, kelembutan, perhatian, perasaan cinta, doa agar selamat dalam perjalanan dan cepat kembali karena memori dan hati tak bisa bertahan dalam menanti.

“Kau ingin hidup seperti mereka!”, kataku.

Kalau kau punya uang, kau meniru gaya hidup mereka: fashion, food, dan fun. Sementara jika kau orang miskin yang tidak bisa mengikuti aspek itu, maka hanya perilaku yang kau imitasikan, duplikasi atau apalah istilahnya. Kau merasa ingin memiliki pasangan hidup yang ganteng dengan standar ganteng sesuai yang dijelaskan oleh televisi, wajah menarik, make up tebal sampai jerawat tidak kelihatan, body berbentuk, pandangan mata yang dibuat-buat, rambut yang dipakaikan semir sepatu hingga hitam dan kaku, dll.

Kalaupun kau tak mampu meniru apa-apa, standar-standar nilai kehidupanmu akan menyerupai realitas dalam layar kaca itu, perasaan saat menonton menjadi sebuah pengalaman yang tidak ada bedanya dengan pengalaman dunia nyata. Nati, setelah punya anak, mereka akan dididik menggunakan standar-standar dalam film, anak yang cerdas harus bisa bilang “My everything” seperti dalam iklan Babelac, anak yang pintar adalah anak yang ini atau itu dan sebagainya! Kasihanilah anak-anak, yang kita didik bukan dengan segenap kemampuan kita mendidiknya menjadi manusia-manusia terbaik, tetapi segenap keinginan untuk menjadikannya “bintang film” dari drama yang kita rekayasa sendiri.

Orang tua, yang tidak kaya pengalaman di masa mudanya, (dihabiskan dengan menonton dan dipengaruhi film) akan menyampaikan cerita apa kepada anak-anak mereka? Cerita aptasi dari film?. Carikan saya tali untuk gantung diri!

*

Kukatakan pada istriku, Kau ingin menjadi wanita ceria sekaligus bodoh, selalu membiarkan dirimu disakiti oleh si penjahat dan tidak mau melawan, karena kau menunggu seorang pangeran untuk datang menolongmu. Kau ingin tuhan itu adalah sutradara film drama?

Sebenarnya, saya suka dengan film drama, bahkan lebih senang dengan film bergendre drama dibandingkan action, apalagi horor. Saya senang dengan drama keluarga, drama komunitas hingga drama sains. Saya bisa masuk dalam kategori film addict atau film buffs (meminjam istilah dalam film "The Dreamers" yang dibintangi oleh Eva Green, salah satu aktris idolaku), yang menganggap bahwa apa saja bisa ditemukan dengan film, mulai dari uang sampai pacar, mulai dari amal sholeh hingga munkar, dll. Tapi bukan berarti kecanduan film itu harus tunduk oleh pengaruh yang dibawanya!

Pernah nonton film berjudul “The Thing”, sebuah film yang dibintangi oleh (aktris idolaku lagi), Mary Elizabeth Winstead? Dalam film tersebut, sekelompok peneliti (ilmuan) Norwegia menemukan sebuah pesawat yang terkubur di bawah gunung es, bukan hanya pesawat yang mereka temukan tapi ada juga makhluk (luar angkasa) yang ditemukan membeku. Para peneliti itu mulai meneliti si makhluk yang sebenarnya adalah ancaman bagi nyawa mereka.

Makhluk itu, ‘memangsa’ makhluk hidup lalu membuatnya sebagai inang. Jadi si makhluk seperti memindahkan semacam gen atau apalah, kepada manusia. Gen ini menyerang sistem genitas seseorang, dia menduplikasikan dirinya, sehingga seseorang tetap dalam wujud manusia normal, tapi tidak dikuasai lagi oleh dirinya sendiri, melainkan oleh makhluk luar angkasa tersebut.

Mungkin demikianlah bagaimana otak istriku atau istri siapa saja, diduplikasi oleh “sesuatu” yang ditularkan melalui interaksi seseorang dengan layar laptop yang menampilkan narasi cerita. Sebenarnya bukan hanya narasi cerita semata, tetapi kesan, hegemoni, kekuatan pesan dan sebagainya.

Andaikata statusku dengan wanita yang telah menjadi istriku sekarang ini, masih dalam tahap pacaran atau masih saling meraba-raba kepribadian untuk memutuskan suatu kejadian, mungkin saya akan bertanya; apakah dia suka nonton film drama serial atau tidak. Jawabannya atas pertanyaan ini, menjelaskan apa yang seharusnya kukatakan padanya, dengan cara-caraku sendiri, bukan meniru cara-cara “katakan cinta” yang banyak di obral di pasar, di televisi, dalam adegan-adegan WOW.



Tuhan, lindungi aku, istriku dan seluruh keluargaku dari godaan televisi dan film yang tidak bergizi !!!

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.