Menunggu Tabbi Datang ke Malang

"Kalo ada sumur di ladang, kalo bisa kopanaskan airnya baru kita buat kopi 1 sumur hahahaha", demikian komentar Tabbi pada sebuah status teman di Facebook. Lelaki penggila kopi ini mungkin berharap agar sungai di surga tidak mengalirkan susu, melainkan kopi.


Entah bagaimana memperkenalkan Tabbi kepada pembaca, saya kurang mengenal profilnya. Tabbi yang sekarang mengambang di kepalaku sepeti pecahan biji kopi yang mengapung di permukaan gelas, hanya kesan ramah, penuh tawa dan misteri (kesan yang tersirat dari kumis dan jenggutnya) yang mempertahankan dia pada memori itu. Intensitas bertemu juga sangat minim, hanya 2 kali, pertama saat saya masih berada di Gombara (penjara suci yang membina para berandal menjadi semakin berandal).


Lalu pertemuan kedua kalinya saat reuni kecil-kecilan di Jogja. Disana, kesan ramah dan penuh tawa purna, sampai-sampai tanpa bertemu sosoknya pun, tawa bisa pecah nyaris memperlebar ukuran bibir. Kupikir, andai saja Balotelli adalah orang Makassar dan duduk semeja dengan Tabbi, saling berhadapan, kesan angkuhnya pasti lenyap dikubur tawa sambil terpingkal-pangkal.


Tidak, Tabbi bukan pelawak. Setahuku begitu, karena tak pernah sekalipun kusaksikan ia tampil di layar kaca dan melawak.


Pria ganteng dengan hiasan jenggut dan kumis bak sebuah ornamen atau relief di wajahnya ini beberapa kali tidak berhasil datang ke Malang, sekalipun telah berkali-kali kuajak. Ajakan itu jelas alasannya, agar saya dapat hiburan setelah menyajikan segelas kopi untuknya, kalaupun alasan tersebut kurang jelas, masih ada alasan B yang kusiapkan, apakah itu? Tunggu setelah alasan pertamanya terbutkti tidak jelas.


Karena saya sendiri tidak sabar menyampaikan alasan B itu, biarlah kuumumkan. Jika ia datang ke Malang, ingin kuajukan pertanyaan serius; Apakah ia menyesal karena tidak terlahir sebagai musang, sehingga ia tidak bisa menikmati kopi sebelum dicap kopi luwak?


Semoga teman-teman penasaran dengan pertanyaan itu, dan mulai tergoda lalu tidak sabar menunggu Tabbi datang ke Malang, agar bukan hanya aku yang menunggunya, tetapi segelas kopi dengan beberapa kali adukan yang mempertaruhkan panasnya untuk menantikan kedatangan Tabbi secara buta-buta.


Tabbi dalam berbagai wajah







Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.