Tarif Baru SMS Tidak Berpihak pada Generasi Galau

Masa depan generasi galau 
Entah maksud galau sebenarnya apa, saya kurang mengerti. Anggap saja saya galau dalam memahami makna galau itu sebenarnya apa. Namun, dari media iklan kita secara umum dapat memahami bentuk galau itu seperti apa, yakni ketika seseorang sedang harus menghubungi sang kekasih tetapi saldo pulsa tidak mencukupi untuk melakukan pengiriman SMS.

Perubahan taris SMS lintas operator, jika meninjau galau seperti yang ditunjukkan oleh iklan-iklan penyedia jasa telekomunikasi, menurutku akan semakin menyemarakkan dan memperbanyak korban galau. Dengan makin banyaknya anak muda yang terinfeksi virus galau, makan generasi galau akan semakin eksis tentunya. Nah, kalau semakin eksis, kenapa postingan ini berjudul tidak berpihak kepada generasi galau?

Tak perlu heran, sepertinya beginilah salah satu wujud galau dalam urusan menulis postingan blog. Meskipun anak muda yang bisa masuk dalam kategori galau karena beban komunikasi yang bakal semakin berat, perubahan tarif SMS tetap saja menjadi suatu anomali yang, kacaunya, urusan menentukan pacar menuntut satu syarat, yakni label penyedia paket jasa telekomunikasi mesti sama. Kamu yang berlabel merah, mungkin akan pusing memikirkan seorang wanita yang menawan dengan label telekomunikasi berwarna hijau. Selain itu, beban pikiran untuk mengirimkan sebuah SMS semakin bertambah, awalnya yang diifikirkan hanyalah pertanyaan: "Dia mau balas, gak yah?", kini makin dipusingkan dengan kebingungan, "Aduh ngabisin pulsa aja!".

Tuhan, hindarkan saya dari efek galau dari perubahan tarif SMS !!!

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.