Pameran Aksen; Komunikasi Antar Budaya Mop Papua

Mop merupakan suatu cerita-cerita lucu khas Papua. Mop Papua sedang mengalami perkembangan yang cukup baik sejak video-video serial yang dikemas dalam “cover” Epen kah? Cupen toh, ramai di Youtube.

Pesatnya perkembangan Mop Papua selain dipengaruhi oleh publikasi melalui media massa (internet) juga didorong oleh keberadaan mahasiswa atau anak muda serta khalayak umum asal Papua di berbagai daerah. Sebenarnya bukan hanya orang papua yang berperan dalam usaha mempopulerkan budaya Mop Papua, melainkan orang-orang secara umum yang berasal dari daerah timur Indonesia, Nusa Tenggara, Maluku dan Sulawesi.

Dalam sebuah video pendek serial Epen kah? Cupen toh berjudul “Belajar Membaca”, dapat kita lihat bagaimana unsur-unsur keragaman budaya Indonesia direpresentasikan ke dalam beberapa aksen yang mewakili system budaya (aksen) yang utama di Indonesia. Representasi keberagaman aksen dalam video tersebut seakan sebuah pameran yang menyegarkan kesadaran akan budaya Indonesia yang beragam. Dalam video ini, aspek komunikasi antar budaya menjadi muatan yang menjadi fokus catatan ini.


Ada apa dengan Budi? 
Perlu diperhatikan dalam video humor tersebut, beberapa orang sedang belajar membaca. Setiap murid diperintahkan membaca tulisan yang tertera di papan tulis. Praktis, para murid yang merepresentasikan keragaman aksen Indonesia membacanya dengan gaya masing-masing. Sehingga walaupun tulisan tentang “si Budi” di papan tulis tidak dibaca secara baku bagaimana teks yang tertulis, melainkan dikontekstualisasikan kepada sistem bahasa masing-masing.

Yang perlu dipertanyakan adalah, mengapa “si Budi”?. Jawabannya tentu saja karena setiap orang sudah umum dengan nama dan teks-teks yang memperkenalkan budi dan keluarganya. Ini adalah pendidikan yang dialami oleh siswa di Indonesia secara umum, dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua. Hal ini berarti bahwa “si Budi” merupakan simbol pemersatu keragaman Indonesia. Jika memformulasikan motto Bhinneka Tunggal Ika dalam suatu fenomena, maka “Si Budi” inilah simbol itu.





Aspek Komunikasi Antar Budaya
Sebagai bangsa dengan keragaman budaya, fenomena komunikasi antar budaya sangat mudah di temui, dalam video berjudul “Belajar Membaca” tersebut merupakan suatu lelucon bagaimana keragaman budaya “menyentuh” hal yang unity.

Proses komunikasi antar budaya terjadi dalam kelas tersebut. Komunikasi antar budaya bukan dipengaruhi karena orang-orang hadir dalam kelas itu adalah murid yang berasal dari beragam suku, akan tetapi mereka hadir di kelas dengan tetap menunjukkan identitas kebudayaan mereka, ekstrimnya, tak ada yang mendominasi suatu gaya bahasa atau aksen dalam kelas tersebut sehingga proses komunikasi lebih mudah.

Berbeda halnya jika setiap murid, walaupun berasal dari beragam suku dan sistem budaya, hadir dengan mengadaptasikan budaya mereka terhadap budaya pada lingkungan dimana dia berada, proses adaptasi mendorong adanya suatu akulturasi sehingga budaya kecil/marginal akan terkikis. Yang dibutuhkan adalah pemahaman akan keberagaman, sehingga setiap orang bebas mengungkapkan sesuatu sebagaimana tuntutan budayanya.

Melalui film ini, proses komunikasi antar budaya dikemas menjadi sebuah produk yang mampu menghibur. Kondisi ini menunjukkan bahwa bagaimana keragaman budaya yang saling berinteraksi atau “tampil” dalam satu lokasi (ruang kelas) dan membicarakan satu pokok yang umum (universal) bagi kalangan orang Indonesia (khususnya dunia pendidikan), sangat menarik dan menghibur. Di sisi lain, komunikasi antar budaya secara umum menjukkan bahwa masing-masing memiliki gaya dalam mengungkapkan sesuatu yang baku.


Lingkungan Pendidikan Multikultur
Aspek pendidikan multikultur ditonjolkan dalam video tersebut, walaupun kesan video ini nyeleneh, ada muatan pesan yang kuat terkait dengan kegiatan belajar-mengajar dalam kondisi multikultur, yakni menghargai keberagaman peserta didik dalam suatu proses pendidikan.

Wacana pendidikan multikultur di Indonesia masih sangat minim, padahal melalui pendidikanlah keberagaman dapat dipahamkan melalui serangkaian sistem/metode pendidikan. Dengan suasana pendidikan multikultur, para peserta didik dengan pelan-pelan akan sadar bahwa Indonesia beragam dan keberagaman itu “asik”. Selain itu, lingkungan multikultur juga mendorong orang untuk memahami budaya orang lain, sehingga ancaman konflik yang disebabkan oleh perbedaan sistem kebudayaan dapat diminimalisir.

Seperti yang sudah disampaikan di atas bahwa komunikasi antar budaya menjadi bahan hiburan yang menarik. Dalam dunia pendidikan, keragaman budaya dapat menjadi materi pendidikan yang juga menarik, misalnya bagaimana suatu budaya menanggapi (response) suatu fenomena. Dalam video humor “Belajar Membaca” misalnya menunjukkan bagaimana suatu budaya membaca “Si Budi.

Mengenal Ucheng Orangbiasaji

Ahmad Husain (Ucheng), Tidak lulus kuliah, anak petani, itu saja..
Saya hanya orangbiasaji :) ...
berusaha menikmati keindahan penciptaan pada hal-hal biasa di sekitarku.