Rajinlah, Masalah Pendidikanmu Pasti Teratasi.

Saya kadang merasa sangat iri pada teman-temanku yang mengandalkan “rajin” dibandingkan otaknya, tapi akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah dan mendapatkan sebuah foto sarjana yang bisa dipasang di ruang tamu, di rumah.

Demikianlah logika umum universitas (sebenarnya saya tidak tahu bagaimana kondisi di tempat lain, tapi di tempatku, umumnya begitu), anda akan lulus dengan cepat jika rajin masuk di ruang kuliah, terserah di dalamnya anda sibuk menyimak, mencatatn materi selagi dosen menjelaskan, sibuk dengan blackberry selagi dosen menyampaikan ilmu, sibuk mencorat-coret kertas catatan selagi dosen mempresentasikan suatu teori. Intinya anda rajin, baik dengan teman-teman sehingga jika punya tugas kuliah anda dapat meminta bantuan, atau memanfaatkan internet.

Anda tak perlu membeli buku, apalagi buku-buku bacaan umum, banyak orang sudah mengutip bagian penting dari buku dengan menyebutkan sumbernya, anda tinggal mencari kutipan-kutipan penting itu, berpura-pura mengambil kutipan itu langsung dari bukunya.

Sikap rajin tak bakal menuai kerugian, cocok untuk segala macam situasi, karakter dosen maupun peraturan universitas, apalagi anda adalah penurut, dosen pasti akan suka kamu.

Nah, persoalan iri, saya orang yang kurang rajin atau sebenarnya hanya tidak fokus pada kegiatan perkuliahan saja, atau lebih pasnya, bagi saya kuliah itu kurang menarik, karena pengetahuan disana terbatas, baik pada jadwal kuliah, materi perkuliahan, pemahaman dosen terhadap materi perkuliahan, referensi buku yang mendukung perkuliahan.

Jika anda sudah merasa cocok dengan dunia pendidikan yang tak terlembagakan/terinstitusi, maka konsentrasi terhadap kuliah akan berkurang, karena mungkin pada beberapa pertemuan, terjadi suatu pengulangan informasi, walaupun memang beberapa diantaranya baru dan disampaikan dalam pemahaman sang dosen akan suatu materi/teori. Tapi anda akan jenuh jika terbiasa berinteraksi dengan buku, mendapatkan penjelasan teori langsung dari pencetusnya, atau paling tidak disampaikan oleh seorang ahli, atau paling tidak memiliki pandangan yang berbeda dan masuk akal tentang teori tersebut.

Seperti saya, yang parahnya menjadi semakin bodoh belakangan ini karena terjebak oleh aktifitas kuliah, sehingga buku-buku di kamar harus terlantar.

Suasana kamar kos pertamaku, saat sedang asik-asiknya "pura-pura" belajar dengan teman yang lain. Hahahaha

Maka saya iri dengan orang-orang yang rajin, yang sebagian diantaranya memandang ilmu pengetahuan sebagai produk yang diperjual belikan dan dibuktikan oleh nota pembayaran berupa ijazah. Sementara saya yang (memang terjebak dalam keasyikan) merasa keluasan pemahaman lebih baik diantara mereka, rajin membaca buku, berkenalan dengan istilah dan teori di luar kelas perkuliahan, tidak diperhatikan, dicap sebagai mahasiswa malas, tedak jelas dan tidak ada gunanya.

Saya iri dengan orang rajin, karena walaupun mereka jarang membaca, pemahamannya terhadap materi kuliah rendah (sebagian), akan lebih mudah lulus kuliah dibandingkan orang yang pintar, cerdas, rajin berdiskusi soal materi perkuliahan di luar kampus, tapi tidak rajin masuk kuliah, anda akan terancam membasi di kampus, seperti orang biasa yang bodoh seperti saya. Hahahahahaha

Sajak lama kusadari bahwa rajin adalah kunci untuk lulus kuliah dalam waktu cepat, tapi selalu saja kesadaran ini tidak berhasil mempengaruhiku untuk menghindarkan minat belajarku dari buku-buku beralih kepada minat belajar di kelas, mendengar celoteh dosen-dosen itu. Sudah sejak dulu.

Jika ada yang bertanya kenapa bisa seperti itu, mungkin jawabannya begini, pandangan bahwa Jawa (bagi orang-orang di Makassar secara umum) adalah daerah yang baik, luar biasa, superior, tempat belajar yang menyenangkan karena orangnya hebat-hebat, merasuki saya. Belakangan saya diterima di sebuah kampus, tenggat waktu antara lulus tes mahasiswa dan aktif sebagai mahasiswa kuhabiskan di kamar dengan beberapa buku-buku, kebiasaan di kamar sambil menikmati buku terus belangsung melewati semester satu karena merasa bahwa saya (sebagai orang bukan Jawa) sudah sangat ketinggalan soal pengetahuan, saya tidak mau malu dan kalah saing dalam ruang kelas karena tidak punya referensi, bacaan, pemahaman tentang suatu teori.

Simulasi diskusi saat sedang semangat-semangatnya jadi mahasiswa di Jawa.

Sayang beribu sayang, saya jadi korban wacana, Jawa ternyata tak ada apa-apanya (gayanya saja yang superior, kualitasnya tidak rior, hahahaha), orang-orang disini hanya diuntungkan oleh dekatnya akses kepada media massa. Sadar akan jebakan wacana superioritas Jawa, saya merasa hancur. Lalu ilmu pengetahuan ini, yang hanya dianugrahkan Allah setetes dari lautan itu, apa gunanya?

Lebih kacau lagi ketika anak muda Jawa ini, datang kepadaku bertanya sesuatu, meminta bantuan untuk mengerjakan tugas makalah, atau malah skripsi (di masa sekarang), aih, orang Jawa ini mengecewakan kami yang datang dari kampung saja. Tidak adakah tantangan yang lebih berarti bagiku, selain harus rajin lalu kuliah??? Aih, tolonglah berikan sesuatu yang menantang, sesuatu yang pas dimana nyawa ini bisa kupertaruhkan demi setetes pengetahuan itu, karena tempat terbaik untuk mati bukan di medang perang, walaupun bertarung demi Allah. Tapi di medan ilmu pengetahuan yang menuntut ilmu demi manusia, demi Allah.

Pasti beberapa diantara kalian memandang miring, terlalu idealistik, terlalu mengambang, tidak realistik dan utopis. Ah, itu karena saya masih mahasiswa, dan mahasiswa yang baik adalah yang rajin masuk kuliah, jika tak rajin mereka akan dipandang tidak berguna. Seperti saya ini, hahahaha

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.