Permen Rindu Rasa Makassar

Kata telah berubah menjadi tangis.
Dendang lagu-lagu mengiang.
Kisah pung kura-kura na pung dare-dare, menggores memori.
Kisah tentang para perantau dan cacing-cacing tanah dalam anggaru.
Dan kisah tentang nene pakande.

Teman terbaik adalah badik di pinggang.
Namun, dia tidak mengerti rindu.
Kecuali membuat orang lain rindu,
Namun, dia tidak mengerti masa kecil
Kecuali menjadi saksi dari masa pembauatan si kecil.
Namun, dia tidak mengerti kenangan hidup.
Kecuali menjadikan empunya dikenang.

Di kepalaku ada kapal dengan layar terkembang
Kapal-kapal besar dari tanah Bulukumba.
Ada pula lepa-lepa yang setia pada patorani.

Aku Rindu Makassar!

Biarlah saya dimakan cacing
Karena jalanku telah keliru,
Langkahku telah khianat,
Perilakuku telah kotor sungguh,
Hatiku telah buta.

Orang-orang dahulu memang tangguh dan pemberani.
Adatnya ia bawa berlayar
Dan membawanya kembali tanpa sedikit pun bakteri.

Saya ingin pulang!
Tapi rasa malu jadi penghalang,
Ketika glamor kota menghapus adatku yang gemilang.
Seperti cacing tanah melumat jasad dengan tenang.

Jalanku, Langkahku
Tidak lagi seperti ajaran karaengku.
Kutelanjangi badikku
Untuk menghapus rasa malu diriku, terutama adatku.
Aku rindu, tapi Malu!



Malang, 9/4/09

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.