Pemuda yang Dilupakan Ingatannya


Namaku Tiwa, Khatulistiwa lengkapnya, Seorang petani menemukanku di bibir pantai pulau sanrobengi ketika dia dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi kerabat lamanya yang baru saja pulang dari berlayar. Aku tak tahu diriku lebih jauh.

Adikku, Tari, yang mengatakan padaku bahwa umurku sekarang 26 tahun, entah benar atau salah, yang kutahu, dia menyebut angka 26 dengan setelah menelusuri garis-garis parasku, menaksir angka 26 adalah angka yang yang sesuai untuk menjelaskan umurku, tapi aku merasa tidak setua itu. Bukan karena aku ingin menghindar dari kenyataan umur yang menjelaskan bahwa aku sudah dewasa, sama sekali bukan. Aku merasa, dan sangat yakin bahwa aku adalah pendatang baru di dunia ini, mengkin sebulan yang lalu.

Pak Itung, sering disapa Daeng Ngitung, tak pernah bercerita banyak kepadaku, tapi dia sangat sabar menuntunku mempelajari bebagai hal, yang paling berat adalah beristirahat di waktu dzuhur dan sehabis magrib. Aku selalu berfikir, Siapa aku?.

Tari yang tahun ini akan mengakhiri pendidikan SMA sangat gemar mengajakku berbincang di waktu senggang atau ketika aku dan pak Itung tidak sibuk mengurus sawah, Dia pernah bercerita, bahwa sebenarnya aku lupa ingatan, ada tanda benturan keras di bagian belakang kepalaku yang membuktikannya, pak Itunglah yang merawatku, menghubungi dokter kampung dan memberiku obat-obatan alami sehingga aku tetap hidup katanya, aku tidak mengerti.

Kegalauanku memuncak ketika aku dikejar suatu bayang-bayang, ada rasa rindu atau sepertinya kesadaranku terbelah dua, kadang aku merasa hidup pada suatu kurun waktu dan lingkungan yang berbeda, di malam hari ketika seisi rumah sudah tertidur lelap, kegalauan itu memuncak dan berhenti dengan sendirinya tanpa kusadari, yang kutahu, aku terbangun di pagi hari oleh aroma kopi dan suara gemerisik minyak goreng yang mendidihkan pisang untuk sarapanku.

Benarkah aku pria dewasa yang sudah hidup 26 tahun lamanya? Lalu apa yang telah aku perbuat selama itu?

-------------------

“Kenapa, kak? Kok murung?”. Tari menyedarkanku

 “Oh,, hehehe, biasalah gak ada kerjaan, jadi lebih enak melamun”.

 “Kak?”.

 “Kenapa de?”.

 “Kakak pernah merayakan ulang tahun?”.

 “Entahlah, kenapa dengan ulang tahun?”.

 “Lusa, aku ulang tahun”. Dia tersenyum.

 “Tari Lebih tahu ulang tahun dari kakak berarti. Kakak malah tidak tahu kapan harus berulang tahun”.

 “hehehehe, kakak betul-betul kasihaan”.

 “Hahahaha, Selamat yah”. Aku terbahak lebih gemuruh.

 “Kak, bagaimana kalau ulang tahun kakak dirayakan lusa, sama dengan ulang tahunku”.

 “Hem?”. Aku terbelalak mendengarnya. Ulang tahun? Kataku dalam hati. Bahkan aku tidak pernah memikirkan bahwa aku pernah dilahirkan.

 “Kenapa kak?”.

 “Kakak bingung ahhh, kakak tidak pernah memikirkan ulang tahun”.

 “Ahh kakak”. Tari memelas, cemberut. Dia tidak nampak sebagai remaja yang dewasa dan mandiri dengan sikap ini, aku senang menyaksikan perubahan sikapnya seperti ini, aku mengamatinya diam-diam.

 “Memangnya kenapa kalau kakak tidak ikut ulang tahun? Bukannya ade yang berulang tahun?”.

 “Kakak tidak mengerti Tari ahhh”. Dan dia semakin kecut kelihatannya, aduhai siapa gerangan yang menguasai adikku ini, dia merubah dirinya menjadi orang lain dengan cepat begini.

 “Maafkan kakak, dek. Kakak betul-betul bingung”. Ada kata yang putus dari lidahku, aku kesulitan mengungkapkan kebingunganku.


____________________________


Aku tak mungkin berkeluh kesah pada pak Itung, dia terlalu tua untuk memikirkan masalahku, kepada Tari? Ahhh, sebenarnya adikku ini cerdas, dia cepat mencerna maksud orang, cuma ada saja perasaan menolak menyampaikan keluhku padanya, seperti ada benteng penghalang yang terus saja menghalangi. Akhirnya aku melampiaskannya pada tanah di sawah saat mencangkul, atau pada batang pohon pisang jika pak Itung menyuruhku meenebang pohon pisang yang sudah cukup tua di kebun belakang rumah. Di malam hari? Aku sudah mulai membiasakan diriku untuk berlari di tempat atau sekedar berjalan bolak-balik hingga aku lelah, pelan-pelan aku melampiaskan adrenalin yang dipacu oleh kekuatan aneh, ada bara yang disundut dalam jiwaku.

“Kamu kenapa, nak?”, Tanya pak itung. Kami sedang mengambil jeda saat menyemai gabah untuk bibit di sawah.

Aku tertahan, kopi dalam canteng besi berhenti di wajahku, aku menatap bayangan hitam diriku di dalamnya. Aku menoleh menatap pak Itung, tapi dia menatap ke wajah anaknya yang sedang sibuk membuka rantang berisi bekal kami.

“Beberapa hari ini kulihat kau menyimpan sesuatu, apa yang kau pikirkan nak?”.

Aku mengambil jeda, “Entah bagaimana menyampaikannya, pak. Aku sendiri merasa kabur dengan apa yang kupikirkan, aku lebih sering berkhayal dibandingkan berfikir”.

Pak Itung menepuk pundakku.

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa pak!. Aku tidak mengerti bagaimana ceritanya aku berumur 26 tahun, aku bingung memikirkan apa yang harus kulakukan besok, setiap hari aku ikut saja apa yang bapak katakan padaku, kupikir ….”. Ucapanku tertahan lagi. Tari menatapku dengan senyum.

“Nak, bapak pun tak tahu cerita hidupmu selama ini, yang kutahu, aku menemukanmu terdampar di pulau itu, bapak tak tahu kau berasal dari mana. Tapi jangan kau merasa bahwa bapak memungutmu dan tidak memperlakukanmu sebagai anakku sendiri, si tari butuh kakak, nak!”.

“Tidak pak, aku bisa merasakan ketulusan bapak dari putihnya nasi yang kumakan, aku merasakan berkah keikhlasan bapak di setiap suap nasi dan ikan bakar itu pak”. Aku menyerahkan canteng besi ke pak Itung setelah meneguk kopinya.

“Kamu jangan habiskan waktumu dengan khayalanmu itu”.

“Tapi aku membutuhkannya pak, aku merasa aneh saja menjadi laki-laki berumur 26 tahun yang tidak bisa memperkenalkan dirinya”.

“Nak, aku tahu bagaimana sejarah hidup sangat berarti untuk kita, aku punya sejarah hidupku. Tapi sejarah itu hanya jejak masa, nak. Kamu tidak membutuhkannya”.

“Aku merasa kabur tanpa mengenali diriku”.

“Nak, mengenali dirimu bukan berarti kau harus tahu bagaimana kamu hidup selama 26 tahun atau lebih. Bukan sama sekali, nak! Yang harus kau lakukan adalah membuat masa depanmu”.

“Tapi aku membutuhkan cerita itu untuk bisa melihat masa depanku”.

Pak Itung berdiri, menggenggam cangkulnya dan mulai menyusuri sisi barat dari area penyemaian benih.

“Sabar, kak!”. Tari duduk di sampingku, aku merasa menyatu dengan pematang sawah.

“Bapak pernah bilang padaku waktu aku kecil, seharusnya aku melanjutkan cita-cita bapak di masa muda, pergi ke kota menjadi pelajar dan bejerja. Tapi aku boleh memilih apa yang menjadi keinginanku kelak, aku bukan penjelmaan dirinya, katanya”.

“Kakak mengerti”.

“Andai saja bapak mau, dia takkan membiarkanku meneruskan sekolah sejak aku lulus SD. Dulu bapak sampai pergi dari rumah selama sebulan karena kakek tidak membiarkan bapak melanjutkan sekolah di universitas. Katanya, kakek tidak butuh anak yang punya titel sarjana, kami adalah keluarga petani, keturunan petani, kehidupan kami adalah sawah-sawah ini”.

“Lalu?”.

“Bapak kembali ke rumah, menjadi pendiam dan bekerja semakin giat dari yang biasanya, dia melampiaskan kekesalannya pada sawah, ketelatenan bapak mengurus sawah bukan karena rajin atau bapak memang pekerja keras, melainkan bapak melampiaskan kekecewaannya”. Cerita tari bertahan, kulihat pak Itung menjatuhkan cangkulan terakhirnya dengan tegas, lalu ia tinggalkan. Ia mendekat padaku.

“Cankul itu untukmu nak, terserah kau gunakan untuk mencangkul tanah dan memperhatikan apa yang dikandungnya atau apa yang pernah terjadi padanya saat dia di atas, musim lalu. Atau kau gunakan untuk sukses panenmu esok hari!”.

Tari membereskan bekal, segera dia mengikuti langkah pak Itung. Aku menggali kuburanku dengan cangkul pak Itung. Aku berhutang ulang tahun pada Tari.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.