Makanan dan Minuman Favorit

Makanan favorit saya tembok dan minumannya air hujan yang lolos dari genteng melalui celah sempit. Entah apa maksudnya, saya sendiri bingung dengan kalimat di atas, apalagi Musa yang sudah seminggu telah dibayang-bayangi kalimat itu. Beberapa hari lalu, dia merobek kertas lusuh yang memuat kalimat aneh ini, namun tak berselang beberapa lama, dia berteriak-teriak bak wanita kesurupan roh pria.

Musa sibuk menghambur kotak perkakas, isinya terhambur ke lantai, tak ditemuinya lakban untuk menyatukan kembali sobekan kertas yang berai oleh emosinya. Akhirnya ia bergegas ke dapur, mengambil sesendok nasi dan mamanfaatkannya sebagai perekat.

Musa mulai dihantui oleh kalimat yang belum tentu menyimpan suatu makna. Rambutnya nyaris tanggal karena ditarik berulang kali, diacak, digaruk, ditebas-tebaskan dengan tangan. Makanan favorit saya tembok dan minumannya air hujan yang lolos dari genteng melalui celah sempit.

Ditengah frustasinya, ia menemukan sedikit celah untuk meloloskan diri dari tembok-tembok logikanya. Dia mencoba mendongak sedikit dari jebakan kata dengan makna yang belum ada. Terang binar matanya setelah sosokku hadir pada bayang di dimensi lain kepalanya. Disanalah saya mulai ikut terjebak dalam permainan petak umpet makna yang sama sekali tolol.

Musa : Kau bisa memaknainya?

Saya : Untuk apa, Musa?

Musa : Tentu saja untuk mengetahui apa maknanya!

Saya : Iya, maksudku untuk apa kau mengetahui maknanya?, mau kau apakan makna itu?

Musa : Pertanyaan seperti menuntutku untuk kembali ke universitas dan menyibukkan diri dengan tugas-tugas mahasiswa strata 1.

Saya : Melihat kondisimu sekarang ini, sepertinya itu tuntutan yang bagus.

Musa : Kau tidak mengerti, pesan itu merangkum makna-makna tertentu, jika kita tak peduli dengan makna, maka pesan itu hanya berupa suatu kode perintah yang diisntal pada robot. Kau bukan robot bukan?

Saya : Haruskah kujawab pertanyaan bodoh itu? dengar, Musa! Makna itu ditentukan oleh penerima pesan. Maka tentukanlah makna kalimat itu sesuka hatimu, sekehendakmu, segila-gilanya kepalamu memaknai kalimat itu.

Musa : Saya tau itu. Tapi...

Saya : Kau tak perlu berlagak seperti analis yang berusaha mati-matian memperhatikan wacana untuk berspekulasi menggambarkan realitas. Ingat, analisa itu jebakan pengetahuan!

Musa : Hemm? Kau mengagetkanku dengan kata-katamu itu!

Saya : Coba analisa pemberitaan media, pisau analisamu pasti menuntut pada suatu simulakra realitas, dari sana kau merepresentasikan suatu rangkaian kejadian-kejadian yang akan terjadi. Disanalah jebakannya, kau menggiring makna wacana kepada jalur-jalur informasi yang terangkai dalam kepalamu. Jika kau bisa menyadari, bagaimana cara iklan memperkuat dirinya dan memaksa kita untuk mengkonsumsi? tentu saja dengan menumpahkan segala bentuk informasi-informasi yang mengarah kepada kepentingan kita.

Musa : Oke....

Saya : Arus informasi di otak kita akan saling kait-mengaitkan antar satu informasi dengan informasi lain dengan suatu sistem logika khas. Jika kondisinya seperti itu, kau hanya menganalisa wacana dengan jalur informasi yang itu-itu saja.

Musa : Lalu, tanpa analisa, bagaimana mengetahui maksud tertentu yang terdapat dalam pesan?

Saya : Pikirkan sejenak bagaimana otakmu mengolah informasi. Mungkin bagi kau, akan timbul pertanyaan-pertanyaan tertentu untuk beragam informasi yang terekam dalam otakmu, tapi apakah pertanyaan itu berarti menyaring informasi?

Musa : Tentu saja, bertanya berarti meragukan informasi itu.

Saya : Betul kau memang meragukan, tapi informasi itu tetap terekam pada otakmu. Dan pada suatu kondisi tertentu, informasi itu akan kembali pada arus lalu lintas informasi di otak saat memikirkan persoalan lain.

Musa : Baiklah. Sekarang, bagaimana jika kita permudah persoalan ini.

Saya : Maksudmu?

Musa : Bagi kepalamu, dengan sejumlah informasi yang telah terekam sebelumnya. Apa arti kalimat itu?

Saya : Tidak ada!

Musa : Lalu mengapa kau menulis kata-kata itu? mengapa kau menulis tentang aku yang frustasi dengan kalimat itu? lalu dijebak oleh obrolan bak mahasiswa strata 1 yang membosankan ini?

Saya : Eemmm, karena saya hanya ingin menulis seperti ini. Sekedar mengisi waktu luang saja!

Musa tak lagi merespon, ia kembali bersembunyi dalam imajinasiku!

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.