Cintailah Mereka dengan Penuh Rasa Hormat

Tinggikanlah derajat perempuan, dan cintailah mereka dengan penuh rasa hormat, begitulah salah satu jalan untuk hidup terhormat.

Catatan ini merupakan ungkapan terima kasih dan bentuk penghargaanku terhadap sang istri yang tetap care hingga saat ini. Bulan Ramadhan hampir berlalu, sepanjang musim pesta ibadah ini, kusaksikan betapa sang istri yang tak kenal lelah ini menyiapkan segala sesuatu untuk kemudahanku menjalankan ibadah Ramadhan, walapun sesekali ia memintaku untuk memijat dengan alasan lelah, saat-saat beginilah kutau kalau dia lelah, atau mungkin saja dia hanya pura-pura lelah agar saya bisa memijatnya. hahaha

Kuakui, saya lelaki yang sangat romantis saat menjomblo, dan cukup romantis di masa pacaran. Sementara setelah menikah, rasanya saya menjadi lelaki tak berhati, entah karena hatiku telah dicuri oleh "mama'nya anak-anak", atau tersembunyi di suatu tempat, mungkin tercecer di labirin yang sunyi, penuh debu dan terhalang oleh jaring laba-laba, sepeti Nabi Muhammad ketika bersembunyi di Gua Tsur saat dalam perjalanan ke Madinah.

Perempuan berkeruding bendera PMII hahaha
Istriku sendiri, bukan perempuan yang cocok berlagak romantis. Setelah menikah, dia sangat keibuan, malah menurutku sangat berlebihan karena selain menganggap diriku sebagai suami, dia juga memperlakukanku seperti anaknya dengan memarahi jika lupa gosok gigi atau malah lupa mandi, ngomel saat baju salinanku kuhambur begitu saja di atas karpet.

Dari dialah saya belajar banyak tentang bagaimana seorang perempuan hidup, tentu dalam kacamata lelaki. Sedikit demi sedikit kubenarkan hipotesa bahwa perempuan suka dirayu, keculi saat dia betul-betul marah karena sang suami ketahuan berbohong, pun saat berbohong demi kebaikan. Perempuan itu, jika selalu ingin tahu maka kasih sayangnya sangat besar. Namun perlu diperhatikan, ada yang ingin tahu untuk menyelamatkan rasa cemburu, dan ada rasa ingin tahu karena dia merasa sebagai bendahara rumah tangga, dimana segala sesuatu harus diketahuinya jika menyangkut rumah tangga.

Suatu saat, istriku tampak begitu cantik, bukan karena wajahnya berseri, bukan pula karena pipinya merona, akan tetapi karena adanya dorongan rasa sayangku terhadapnya, yang pelan-pelan membuatku bersyukur telah dipertemukan dengan cucu Hawa seperti dirinya, tak sempurna, sederhana, dan tak punya kuasa, tapi kadangkala aku luluh juga olehnya, baik melalui rasa rindu atau senyum damai yang dikirimkannya dengan ikhlas ke hadapanku.

Di penghujung Ramadhan, betapa dia menjadi buah dari anugrah Tuhan kepadaku. Andai saja Lailatul Qadar itu adalah makhluk, maka dia telah datang menghampiriku sejak 4 tahun yang lalu, menjagaku dan mengajariku bagaimana hidup terhormat maupun hidup keji yang lebih buruk daripada binatang.

Saya selalu mencintainya, walaupun sepertinya dia tidak terlalu respek saat kuungkapkan perasaan cinta di hadapannya, bagaimana tidak, jika ungkapan kalimat itu masih dilanjutkan dengan embel-embel tak penting :: dan wanita hebat lainnya. Hahahahaha

Seberapa buruk pun kehidupan yang kulalui sekarang ini, saya selalu merasa bahwa perjalananku menghabiskan waktu sebagai seorang suami dan ayah semakin sempurna. Jika disana ada jalan yang buruk, tak lain hanya sebuah dinamika, mungkin untuk mengingatkan kita agar jangan ngebut, perhatikan orang-orang di sekeliling. Jangan sampai ada cewek cakep (Hahahaha ini asli intermeso).

Terima kasih Tuhan atas istri dan keluargaku, karena kupikir, Lailatur Qadar itu kau sembunyikan diantara lapisan kasih sayang mereka. Jika untuk mengangkat derajat perempuan atau para ibu membutuhkan pijakan, biarkan aku disana, sebagai bentuk syukur kepadamu, dan cintaku kepadanya. Tuhan, tolong jangan cemburu yah, plisss!!

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.