Saya tak Ingin Terbatas

Batas Pengetahuan
Harusnya saya sudah terlelap malam begini, tidur seperti biasa dibawah selimut yang membantu menghalau cuaca dingin ala Malang. Tapi seperti biasa, saya kesulitan tidur saat kepala yang menyimpan kata kerja berfikir dan berimajinasi belum lelah atau sedang menjamu tamu berupa macam-macam bahan fikiran, baik yang iya-iya maupun yang tidak-tidak.

Sambil menikmati koneksi internet, saya terhubung dengan teman-teman dan memiliki akses untuk mengintip halaman-halaman yang tersedia di jagad maya. Kutemuka semangat, ketika menikmati foto-foto oleh manusi berkulit putih dan kutipan kata-katanya dalam bahasa asing.

Kuintip juga beberapa akun facebook teman dan mengintip foto-foto yang terpajang didindingnya, dia bersama teman-temannya penuh senyum dan berpose sedemikian rupa di suatu tempat, dimana tak pernah kubayangkan bagaimana jika aku berada diantara mereka, di suatu tempat yang juga tak pernah kupikirkan ada.

Sungguh ada banyak tempat-tempat luar biasa yang belum kujejaki, banyak realitas yang belum kusaksikan, banyak ragam manusia yang belum kuajak bercakap dan menikmati jalan pikirannya. Sontak datanglah dorongan dalam diriku untuk membuktikan seberapa luas bumi ini dan seberapa asik isinya. Sungguh pengetahuan kitalah yang membatasi itu semua.

Terbatasnya pengetahuan menjadikan kita konservatif, sulit menerima kenyataan-kenyataan yang berbeda dengan kenyataan yang dialami setiap hari. Akibat sikap ini, jebakan rutinitas dan hidup yang terkesan monoton semaakin erat memenjara. Bayangkan bagaimana seorang petani hidup dengan sawahnya. Di pagi hari, setelah menunaikan ibadah subuh hari, dia sarapan lalu menuju ke sawah, di tengah terik matahari, dia pulang untuk istirahat, makan siang dan kembali beribadah, setelah itu kembali ke sawah hingga sore hari. Di malam hari, diisi dengan mengobrol atau menonton siaran televisi.

Berbeda dengan orang-orang yang kerjanya kesana-kemari untuk mengurusi bisnis antar negara, atau kesibukan menjadi dosen tamu/pembicara seminar di berbagai kampus, hingga keluar negeri. Sepintas, perbandingan ini terlihat kacau, terlalu naif. Tapi disinilah perumpamaan keterbatasan pengetahuan mempengaruhi.

Beberapa waktu lalu (maksudnya periode waktu yang cukup jauh) saya kesulitan membaca novel-novel impor dibandingkan produk lokal, kecuali novel dengan latar belakang realitas yang mudah kupahami karena tidak jauh berbeda dengan apa yang kualami. Saya selalu kesulitan dengan nama-nama yang digunakan dalam novel, kata-kata yang dipakai untuk mengkomunikasikan suatu benda tau pekerjaan, atau keterangan lain. Walaupun telah ditejemahkan dalam bahasa Indonesia, namun apakah "makan" yang dimaksud oleh penulis ataukah realitas yang ingin disampaikan penulis, sama dengan realitas yang kupahami sebagaimana "makan" kualami dalam realitas yang membentukku?

Pengetahuanlah yang membantu kita menikmati kata makan dalam novel asing dengan perangkat pemaknaan kepala kita untuk memahami makan. Atau misalnya kata cinta. Dengan pengetahuanlah, kita mengerti perbedaan, bahwa umat manusia di belahan tanah lainnya hidup dengan kebudayaan mereka sendiri dan tidak wajib menerima pendapat kita.

Sepertinya asik juga menikmati perbedaan
Ingin rasanya mengunjungi tempat-tempat luar biasa, melihat bagaimana orang-orang beragam ras hidup dengan kebudayaan masing-masing, berjabak dengan mereka dan merasakan perbedaan aura, kesan dan kekuatan mereka, berdialog dengan bahasa yang beragam, agar bisa kusadari bahwa lidah bisa digunakan sedemikian rupa dalam mengucapkan beragam huruf dan memahami bahwa 'a' tidak mesti berbunyi 'a' (dalam lidah orang Indonesia, atau 'a' dalam lidah orang Skandinavia.

Betapa indah bisa hidup bersama manusia-manusia yang beragam dan mengetahui hal-hal baru yang selalu membuatku sadar setiap harinya, bahwa yang membatasi kita adalah PENGETAHUAN. Dan untuk menjadi tidak terbatas, kita perlu berusaha untuk lebih dekat dengan sumber pengetahuan itu, bukan di toko kelontong, atau mall, bukan di sekolah atau universitas, bukan di suatu belahan bumi tertentu, tapi pada TUHAN dengan kalam ilahinya.

Demikian pucuk pikiranku membuatku kesulitan tidur malam ini, kutemukan jalur menuju paragra di atas setelah menyaksikan suatu pesan yang disampaikan seseorang dalam sebuah video saat saya mengakses youtube. Tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang, pengejawantahan sifat pengasihnya adalah dengan memberikan kita kaki dan bukti sifat penyayangnya adalah membuat kaki kita bisa berjalan (berfungsi). Saya tak tahu harus melanjutkan tulisan ini dengan bagaimana lagi, yang jelas: saya tak ingin terbatas.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.