Pohon Mangga

Matahari sudah condong ke barat, bayangan besar pohon mangga tampak mengekor di sebelah timur. Sepoi angin siang dan derai bunyi daun tak dihiraukan oleh Harung, suasana desa Marannu yang tenang memupuk rasa malasnya, sehingga dia tetap asik duduk di salah satu cabang besar pohon mangga, pandangannya mengarah ke ladang. Tampak sosok ibunya sedang khusyuk membungkuk, melepas polongan (tongkol) kacang hijau yang menghitam.

Harung menyandarkan dirinya pada batang pohon di belakangnya, kakinya menjulur ke bawah, melayang, atau malah seperti hendak memijak bumi namun selangkangannya tersangkut pada cabang besar pohon itu. Beberapa buah mangga yang kelihatan dibalik rimbun daun hanya diliriknya sejenak, tak ada niat menikmatinya.

Tak lama kemudian, seakan bunyi daun oleh sepoi angin belum menuntaskan sebuah lagu, adiknya berjalan dengan santai dan melintas di bawahnya, Narang tampak riang, langkahnya merupakan lompatan-lompatan kecil dengan suatu irama dari lagu yang dinyanyikan khayalannya.

“Maleeee”, Narang berteriak memecah tenang, menyelingi suara dedaunan. Sekilas pandangan mata, sang ibu bangkit dari bungkuknya, menaruh telapak tangan sejajar dengan alis seperti memberi hormat. Terik matahari mengganggu pandangannya, tangannya tidak banyak membantu menghalan silau cahaya. Dia tahu yang memanggulnya adalah Narang, tapi entah kenapa dia berusaha melihatnya.

Narang makin dekat, sang ibu kini menopang tubuhnya dengan mematok tangan di pinggung. “Kenapai, Narang?”, tanya sang ibu sambil melepas keluh oleh terik siang.

“Sendirianjaki? Manai Harung?”, Narang berbasa-basi.

“Ih, tidak adai di rumah?”.

“Tidak adai, nda adami orang di rumah”.

“Pergimi neneknu ke sawah? Takkunciji rumayya?”.

“Tidak, tapi kututupji”.

“Ih, piko kunci dulu!”, Kata sang ibu tanpa memperhatikan siapa yang disuruhnya. Narang adalah anak ingusan yang hanya tahu membuka dan menutup pintu yang tak terkunci, selain itu dia hanya bisa mengetuk, menggedor atau malah mengamuk dengan menganggap pintu sebagai lawan berkelahinya.

“Ka tidak bisaka”, kata Narang. Sang ibu pun sadar.

“Pulangmako paeng jagai rumaiiya!”, seru sang ibu. “Jammako panas-panas disini. Le’lengko sallang!”.

Narang pun bergegas pergi, berusaha berlari dengan cepat dan seimbang di atas pematang sawah yang tipis dan tidak rata. Tangannya dimekarkan sedikit sehingga jemarinya menabrak polong demi polong kacang hijau yang dijangkau tangannya. Dari jauh, dia kelihatan sangat lucu, jika dia berdiri sejajar dengan pohon kacang hijau, hanya leher dan kepalanya saja yang terlihat.

Jika pembaca tak ingin tertawa, jangan membayangkan sebait tulisan ini, langsung saja melompat pada paragraf selanjutnya. Pagi itu, Narang ikut memetik kacang hijau, dengan riang ia mempermainkan pematang dengan sangat kanak-kanak, berlari ke bagian yang tidak rata dan berpura-pura terjungkal, atau berjalan di samping ibu sambil mengngandeng tangannya, lalu diam-diam sengaja terperosok ke dalam sawah hingga ibunya kaget. Dikagetkan seperti itu, jelas saja ibu marah, tapi Narang membalas menyalahkan ibunya, “Kakita’ iyya kidorongan kesamping! Ihh ihh!”, Narang menunjukkan wajah cemberutnya.

Oia, ada lagi. Masih pada pagi yang sama. Ibu mulai khusyuk memetik polongan kacang hijau yang berwarna hitam. Di sudut lain, pada bidang sawah yang sama, Narang asik bermain dengan imajinasi kanak-kanaknya. Setelah bosan, ia pun melepas Saraong (topi petani) dan menyimpannya di pucuk beberapa pohon kacang dan pulang ke rumah seperti angin.

Setibanya di rumah, Ibu memanggil Narang dengan lirih, hendak menawarinya minum. Lama ia memanggil tapi Narang tidak menyahut, kesal karena Narang yang sedang asik menonton film Dragon Ball Z di rumah tidak menyahut, ibu berjalan ke arah Saraung yang digunakan Narang dengan hati-hati, takut menyakiti pohon kacang. Sebelum sampai, ibunya sadar bahwa Narang sudah tak disana.

Adzan berkumandang, Ibu pulang ke rumah untuk beristirahat dan beribadah. Sesampainya di rumah, ibu menimpali Narang, “Kenapa kupanggil-panggilki tadi tapi nda bilang-bilangki?”. Narang yang ditanya cuma bingung.

Itulah Narang sekilas cerita. Sekarang dia kembali melintas di bawah rimbun pohon mangga yang sedang memamerkan buah mudanya. Dari atas, Harung menjatuhkan sebuah mangga pada jejak kaki Narang yang kesekian. Sontak Narang kaget dan agak limbung mendengar suara itu.

“Ih mangga masak!”, bibirnya berucap tanpa disadarinya, kepalanya menoleh sana sini seperti seorang pramuka mencari arah, Narang seperti sumringah.

Narang kembali memeriksa jejaknya, meneliti lipatan-lipatan daun kering yang jatuh, berusaha mecari warna hijau kekuning-kuningan mangga diantara warna hijau rumput. Harung menahan tawa dengan cekikikan. “Manai mangga masaka?”, ucap Narang pelan, menuntut belas kasih kepada yang punya agar menunjukkan buah mangga yang terjatuh dan dianggap Narang telah matang.

Hanung bersiap menjatuhkan buah mangga sekali lagi, kini niatnya mendorong untuk menjatuhkannya tepat di hadapan Narang untuk membuatnya kaget. Dan benar saja, Narang kaget luar biasa, tangannya menempel ke dada dengan cepat, refleks manusiawi untuk mempertahankan dada. Langkahnya tak tercegah, ia melompat mundur dengan kepala menghadap bumi. Sungguh kaget yang luar biasa, kaki kiri Narang menginjak ranting bambu yang mengacung ke langit.

Harung yang mendengar Narang berteriak belum paham, dikiranya teriakan itu karena kaget. Akhirnya diapun sadar ketika dari jauh ibu berteriak, “Kenapako, Narang???”, dan Narang tergeletak mengeluh kesakitan dengan telapak kaki yang tertembus ranting bambu.

“Ooo Maleee!” keluh Narang.

Harung panik seketika, berusaha menolong adiknya secepat mungkin. Dan betul saja, dia turun dari pohon mangga dengan sangat cepat. Seperti buah mangga yang dijatuhkan tadi, ia menghantam bumi, ia berteriak. Kakinya patah!

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.