Manajemen Konflik dalam Konteks Komunikasi Antar Personal (KAP)

manajemen konflik dalam komunikasi antar personal
Manajemen konflik pada satu sisi adalah keterampilan
Konsep Manajemen Konflik
Dalam buku berjudul Conflict and Communication oleh Daniel Shapiro, disebutkan bahwa Konflik pada dasarnya adalah hal yang bersifat alami, bahkan merupakan suatu komponen yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, sayangnya konflik jarang dianalisis, dipelajari dan dipahami sebagai sebuah potensi.

Manajemen konflik merupakan suatu bidang keterampilan dalam menguraikan strategi yang bermanfaat dan secara konstruktif menangani suatu konflik. Manajemen konflik dapat digunakan pada kasus-kasus yang interpersonal maupun impersonal.

Pengertian ini membedakan istilah resolusi konflik dan manajemen konflik. Resolusi konflik yang dimaksud yakni kemampuan dan strategi yang dimanfaatkan untuk menyelesaikan suatu konflik, sementara istilah manajemen konflik mencakup pengertian yang lebih luas (broader term). Tidak semua konflik dapat dipecahkan, malah konflik memiliki suatu potensi yang positif.

Shapiro menyampaikan 8 prinsip dasar manajemen konflik, yakni:

1. Konflik adalah perselisihan paham atau gagasan antara dua orang atau lebih. Secara khusus, konflik hadir karena adanya ketidak cocokan tujuan (goals), nilai, atau kebutuhan.

2. Konflik penting bagi pengembangan dan pertumbuhan. Kemampuan seseorang menangani sebuah konflik sangat penting bagi perkembangan kepribadiannya.

3. Self-Awareness dan self-understanding berperan untuk melaksanakan manajemen konflik yang membangun. Sebagai contoh, para mahasiswa dengan karakter low self-esteem (rendah diri) sering menangani konflik di berbeda dibanding para siswa yang selalu mengagumi diri sendiri. Tiap-Tiap konflik mempunyai hal positif. Ya atau tidaknya konflik dipecahkan, ada suatu dasar keinginan untuk saling mengenali dan memahami.

4. Konflik tidak bisa dipecahkan secara konstruktif tanpa interaksi positif, hal tersebut merupakan suatu format atau bentuk komunikasi.

5. Ketrampilan khusus diperlukan dalam konflik sebagai pengalaman dalam proses pertumbuhan dan pengembangan seseorang.

6. Ketrampilan khusus tersebut dapat dipelajari maupun diajarkan.

7. Konflik dapat dipecahkan tanpa perlu melanggar hak azasi manusia.

8. Efektifitas strategi pengendalian atau manajemen konflik akan sempurna bilamana seseorang dilembagakan (institutionalized) kedalam suatu kelompok interaksi sosial, misalnya masyarakat luas, oraganisasi, keluarga ataupun lingkungan akademik. (Daniel Shapiro, 2004 : 2-4)


Sehubungan dengan prinsip mendasar manajemen konflik di atas, Barge (1994) dalam Prof. Dr. Alo Liliweri M.S (2005 : 249-250) menyebutkan beberapa unsur yang terdapat dalam setiap konflik, yakni:
  • Ada dua pihak atau lebih yang terlibat. Jadi, ada interaksi antara mereka yang telibat.
  • Ada tujuan yang dijadikan sasaran konflik. Tujuan itulah yang menjadi sumber konflik.
  • Ada perbedaan pikiran, perasaan, tindakan di antara pihak yang terlibat untuk mendapatkan atau mencapai tujuan (sasaran).
  • Ada situasi konflik antara dua pihak yang bertentangan. Ini meliputi situasi antarpribadi, antarpribadi, antarpribadi, antarkelompok, dan antarorganisasi.

ilmu komunikasi dan manajemen konflik
Dalam manajemen atau mengelola konflik manfaatkan 'The power of Communication'

Manajemen Konflik dalam Konteks Komunikasi Antar Personal
 
Joseph A. De Vito dalam buku nya Komunikasi Antar Manusia (1997) menerangkan strategi penanganan (manajemen) konflik dalam konteks komunikasi antar personal sebagai berikut;

1. Strategi konflik efektif
  •  Berkelahi secara sportif
Pada kebanyakan hubungan antarpribadi, kita tahu di mana garis batas yang harus ditarik, khususnya dalam hubungan yang berlangsung lama. jagalah agar anda hanya menyerang “daerah” yang tidak menyakiti pihak lawan dan tidak akan menyebabkan semakin parahnya permusuhan dan kemarahan.
  • Bertengkar secara aktif
Rencanakanlah peran aktif dalam konflik antarpribadi anda. jangan tutup telinga dan pikiran anda selama pertengkaran (jangan mencoba untuk menghindar). ini tidaklah berarti bahwa periode pendinginan tidak bermanfaat. jika konflik ingin diselesaikan, maka ia harus dihadapi secara aktif oleh kedua pihak.
  • Tanggung jawab (pikiran dan perasaan)
Bila anda tidak sependapat dengan mitra anda atau menjumpai perilakunya yang tidak benar, bertanggung-jawablah atas perasaan ini dan katakanlah, misalnya, “saya tidak setuju dengan ...” atau “saya tidak menyukai hal itu bila kamu ...”. janganlah mengelakkan tanggung jawab dengan mengatakan misalnya, “ setiap orang mengatakan bahwa kamu salah mengenai ...” atau “bobby berpendapat bahwa kamu seharusnya tidak ...”. pertanggung-jawabkanlah pikiran dan perasaan anda dan tegaskanlah tanggung jawab ini secara eksplisit dengan “i-messages”.
  • Langsung dan spesifik
Pusatkan konflik anda pada saat kini dan di sini, jangan melantur ke masalah-masalah yang terjadi dua bulan yang lalu. pusatkan pula konflik pada orang yang menjadi lawan bertengkar, jangan libatkan orang lain. jangan sok membaca pikiran, jangan menuduhkan motif apapun tanpa terlebih dahulu menguraikan dan memahami perilakunya.
  • Gunakan humor untuk meredakan ketegangan
Jangan gunakan humor yang bersifat sarkastik untuk menyindir atau mempermalukan pihak lain. pemanfaatan humor yang seperti ini justru akan memperparah dan memperkuat konflik. yang perlu diingat, hindarilah humor sebagai strategi untuk memenangkan perang atau menjatuhkan pihak lain.


2. Strategi konflik tidak produktif!
  • Avoidance (penghindaran)
Salah satu reaksi terhadap konflik yang paling sering dilakukan adalah penghindaran (avoidance). penghindaran ini sering dijumpai dalam bentuk pelarian fisik. orang mungkin meninggalkan tempat konflik, tidur, atau menyetel radio keras-keras. reaksi ini dapat pula berbentuk penghindaran emosional ata intelektual. di sini orang meninggalkan konflik secara psikologis dengan tidak menanggapi argumen atau masalah yang dikemukakan.
  • Steamrolling
Steamrolling atau buldoser adalah salah satu strategi yang bersifat non-negosiasi, contohnya jika seseorang tidak mau mendiskusikan atau mendengarkan argumen pihak lain. terkadang non-negosiasi ini dilakukan dalam bentuk memaksakan pendapatnya sampai pihak lain menyerah.
  • Minimasi
Kita menggunakan minimasi bila kita mengganggap enteng perasaan pihak lain. kta mengatakan dan barangkali percaya, bahwa konflik, penyebabnya, dan akibatnya sama sekali tidak penting.
  • Blaming (menyalahkan)
Kita tahu bahwa banyak faktor yang menyebabkan terjadinya suatu konflik, sehingga setiap upaya untuk hanya memecahkan salah satu atau dua diantaranya akan berakhir dengan kegagalan. meskipun demikian, seringkali orang menerapkan strategi bertengkar yang disebut menyalahkan (blaming) orang lain. dalam beberapa kasus kita juga terkadang menyalahkan diri sendiri.
  • Meredam
Meredam mencakup beragam teknik bertengkar yang secara harfiah membungkam pihak lain. salah satu peredam yang sering digunakan adalah menangis. peredam yang lain adalah berpura-pura sangat emosional, dan bahkan melakukan reaksi “fisik” tertentu (sakit kepala atau sesak napas). salah satu kesulitan teknik ini adalah bahwa kita tidak pernah mengetahui dengan pasti apakah itu memang strategi untuk memenangkan pertengkaran atau memang benar reaksi fisik yang sesungguhnya.
  • Karung goni
Strategi konflik karung goni mengacu pada tindak-tindak menimbun kekecewaan dan kemudian menumpahkannya pada lawan bertengkar.
  • Manipulasi
Dalam strategi manipulasi, konflik terbuka dihindari. salah satu pihak berusaha mengalihkan konflik dengan bersikap mempengaruhi (sebenarnya, menghilangkan kecurigaan). sasarannya adalah agar pihak lain membentuk kerangka berpikir yang reseptif dan damai sebelum menyatakan ketidak-setujuan.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.