Manajemen Keserakahan

Ilustrasi Keserakahan
Kalau keserakahan itu tak ada batasnya, dia telah melanggar hukum. Hanya tuhan yang maha luas | Kalau keserakahan itu tak bisa diatur, itu jelas persepsi yang keliru, dunia dan isinya ini diciptakan dengan aturannya masing-masing.

Istilah Manajemen Keserakahan ini nyantol begitu saja di kepalaku saat diam tepekur menyaksikan seorang wartawan dan seorang pengamat (politik dll) berbincang memanfaatkan petang. Temanya tak teratur, bincang petang itu sungguh mengalir, lepas dan menyenggol berbagai tema dengan begitu saja, bahkan saya sendiri tak sadar bagaimana bincang petang itu menyenggol istilah keserakahan, dimana keduanya dan beberapa orang pendamping yang kadang menjadi audiens, kadang menjadi bukan audiens, dengan semangat berkoar soal kepentingan politik.

Saya sempat ikutan nyeletuk, "Kayaknya penting kalau kita bikin pelatihan manajemen keserakahan", sementara yang lain menatap aneh kepadaku karena nyeletuk dengan ide yang melompat. Celetukan itu pun sirna, seperti larut dalam kecap yang telah bercampur garam dan cabe menunggu dicolek seiris mangga muda.

Bangsa ini memang lucu, saking lucunya kadang saya berfikir untuk pindah negara (andai saja semudah pindah agama) akibat tidak tahan dengan sakit perut akibat ketawa. Saking terbiasa ketawa, bibir dan pipi saya kaku, nyaris terbentuk seperti senyum setiap saat, sampai-sampai saat marah atau harus memberikan mimik tidak sepakat, wajahku terlihat senyum juga.

Praktik kecurangan seperti nilai yang tertanam oleh setiap lantai stratifikasi sosial, orang-orang terhormat mengamalkan paham keserakahan dengan memakan orang kecil, orang-orang sederhana memanfaatkan situasi (penyaluran dana, akses, dll) dengan membabi buta, sementara orang-orang 'kecil' saling memakan tanpa aturan, seperti jaringan rantai makanan yang kusut.

Jika teman-teman punya kesempatan, bolehlah menunggu malam di terminal Arjosari (salah satu misal), tunggu hingga penumpang betul-betul sepi dan naiklah angkol ADL untuk menuju Landungsari, jika di atas angkot anda hanya berlima, sang sopir akan tetap menunggu ketidak pastian hingga anda dan 4 penumpang lainnya akan bosan, saat itulah sang sopir mulai menawar, setiap orang bayar Rp 10.000 yah. Sang sopir, tak mau rugi, dia akan tetap menghitung mobilnya full oleh penumpang, walaupun hanya lima. Jika anda ingin pekerjaan yang tak ada ruginya, jadilah sopir angkot di Arjosari (entah terminal lain di Malang). Berapapun penumpang di atas angkot anda, anda tetap mendapat bayaran full penumpang. Hahahahaha....

Kenyataan lucu terbaru, saat naik bus dari Tanjung Perak ke Bungurasih, biaya normal (kayaknya 4000) akan berubah meenjadi 5000 seketika, parahnya (seperti kejadian yang kualami) dengan harga demikian, bis tersebut tidak melintas di jalan tol, malah meliuk di jalan umum agar mendapatkan tambahan tumpangan. Seharusnya, sopir dan kondektur menunggu bisnya full seat oleh penumpang yang baru saja tiba di Surabaya setelah lama terombang ambing di laut, lalu menuju Bungurasih melalui jalan tol. Namun, sungguh strategi ini kurang menguntungkan.

Kacaunya, sang kondektur sempat sibuk tawar-menawar dengan seorang ibu yang mendudukkan anaknya di kursi yang kosong tepat di sampingnya, sang kondektur meminta bayaran, sang ibu mencoba menawar tidak usah initempat bapaknya (bapak anak itu memang berdiri). Si kondektur ngotot meminta bayaran, loh itu kan beda, kalau tidak mau bayar dipangku saja.

Si ibu putus asa lalu memutuskan untuk memangku sang anak, si kondektur menyarankan agar didudukkan saja, soalnya perjalanan jauh. Sungguh pemandangan lucu, "Kenapa penumpaang yang tidak dapat tempat duduk harus membayar sama?", pikirku.
Wujud dari keserakahan kita sebagai orang yang mampu menabang pohon yang tak bisa melawan


Jika boleh bertanya, untuk apa keuntungan besar ??? jika dia diraih bukan dari gemelut saling berbagi kasih ?. Saya bertanya pada sosok yang menguasai diriku, kenapa iming-iming untung besar itu sungguh kemilau 'pantulan cahayanya' belum lagi jika keuntunga tersebut didapatkan melewati jalan pintas. Betapa kita butuh 'reminder' yang mengatur perilaku serakah yang sering sekali menyembur begitu saja sebagai perilaku yang tidak disadari.

Teman-teman tentu memiliki gambaran atau pola reflektif dalam memahami istilah manajemen keserakanan yang tak kuberikan batasan-batasan pengertian apa lagi manualnya. Pada dasarnya, kita hanya perlu betul-betul menyadari bahwa keserakahan itu kebutuhan pada satu sisi dan menjadi musuh jika dia tumbuh berkembang tanpa kendali. Seperti waktu, dia perlu diatur dengan konsep managerial yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing orang yang beragam minatnya.

St Augustine (354-430) mengidentifikasi tiga jenis keserakahan manusia, yaitu keserakahan kekuasaan, seksual, dan harta benda. Jika boleh saya menambahkan, St Augustine mungkin lupa menyebutkan satu keserakahan lagi, yakni keserakahan atas kekuasaan+seksual+harta benda.

Saya masih lumayan ingat, bagaimana Bapakku kerap memarahiku saat makan malam bersama sedang berlangsung, saat itu pasti menu makanannya sedang spesial, sehingga saya sangat atraktif dalam mengisi piring, menghias nasi dengan sayur dan berbagai lauk yang tersaji di depan mata. Wajah Bapakku akan sangat menakutkan ketika dia melerai dan menyuruhku untuk tidak bertingkah serakah, mengambil nasi yang banyak dengan lauk ini dan itu tanpa memikirkan kemampuan perutku menampung semuanya.

Pelajaran tersebut menunjukkan dengan sangat sederhana, bagaimana budaya Indonesia jelas memandang sikap serakah sebagai tindakan yang kurang baik/terpuji.

Prof. Nasaruddin Umar menyempaikan bahwa, milik pribadi di masa lampau bukan sekadar sumber pendapatan, tetapi memiliki fungsi sosial dan penggunaannya selalu dibatasi oleh kepentingan-kepentingan sosial dan keperluan negara. Karena itu, menurut sejarahwan RH Tawney, sampai abad pertengahan konsep kepemilikan pribadi atas harta tidak begitu populer.

Sampai sekarang, di sejumlah etnik dalam sejumlah wilayah kepulauan Nusantara kita masih kental dengan istilah kepemilikan kolektif, seperti hak-hak adat, tanah ulayat, tanah adat, tanah wakaf, dan sebagainya.

Sayangnya, sampai nanti kepemilikan kolektif tersebut sungguh akan hilang tanpa diantar kesedihan. Mungkin karena kita akan merayakannya dengan pesta besar atas keserakahan yang tak pernah diatur. Setelah pesta, beberapa anak jalanan yang kelaparan akan datang diam-diam, memeriksa piring kotor yang belum sempat dipunguh oleh cleaning service. Semoga anak jalanan itu mendapatkan sisa ayam goreng kecap, atau nasi yang dibasahi oleh kuah kari untuk melunasi laparnya. Maaf, saya tak kuasa mendoakan lebih agar anak jalanan itu mendapatkan sepiring nasi dan sepotong ayam goreng utuh, takut doa itu tidak realistis untuk Tuhan karena manusia.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.