Tak Usah Dikasi Judul; Tulisan Tidak Penting

"Pace, bagaimana kalau pace saja yang kuliah??? lanjutkan S2, biar saya yang kerja cari biaya. Asal jangan dikampus ini, Pace!". - Dari seorang anak nakal untuk Bapaknya.

Kalau saat ini saya ditanyai, apa tujuan saya kuliah, maka jawabannya sederhanya, tidak sebuta yang dulu dengan mengatakan : “untuk mencari ilmu”, dengan polos. Sekarang tujuannya adalah hanya menyelesaikan keinginan orang tua saja agar anak pertamanya lulus kuliah, hingga mereka bisa membuat pesta syukuran wisuda dan mengambil beberapa foto bersama dengan latar belakang lukiran rak dengan deretan kitab-kitab. Mereka paling hanya sekadar ingin menunjukkan bahwa, kerja keras orang tua ada hasilnya, anakku sudah jadi manusia yang berguna sekarang.

Sayangnya, yang diharapkan orang tuaku tidak berjalan dengan mulus, saya telah tujuh tahun hidup di lingkungan kampus. 


Pernah suatu hari, kuajukan pada orang tua untuk memutus kuliahku, saya merasa tidak akan ada gunanya menyelesaikan kuliah ini. Dalam rencana hidup saya, tak ada pesta wisuda sarjana yang termaktub, toh tak perlu menjadi seorang sarjana untuk menjadi seorang petani sederhana, membangun langgar mengaji dan belajar di halaman belakang rumah untuk anak desa yang tak mampu masuk sekolah karena urusan biaya. Coba bandingkan jika saya dapat S1, bekerja sebagai dosen atau PNS atau karyawan suatu perusahaan, dan saya terjebak dalam aktifitas kerja begitu, apalah gunanya hidup jika hanya bolak-balik kampus dan rumah, mengurus mahasiswa, memberikannya ilmu sementara yang diharapkan adalah amal jariyah? Ah, itupun kalau sang dosen memang mengajar untuk membagi ilmu, bukan membagi ilmu untuk menikmati uang SPP mahasiswanya.

Di dunia ini, uang itu hanya dibutuhkan untuk makan, untuk kepentingan-kepentingan duniawiyah. Pernahkah kawan-kawan mendengar sebuah kisah tentang Ali bin Abi Thalib yang dikunjungi beberapa pemuda yang secara bergantian bertanya kepadanya, yang manakah lebih muliah antar ilmu dan harta? Ali menjawabnya dengan jawaban yang berbeda, salah satunya (yang paling kusukai) adalah: Al-Ilmu yuhrisukum, wa anta tuhrisu Al Maal (Ilmu itu menjagamu, sementara harta dijaga olehmu).

Sayangnya, usulan saya untuk putus kuliah tidak diterima, walapun setahun kemudian saya disuruh untuk berhenti kuliah saja oleh Bapak karena keuangan keluarga mulai berat, saya hanya menunggu keputusan saja, sayangnya sang ibuku yang culun itu, apa adanya itu, dan penuh kasih sayang itu bersikukuh kalau kuliah harus kuselesaikan, menepis rasa malu (siri’).

Dan karena rasa malu itulah, semangatku kembali terbit karea merasa ada nilai yang saya perjuangkan dalam menyelesaikan kuliah, sayangnya nilai itu belum bisa menguasai jalan hidupku penuh, belakangan kondisiku memburuk, parahnya tulisan ini hadir karena besarnya dorongan untuk memutuskan kuliah. Sudah waktunya kubaktikan sisa umurku untuk bekerja membantu banyak orang. Entah bagaimana nantinya, saat ini aku merasa akan lebih bermanfaat jika keluar kampus dan mulai menjalankan program hidupku.

Mungkin bagi orang yang tidak mengenalku, iseng saja membaca catatan ini kebingungan tentang catatan ini, hahahaha. Jelasnya, saya tidak ingin dikenali sementara tombol generalisasi masih aktif di kepalamu, aku ini merasa sebagai manusia sisa-sisa dari peradaban masa lampau. Asal tidak dianggap hanomang hahaha....  
Hahahahahahaha



Pendidikanku

Entah umur berapa saya masuk sekolah dasar, saya bahkan tidak menyadari kalau harus bersekolah dengan cara begitu, tidak seperti anak-anak yang beberapa tahun sebelumnya sudah mulai akrab dengan kata-kata sekolah dan mulai bertanya-tanya “kapan saya sekolah, Mah?”. Atau mungkin petikan kasus ini hanya ada dalam dunia iklan. Hahahaha

Saya seperti robot saja, mengikuti orang tua ke sekolah, duduk di ruang kelas bersama-teman-temanku, melihat dan meniru apa yang dikerjakannya, itu saja. Saya bahkan tidak tahu kisah hari-hari pertama masuk sekolah, kapan dibelikan sepatu, tas dan baju untuk sekolah. Saya terjebak dalam kehidupan seorang guru yang karena statusnya, maka anak-anaknya harus sukses dalam pendidikan. Terjebak dalam kehidupan seorang guru yang mungkin membangun logika bahwa, jika kamu ingin mendapatkan pekerjaan yang baik dengan bayaran yang baik, maka berinvestasilah di dunia pendidikan, biarlah dunia pendidikan mengisap duitmu, nanti setelah selesai, kau bebas mengisap duit darimana saja, dengan ijazah di jidatmu.

Setelah SD, yang kuketahui hanya sekolah akan berlanjut ke tingkat SMP, yang kuingat saat itu ibuku bertanya “Mau sekolah dimana?”, kujawab seadanya, “Di pesantren saja, Male’ “. Akhirnya jadi santrilah saya, mengurung diri, menempa diri, merangkai konsep diri, dan membangun refleksi akan kehidupan selama 6 tahun. Setelah lulus dari pondok saya pun bingung, bagaimana mungkin saya bisa menghabiskan waktuku disana, selama 6 tahun, hingga umur 18 tahun?.

Pengajuan untuk memutuskan jenjang pendidikan sebenarnya bukan baru-baru ini atau ketika menjadi mahasiswa kadaluarsa seperti ini, sejak masih di bangku sekolah dulu aku sudah punya niat untuk tidak melanjutkan karir pendidikanku. Hahaha, pedidikan itu sangat penting, tapi bersekolah???

Kukira, dengan pikiran seperti ini banyak yang akan menuduhku sebagai manusia yang tak berguna. Saya hanya akan tersenyum, mungkin dengan sedikit pertanyaan, pada tingkat simulakra mana kau hidup ??? mungkin kita berbeda tingkat.



Semoga catatan ini bermanfaat, paling tidak dapat menenangkan perasaanku yang baru saja ditolak mengumpulkan tugas UAS karena terlambat (saya salah sangka tentang batas waktu pengumpulan tugas) hahahaha, apalah !

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.