Menikmati Rasa Lapar ala Orang Biasa

Tentunya bukan hanya saya yang mengeluhkan rasa lapar, banyak teman yang sesekali menulis status di facebook atau menerbitkan twit dengan informasi bahwa dia lapar. Saya melalui blog ini saja, itupun sudah sangat berat rasanya, alasannya agak aneh, memberi tahukan kepada publik bahwa saya lapar sangat memalukan. Anak muda yang punya pengetahuan, punya tenaga, punya ide kok bisa diserang lapar.

Lalu lapar bagaimana yang kumaksud?

Simpel sekali, bukan perasaan lapar yang timbul lalu tenggelam begitu saja karena saat lapar menyerang, banyak orang yang selalu punya alat untuk menangkalnya sehingga rasa lapar itu hanyalah pertanda bahwa dia harus makan. Lapar yang kumaksud dalam catatan ini yakni sebuah peristiwa dimasa rasa lapar ini berlangsung dalam periode yang lumayan "menyiksa" dan orang lapar tidak punya alat untuk menangkal sebagaimana biasanya.

Jemariku dengan sabar menuliskan catatan ini sambil bergetar, sang jemari ini seperti menjadi peraduan antara kata-kata yang mengambang dan menuntut untuk dituliskan, perintah otak yang secara motorik melaksanakan teknik menulis, dan rasa lapar yang membuatnya sangat seksi dengan gemetarnya.

Lapar; tanda versus peristiwa
Saya ingin menguatkan suatu pesan bahwa rasa lapar bisa dinikmati. Bagi seorang yang merasakan lapar sebagai sebuah tanda, dia mungkin akan menemukan kenikmatan makanan saat pelan-pelan "kekosongan" lambung diisi dengan makanan favorit, namun menurutku itu tak seberapa, dalam kondisi yang demikian, rasa lapar hanya memendarkan perasaan lega ples satu kesadaran bahwa betapa nyamannya kondisi tubuh yang stabil.

Sementara itu, bagi pengecap rasa lapar sebagai sebuah peristiwa terkurung oleh jeruji-jeruji yang ditempa oleh pikiran dan kondisi biologis. Timpul suatu motivasi untuk keluar dari jeruji tersebut, sayangnya tidak semudah membalik telapak tangan, perlu pikiran yang masak-masak bagaimana mendapatkan makanan tanpa bertumpu pada alat yang berupa uang, atau jika hal tersebut terlalu naif, maka setidaknya pikiran yang timbul adalah bagaimana memiliki uang untuk mendapatkan penawar rasa lapar.

Jangan anggap kondisi lapar sebagai peristiwa sangat sederhana, cobalah sesekali jebak fisik teman-teman dalam kondisi tersebut, nikmatilah gamang fikiran ketika mengolah berbagai ide bagaimana rasa lapar di halau. Tekanan-tekanan tersebut sungguh nikmat rasanya, dramatik dan reflektif, teman-teman dituntut untuk membangun suatu konsep survival, bukan hanya suatu usaha mencari jalan keluar dari peristiwa lapar, namun memanfaatkan peristiwa tersebut untuk menguasai tubuh dan mempertajam konsentrasi.

Proses yang demikianlah yang membuatku cenderung bersikap tenang dalam kondisi tertekan, terjepit atau sedang tersiksa. Dengan bermodal ketenangan, saat mengalami peristiwa lapar, saya tidak buru-buru untuk menghalaunya, melainkan merefleksikan kondisiku seperti mengkritisi kenapa saya harus mengalami peristiwa lapar, bagaimanan agar hal seperti ini tidak terulang terus-terusan, dan suatu refleksi dengan membandingkan pristiwa laparku dengan kondisi sebagian orang yang hidup terbatas dengan bayang-bayang kelaparan.


Satu segmen obrolan
sore itu, di salah satu warung kopi, bersama dua teman saya menikmati secangkir kopi susu. Seorang teman mendapatkan ejekan bahwa dirinya hidup hanya untuk mengurusi rasa lapar saja.

Saya yang mengejeknya seperti itu, lalu kuberikan saran padanya bahwa uang yang dia miliki jangan dihabiskan untuk membelu makan, tetapi belilah tenaga. Dia mengerutkan dahi, merasa dipermainkan. "Tenaga itu dari makanan, Cheng", katanya dalam nada protes.

"Betul sekali", Kataku.
Kau mengerti bahwa makanan itu untuk menghasilkan tenaga, bukan sekedar kotoran. Masalahnya kenapa kau tidak pernah kelihatan bertenaga.

"Maksudmu?"

"Kalau saja kau makan untuk mendapatkan tenaga, kau pasti terlihat segar dan siap untuk bekerja. Jika kau bekerja, kau akan mendapatkan manfaat dari makananmu, belum lagi jika pekerjaan itu bermanfaat untuk orang lain".

"Nah, kau pikir sendiri sajalah, berapa kali kau makan dalam sehari, dan seberapa besar porsinya?", kataku dengan nada menyerang, berusaha menguasai pembicaraan, sebentar lagi akan kuarahkan dia pada maksud ejekanku tadi.

"Kenyataannya, kau lebih kelihatan lemas dibandingkan bertenaga, padahal kau makan paling kurang 2 kali dalam sehari bukan?".

Temanku yang tadinya mengerutkan dahi dan mencoba memprotes sedikit tersenyum, jelas maksud senyumnya untuk meminta diriku tidak terlalu kasar menekannya.

Sore itu, kopi susu kami tandaskan dengan apungan semangat dalam bayang-bayang memori di kepala. Belilah tenaga, jangan membeli kotoran manusia.

Bagiku, dengan peristiwa lapar, kita berpotensi untuk lebih menghargai makanan, uang, dan kerja keras. Belum lagi jika peristiwa tersebut menunjukkan suatu kenyataan halus dalam benak, bahwa demikianlah orang-orang miskin hidup.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.