Uang, Selalu Lebih Mujarab Dibandingkan Doa [Judul yang tidak pas]

Lamunanku buyar seketika saat kata ‘biaya’ tampil di panggung bayang-bayang secara spontan, tanpa skenario. Seperti dalam adu silat, lawanku memilih jalan pintas untuk melumpuhkanku, tentu saja dengan jurus paling tidak mematikan, uang.

Sebelumnya, di panggung bayang-bayang itu terlukis sebuah lahan berukuran 25x50 meter, ditumbuhi semak belukar yang tumbuh bebas tanpa visi misi, kubabat hingga bersih. Di beberapa bagian kugali parit dengan ukuran tertentu yang nantinya akan kutanam batu koral disana, menjadi pondasi bagi dinding-dinding yang akan disinari oleh temaram lampu-lampu berwarna kuning emas, menjadi saksi atas setiap tingkah dan ocehan-ocehan yang menunjukkan ramainya tempat itu suatu saat nanti, ketika cita-cita membangun sebuah kedai minuman dan warung makan mewujud.

Beberapa orang dengan keterampilan khusus, akan bekerja disana, dengan gaji yang pantas, termasuk gaji untuk pelayanan yang ramah dan komunikatif, memperlakukan pelanggan yang datang sendirian atau sedang duduk menunggu teman sebangku sebagai tamu, sebagai karib kerabat, bukan pelanggan dalam maksud yang formal.

Nama kedai itu; Orangbiasaji, dengan tagline; Tempat orang hebat beristirahat. Maksudnya, memberikan kesempatan kepada orang-orang hebat yang datang kesana untuk menjadi Orangbiasa sejenak, menikmati kesannya, mengistirahatkan bebannya sebagai orang hebat, agar selanjutnya dia bisa mensyukuri kehebatannya.

bayang-bayang imajinasi
Bayang-bayang imajinasi

Tentu saja kedai minuman dan warung makan ini untuk manusia-manusia kelas atas, yang terbiasa dengan menu makanan dengan nama yang aneh-aneh dan pilihan minuman yang berkarakter. Tapi bukan berarti menu minuman atau makanan yang tersedia di tempat ini adalah selera orang berkelas, melainkan sebaliknya, begitupula dengan penyajiannya, biasa saja, hanya harganya yang tetap berkelas.

Sebenarnya, kedai dan warung ini tidak mengambil keuntungan dengan menghitung berapa biaya yang dikeluarkan untuk sekali penyajian yang sudah termasuk jasa chef dan penyajinya, atau mungkin sering disebut dengan modal. Melainkan dari ide, dari konsep dan demi kepentingan masa depan.

Di lantai atas, akan kubuat beberapa kamar dengan jendela yang besar-besar, dengan dinding berlapis kayu mahoni yang dipernis hingga mengkilap, di setiap ruangan ada sebuah stan dengan 3 kaki yang terbuat dari balok kayu yang kokoh, pada stan itu terpajang sebuah whiteboard berukuran sedang, mungkin 75x150 cm. Di lantainya ada karpet yang terhampar bebas tertindih meja-meja kecil dengan kaki-kaki pendek. Di ruang-ruang itulah, anak-anak usia sekolah akan bebas memilih lokasi duduknya, menyesuaikan diri dengan ‘geografi’ ruangan, karpet, dan meja-meja berkaki pendek.

Berbeda dengan pengunjung di lantai bawah, disini anak-anak dari orang tua berlabel miskin akan bebas belajar, diantara mereka ada yang datang karena kemauan besar mendapatkan pengetahuan, sebagiannya karena ikut teman atau ingin mendapatkan teman, sebagiannya lagi diantar oleh orang tua mereka karena ingin generasinya tidak melanjutkan takdirnya, sebagiannya lagi kupungut. Mungkin akan ada juga sebagian diantara mereka yang datang belajar bukan karena label miskin, tapi senang belajar, mampu berempati, atau mungkin anak dari orang tua kaya yang dulunya adalah aktifis yang menuntut diselenggarakannya pendidikan yang humanis, bukan atas dasar pasar.

Lantai selanjutnya, seharusnya ini berada di sisi lain dari kedai minumanku agar tidak susah bagi para orang tua untuk naik hingga ke lantai 3 untuk mendapatkan pelatihan atau semacam workshop keterampilan untuk membantunya mendapatkan biaya hidup yang cukup, entahlah apakah itu menjahit atau menyulam, merangkai bunga, membuat kerajinan atau apalah. Nah, lantai ini bisa kujadikan sebagai perpustakaan yang pada saat tertentu dapat disulap menjadi bioskop ala kadarnya, atau disulap menjadi ruang diskusi atau apalah.Semuanya ini, belajar gratis, workshop kerajinan, perpustakaan, dll, dibiayai dengan menggunakan seluruh laba dari kedai dan warung ini. Betapa 'sesuatu' bukan?

Bibirku menyabit menyaksikan simulasi itu di panggung bayang bayang, tubuhku yang rebah di atas kasur busa murahan, kubeli dua hari lalu, seperti menikmati suasana. Ruangan tidurku yang kini gelap menyembunyikan ekspresi bahagia yang mengalir di wajahku, sayang, seberapa gelap pun ruangan tidur itu, pada gelap dengan kualitas setinggi apapun kusembunyikan ekspresiku, tuhan pasti tetap tahu. Akupun malu.

Air mukaku berubah menjadi bahagia malu-malu. Sayangnya, belum sempat kusampaikan kepada tuhan karangan kata-kata; “Nah, kau tahukan, Tuhan? Jangan tunggu kupanjatkan doa hingga Kau mengabulkannya, sungguh aku tak sabar menyaksikan simulasi itu hingga rasanya ingin semuanya itu mewujud sebelum doa kupanjatkan”, lamunanku buyar, pecah, terserak, kabur.

Sekadar imajinasi | sumber foto: fotoblogaku.blogspot.com


Aku berhadapan dengan diriku yang lainnya, hingga pelan-pelan aku menjauh dari panggung bayang-bayang itu, lalu sibuk bertarung pendapat dengan diriku yang lain. Seperti dalam adu silat, lawanku memilih jalan pintas untuk melumpuhkanku, tentu saja dengan jurus paling tidak mematikan, uang.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.