Facebook dengan Sedikit Ilmu Komunikasi || Gak pake lama ya!

Seorang teman bercerita dengan lepas tentang temannya yang seringkali membuatnya pusing gara-gara urusan update status. Temannya, bilang saja si Fulan, selalu menuntutnya untuk membantu memikirkan status apa yang harus dia update, si Fulan ini seperti nomophobia bagi pengguna HP yang tak bisa lepas dengan telepon selulernyam, dia selalu atau mungkin gara-gara merasa wajib untuk update status setiap kali wajaahnya berhadapan dengan beranda atau panel profilnya di facebook.

Belum lagi ketika si Fulan memberikan syarat-syarat tentang kalimat yang akan di tuliskannya pada field wall facebooknya, “Jangan ada kata-kata yang romantis” misal salah satu syaratnya, atau “Gak usah yang ribet-ribet tapi ngena!”. Kalau boleh saya protes, ‘ngena’ itu bagaimana ???

Nah, pengalamanku sendiri, ketika para facebooker masih belum mendapatkan petunjuk untuk mengunjungi situs-situs yang menyarankan kalimat-kalimat menarik untuk dipamerkan sebagai status Facebook, beberapa teman yang kebetulan online bersama dalam “satu meja” selalu meminta saran, “statusnya apa yah biar bagus?”. Sampai-sampai ada yang menuntutku harus menyarankan sebuah kalimat karena dia menganggap saya pintas menulis, puitis, mahir mengarang kata-kata dan ganteng (yang terakhir ini tida usah dipedulikan saodara, kecuali anda sodari. Hahaha).

Dimintai atau lebih tepatnya dituntut seperti itu, aku cukup menyarankan agar dia menjadi dirinya sendiri, apa adanya saja, natural, tidak perlu mengada-ada. “Nah, itu dia, Cheng!”, sambarnya sambil mulai mengetikkan apa saja yang baru kukatakan.

Punya pengalaman serupa? Atau andalah salah satu dari orang-orang yang kebingungan menentukan atau membangun kalimat untuk sebuah status ??? Tak apa, jujur saja pada diri anda.

Sekarang, mari kita mencoba mengelaborasi, mencoba membangun ‘kira-kira’ untuk jawaban dari pertanyaan, “Apa yang betul-betul anda pikirkan saat facebook bertanya: Apa yang anda pikirkan?, kepada anda pada panel update status?”. Berikut beberapa pilihan; 1. Tidak atau tidak tahu memikirkan apa-apa. 2. Memikirkan bagaimana membuat teman di faacebook terkesan karena status (image building). 3. Memikirkan bagaimana membuat orang terinspirasi oleh status facebook. 4. Meluapkan emosi/perasaan untuk menuntut empati. 5. Memanjatkan doa atau mengucapkan selamat dan meminta maaf. 6. Berfikir untuk berbagi informasi umum. 7. Berfikir untuk update status dengan kalimat yang ‘ngena’.

Punya pilihan lain? Silahkan tambahkan sendiri di kota komentar nantinya, atau SMS saya. Dari beberapa pilihan tersebut, kita dapat memasukkan beberapa pilihan di atas pada dua kota kategori yakni facebooker yang memiliki informasi atau suatu ide (inspirasi) yang pantas untuk dibagikan, dan yang kedua adalah facebooker yang memiliki laptop atau gadget ples dengan koneksi internet berusaha untuk tampil eksis di dunia maya melalui bantuan facebook.



Additional paragraph : Kebebasan berbagi dan saling berkomunikasi ala Facebook. Pernahkah teman-teman memikirkan apakah dampak memanfaatkan facebook terhadap diri/kehidupan anda ?. Salah satu dampatnya pasti membuat teman-teman jarang merasa kesepian, asal terkoneksi dengan internet. Facebook adalaah ‘teman’ yang sangat partisipatif untuk pikiran, perasaan (termasuk keluhan), pengembangan citra bahkan sumber pendapatan ekonomi. Selain itu, facebook juga merupakan situs yang friendly user sehingga sebodoh apapun anda, tetap saja bisa memanfaatkannya, tidak perlu ada tutorial atau manual khusus dalam menikmati situs ini. Demikian, kita pun mulai dihinggapi oleh perasaan “selalu ingin” bersentuhan dengan facebook yang sama artinya dengan : berkomunikasi, baik itu menyampaikan pesan melalui status, berkomentar, maupun memasang tag untuk mengajak seseorang menyampaikan pesan atau kesan akan objek yang ditag tersebut.

Menurut Dosen Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, berkembang pesatnya facebook disebabkan konvergensi tiga hal, teknologi komunikasi, trend lifestyle, dan fantasi atau visi retoris. Dari situ kita bisa memahami, bahwa teknologi komunikasi itu hanyalah perangkat teknis yang ‘mati’ walaupun mempengaruhi pemanfaatannya karena kodifikasi program atau sekumpulan perintah yang membangunnya sebagai situs yang friendly user. Lalu pada aspek lifestyle tentu saja merpuakan pengaruh yang kuat dari luar (lingkungan), dimana kebutuhan untuk bereksistensi atau berafiliasi menjadi semacam ‘mode’ yang menuntut seseorang agar tidak ketinggalan jaman. Yang terakhir adalah pengaruh yang paling penting, tentu saja fatasi dan visi retoris.

Setiap orang tentu saja memiliki fantasi, sebuah bayang-bayang tentang citra ideal dirinya yang terbangun oleh kerja imajinasi. Fantasi tersebut disampaikan melalui kecakapan berbahasa seseorang, perlu diperhatikan bagaimana ‘situasi’ seseorang dalam menyampaikan thing melalui bahasa lisan maupun tulisan. Dari sinilah berasal dorongan-dorongan memutar otak untuk menulis sebaris atau beberapa kalimat sebagai status facebook.

End of additional paragraph


Nah, mari kembali melihat diri kita saat berhadapan dengan facebook. Ketika keinginan untuk eksis atau menunjukkan identitas, dibangun melalui perangkat atau fasilitas yang disediakan facebook yang menunggu dorongan, kita tentu sadar bahwa media memiliki pengaruh terhadap proses komunikasi kita, Marshall McLuhan menyampaikan bahwa media juga adalah pesan itu sendiri. Apakah anda ‘terpenjara’ oleh facebook saat mencoba menyampaikan seseuatu kepada ‘masyarakat’ facebook?, terpenjara oleh kebebasan menyampaikan informasi kepada siapa saja yang berteman dengan anda di facebook. Ciri-cirinya, anda kebingungan (dibuat bingung oleh status) menyampaikan atau membagikan sesuatu, anda merasa terganggu dengan status orang lain yang sebenarnya di update bukan untuk anda baca tapi tampil di panel beranda, anda merasa hambar karena tidak ada yang mengomentari atau memberikan jempol pada status yang menurut anda menarik perhatian.

Sampai saat ini, saya belum mendapatkan teori ‘mutakhir’ untuk mengenali/memahami bagaimana perilaku pengguna facebook, baik komunikasi antarpersonal maupun intrapersonal, beberapa peneliti komunikasi berusaha menjelaskan aspek komunikasi facebok dengan pendekatan komunikasi lintas budaya. Namun, saya tidak cukup yakin apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang pas.

Lalu apa yang saya sarankan? Duh, saya belum punya saran apa-apa, hingga proses ini saya masih mengamati, memperkaya bacaan dan sedikit-sedikit mencoba menjawab pertanyaa-pertanyaan reflektif tentang ‘Bagaimana’. Catatan ini cukup menjadi refleksi bagi kita saja untuk mengenali proses-proses alamiah dalam ruang kesadaran masing-masing dalam menikmati fasilitas facebook.


Baca bagian selanjutnya :: Pembentukan konsep diri ala Facebook

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.